Terima Kasih, Gus Dur

Kompas.com - 12/06/2011, 05:14 WIB
Editor

Keberadaan bissu beserta kebudayaan dan seni tradisi yang menyertainya selama ini diombang-ambingkan oleh situasi politik di negeri ini. Hal yang sama dialami oleh berbagai kebudayaan lokal di Indonesia. Menghilangnya warisan budaya kuno menandai kehancuran penanda peradaban, yang bisa membuat Indonesia kehilangan rohnya sebagai bangsa yang terdiri atas beragam kebudayaan.

Seperti dikatakan Prof Dr Nurhayati, pada zaman DI/TII, banyak naskah La Galigo dibakar, dirusak, dan kalau ketahuan menyimpannya bisa dihukum. Pada masa itu, bissu dikejar-kejar mau dibunuh. ”Mereka dianggap penyembah berhala. Padahal, itu cara bissu berterima kasih kepada dewata karena tanaman dan pohon-pohon tumbuh dengan baik. Itu hanya simbol,” kata Saidi.

Tahun 1965 para penganut To Lottang harus masuk Hindu, salah satu dari lima agama resmi (saat itu). Bissu dikejar-kejar, bahkan dianggap komunis karena agama lokal tak diakui.

Imbas peristiwa itu berlangsung sampai tahun 1970-an. Saidi mengenang, ”Dulu kalau tidak datang di acara gotong royong, bisa dihukum. Sampai tahun 1980-an, kami masih sering dilempari batu. Mereka bilang kalau melihat bissu bisa sial 40 hari karena bissu tak bersyukur pada Tuhan.”

Baru tahun 1993, penerimaan terhadap bissu berangsur kembali meski tetap ada kelompok yang tak ingin tradisi bissu muncul lagi. ”Bupati Pangkep waktu itu mau menyunatkan anaknya dengan adat raja. Bissu dipanggil untuk upacara. Alhamdulillah, yang dulu sangat membenci Puang Matoa, sekarang mau datang ke rumah saya.”

Ia melanjutkan, ”Waktu Gus Dur menjadi presiden, semua membaik. Adat dan agama sudah benar-benar sejalan. Adat tetap ada, agama juga ada. Adat memang lebih dulu daripada agama, tetapi adat tetap ikut pada agama. Gus Dur buta, tetapi hatinya terbuka. Semua itu ada di sureq.”

Analogi tangga

Menurut Saidi, sekarang ada 40 bissu. Bissu dewata ada di Segeri, tertinggi tingkatannya dibandingkan dengan bissu dari daerah lain. Bissu dipilih dewata, begitu keyakinannya. ”Ada petunjuk,” ungkapnya. ”Sudah ada bissu yang dipersiapkan sebagai Puang Matoa yang menggantikan saya. Jadi, saya ikhlas kalau harus ’pulang’ sekarang.”

Nama calon penggantinya Muharram. ”Dia dua bersaudara, keduanya waria. Satu ke adat, satu ke modern,” ungkap Saidi.

Dalam terminologi di situ, waria adalah kawe-kawe. Bissu adalah calabai, tak boleh berhubungan seks, harus menjaga kesucian karena dalam kebudayaan Bugis Kuno dia adalah penghubung manusia dengan dewata. ”Kalau melanggar sumpah, bisa celaka,” kata Saidi. Namun, ia mengeluh, ”Sekarang banyak yang menjadi bissu karena uang.”

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ada Lembaga Masih Minta Fotokopi KTP-el, Ini Dugaan Dirjen Dukcapil

Ada Lembaga Masih Minta Fotokopi KTP-el, Ini Dugaan Dirjen Dukcapil

Nasional
BRGM Siap Percepat Penanaman Mangrove di 9 Provinsi

BRGM Siap Percepat Penanaman Mangrove di 9 Provinsi

Nasional
Demokrat Beberkan Syarat KLB yang Sah, Salah Satunya Disetujui SBY

Demokrat Beberkan Syarat KLB yang Sah, Salah Satunya Disetujui SBY

Nasional
Gaungkan Benci Produk Luar Negeri Jadi Polemik, Jokowi: Gitu Aja Rame

Gaungkan Benci Produk Luar Negeri Jadi Polemik, Jokowi: Gitu Aja Rame

Nasional
UPDATE: Tambah 2 di Kuwait, Total 3.705 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri

UPDATE: Tambah 2 di Kuwait, Total 3.705 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri

Nasional
Cerita Jokowi Setiap Hari Telpon Kepala BKPM untuk Pantau Investasi

Cerita Jokowi Setiap Hari Telpon Kepala BKPM untuk Pantau Investasi

Nasional
Bapilu: Tak Ada KLB di Demokrat, jika Ada Itu Ilegal

Bapilu: Tak Ada KLB di Demokrat, jika Ada Itu Ilegal

Nasional
[POPULER NASIONAL] TNI Amankan Wanita yang Pamer Mobil Dinas Berplat Bodong | Marzuki Alie Datang ke KLB Demokrat karena Dipecat

[POPULER NASIONAL] TNI Amankan Wanita yang Pamer Mobil Dinas Berplat Bodong | Marzuki Alie Datang ke KLB Demokrat karena Dipecat

Nasional
Demonstrasi di Myanmar Ada Korban Jiwa, Evakuasi WNI Dinilai Belum Perlu

Demonstrasi di Myanmar Ada Korban Jiwa, Evakuasi WNI Dinilai Belum Perlu

Nasional
KBRI Yangon Minta WNI di Myanmar Tetap Tenang dan Berdiam di Rumah

KBRI Yangon Minta WNI di Myanmar Tetap Tenang dan Berdiam di Rumah

Nasional
Kejagung Tangkap Buron Korupsi Pengadaan Eskalator DPRD Kabupaten Bontang

Kejagung Tangkap Buron Korupsi Pengadaan Eskalator DPRD Kabupaten Bontang

Nasional
Ketika Jokowi Gaungkan Benci Produk Luar Negeri tetapi Gelar Karpet Merah untuk Investor Asing

Ketika Jokowi Gaungkan Benci Produk Luar Negeri tetapi Gelar Karpet Merah untuk Investor Asing

Nasional
Pemerintah Atur Skema Vaksinasi terhadap Lansia agar Dekat Rumah

Pemerintah Atur Skema Vaksinasi terhadap Lansia agar Dekat Rumah

Nasional
Kejagung Periksa 11 Saksi Terkait Kasus Korupsi Asabri

Kejagung Periksa 11 Saksi Terkait Kasus Korupsi Asabri

Nasional
Satgas: Lebih Dari 22.000 Posko Covid-19 Terbentuk, Jabar Terbanyak

Satgas: Lebih Dari 22.000 Posko Covid-19 Terbentuk, Jabar Terbanyak

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X