Bersalahkah Ba'asyir?

Kompas.com - 16/06/2011, 07:39 WIB
EditorHeru Margianto

JAKARTA, KOMPAS.com — Perhatian masyarakat di Indonesia ataupun internasional akan tertuju pada sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan saat terdakwa teroris Abu Bakar bin Abud Ba'asyir alias Abu Bakar Ba'asyir (73) divonis majelis hakim.

Vonis saat ini merupakan vonis ketiga kali untuk Ba'asyir. Kali ini, Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) itu dijerat sebagai auktor intektualis kasus pelatihan bersenjata api di Pegunungan Jalin Jantho di Aceh Besar pada Februari 2010. Pelatihan tersebut diikuti sekitar 30 peserta.

Perhatian publik telah diberikan sejak penangkapan Ba'asyir di sekitar Banjar Patroman, Ciamis, Jawa Barat, Senin (9/8/2010) oleh Densus 88 Antiteror. Sejak itu hingga proses di pengadilan, Ba'asyir terus menuding kasusnya direkayasa.

Silang pendapat antara Ba'asyir dan pihak Polri dan Kejaksaan terus terjadi. Jaksa menilai, berdasarkan fakta di persidangan, Ba'asyir terbukti merencanakan pelatihan bersama Dulmatin alias Yahyah Ibrahim alias Joko Pitono, menggerakkan para peserta, hingga mengumpulkan dana hingga Rp 1 miliar untuk pelatihan.

Memang, keterangan para saksi yang juga terdakwa cenderung menyudutkan Ba'asyir. Seperti kesaksian Lutfi Haidaroh alias Ubaid, anggota Majelis Syuro JAT, yang menyebutkan bahwa Ba'asyir pernah bertemu Dulmatin di sekitar Pondok Pesantren Ngruki pada Februari 2009 . Menurut jaksa, pertemuan itu merencanakan pelatihan.

Mengenai pengumpulan dana, Hariadi Usman dan Dr Syarif Usman mengaku memberikan uang untuk kegiatan jihad atas permintaan Ba'asyir. Ubaid juga mengakui mengumpulkan dana dari berbagai pihak atas perintah Ba'asyir. Salah satu dana yang diterima Ubaid langsung dari Ba'asyir digunakan untuk survei lokasi di Aceh.

Dana yang dikumpulkan Ubaid diserahkan kepada Dulmatin dan Abdullah Sonata, sebagai pimpinan pelatihan. Uang tersebut lalu digunakan untuk membeli senjata api berbagai jenis dan amunisinya, transportasi, logistik, peralatan perang, dan keperluan lain.

Tak hanya itu, Ubaid mengakui didanai Ba'asyir selama pelarian setelah lokasi pelatihan digerebek oleh polisi. Ba'asyir juga disebut pernah menerima laporan perkembangan pelatihan dan masih banyak hal-hal yang menyudutkan lainnya.

Atas keterlibatan itu, pria kelahiran Jombang, 17 Agustus 1938, itu dituntut jaksa dengan hukuman penjara seumur hidup sesuai dengan Pasal 14 jo Pasal 11 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme. Dia lolos dari ancaman hukuman mati setelah dinilai tidak terbukti terlibat dalam pengadaan senjata api dan bahan peledak serta tidak terlibat dalam penyerangan dan perampokan yang dilakukan para kelompok teroris.

Sebaliknya, pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki di Solo tersebut menolak seluruh dakwaan dan pengakuan saksi-saksi. Ba'asyir mengaku tidak pernah mengenal dan bertemu dengan Dulmatin. Ba'asyir juga menolak jika uang yang dia kumpulkan dari berbagai pihak dipakai untuk kegiatan Aceh. Dia mengklaim dana itu digunakan untuk kegiatan JAT, salah satunya kegiatan amal.

Alibi Ba'asyir, dia pernah diajak oleh Ubaid dan Abu Tholud untuk menggelar jihad di Aceh. Namun, ia mengaku tidak sependapat lantaran JAT belum siap berjihad dengan senjata api. Ba'asyir mengaku tidak dapat melarang pelatihan tersebut lantaran sesuai dengan perintah Allah atau i'dad. Alasan itulah yang berkali-kali dipakai Ba'asyir untuk membela diri.

Ba'asyir mengklaim keterangan para anak buahnya tersebut direkayasa oleh Polri. Penilaian Ba'asyir itu lantaran mereka bersaksi melalui telekonferensi. Ba'asyir tak bersedia mengikuti sidang setelah majelis hakim mengizinkan 16 saksi memberikan keterangan melalui telekonferensi.

Hari ini majelis hakim yang diketuai Herri Swantoro akan memberikan penilaian atas dugaan keterlibatan Ba'asyir itu. Herri memastikan putusan bebas dari kepentingan dan intervensi. Bersalahkah Ba'asyir? Kita tunggu saja....

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Gus Yahya Tegaskan NU Dilarang Berolitik Praktis, Pengurus yang Dukung Bakal Capres Ditegur

    Gus Yahya Tegaskan NU Dilarang Berolitik Praktis, Pengurus yang Dukung Bakal Capres Ditegur

    Nasional
    Mantan Bupati Kepulauan Talaud, Sri Wahyumi, Kembali Masuk Penjara

    Mantan Bupati Kepulauan Talaud, Sri Wahyumi, Kembali Masuk Penjara

    Nasional
    Menyoal Pengambilalihan Ruang Udara Strategis RI dari Singapura yang Belum Berakhir

    Menyoal Pengambilalihan Ruang Udara Strategis RI dari Singapura yang Belum Berakhir

    Nasional
    Ekstra Puding Jadi Bayaran Bupati Langkat untuk Penghuni Kerangkeng yang Dipekerjakan

    Ekstra Puding Jadi Bayaran Bupati Langkat untuk Penghuni Kerangkeng yang Dipekerjakan

    Nasional
    Anak Eks Pejabat Ditjen Pajak Diduga Turut Cuci Uang: Beli Jam Tangan Senilai Hampir Rp 900 Juta

    Anak Eks Pejabat Ditjen Pajak Diduga Turut Cuci Uang: Beli Jam Tangan Senilai Hampir Rp 900 Juta

    Nasional
    KSP: Pengambilalihan Pengelolaan Wilayah Udara di Kepri Tegaskan Integritas Teritorial NKRI

    KSP: Pengambilalihan Pengelolaan Wilayah Udara di Kepri Tegaskan Integritas Teritorial NKRI

    Nasional
    Indonesia Ambilalih FIR di Kepri, KSP: Selanjutnya Pastikan Kesiapan Infrastruktur

    Indonesia Ambilalih FIR di Kepri, KSP: Selanjutnya Pastikan Kesiapan Infrastruktur

    Nasional
    Kronologi Perubahan Nama Satuan Elite TNI AU Korps Paskhas Jadi Kopasgat

    Kronologi Perubahan Nama Satuan Elite TNI AU Korps Paskhas Jadi Kopasgat

    Nasional
    Johan Budi 'Ceramahi' Pimpinan KPK: Tak Ada Gunanya Ajari Orang, kalau Anda Tak Berintegritas

    Johan Budi "Ceramahi" Pimpinan KPK: Tak Ada Gunanya Ajari Orang, kalau Anda Tak Berintegritas

    Nasional
    Ketum PBNU Tegur PCNU Banyuwangi dan Sidoarjo karena Dugaan Terlibat Politik Praktis

    Ketum PBNU Tegur PCNU Banyuwangi dan Sidoarjo karena Dugaan Terlibat Politik Praktis

    Nasional
    Ketua DPR Harap Perjanjian Ekstradisi RI-Singapura Kuatkan Komitmen Penegakan Hukum

    Ketua DPR Harap Perjanjian Ekstradisi RI-Singapura Kuatkan Komitmen Penegakan Hukum

    Nasional
    Eijkman Jelaskan Efektivitas Vaksin Booster Lawan Varian Omicron

    Eijkman Jelaskan Efektivitas Vaksin Booster Lawan Varian Omicron

    Nasional
    Kerangkeng Manusia di Langkat, Pimpinan Komisi III Minta Penegak Hukum Tak Pandang Bulu

    Kerangkeng Manusia di Langkat, Pimpinan Komisi III Minta Penegak Hukum Tak Pandang Bulu

    Nasional
    Airlangga Sebut Penyandang Disabilitas Bisa Jadi Mesin Penggerak Perekonomian

    Airlangga Sebut Penyandang Disabilitas Bisa Jadi Mesin Penggerak Perekonomian

    Nasional
    Aliran Dana Pencucian Uang Mantan Pejabat Ditjen Pajak Diduga Sampai ke Eks Pramugari Siwi Widi Purwanti

    Aliran Dana Pencucian Uang Mantan Pejabat Ditjen Pajak Diduga Sampai ke Eks Pramugari Siwi Widi Purwanti

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.