Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tentukan Pilihanmu
0 hari menuju
Pemilu 2024

Memburu Koruptor... Eh, Beruang Madu

Kompas.com - 12/06/2011, 04:43 WIB
Editor

Nasib koruptor alias perampok uang rakyat jauh lebih beruntung daripada beruang madu. Koruptor tidak diburu, tetapi ”dijemput” setelah menggasak uang rakyat. Beruang madu di Kalimantan Selatan diburu hidup atau mati justru ketika lahan hidupnya terdesak dan kelaparan.

Bagai kisah zaman Wild West, kepala beruang madu di Desa Kiram, Kecamatan Karangintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kini diburu. Bahasa koboinya ”wanted dead or alive”. Pihak desa mengadakan sayembara dan akan memberikan hadiah Rp 3 juta kepada warga yang berhasil menangkap satwa liar itu, baik dalam kondisi hidup maupun mati.

Kepala Desa Kiram Abdul Salam menuturkan, langkah mengadakan sayembara ini di diambil lantaran sejauh ini belum ada upaya menangkap beruang madu (Helarcetos malayanus) itu. Dalam setahun terakhir sudah ada enam warga desa setempat yang menjadi korban luka-luka dan diduga itu akibat serangan beruang madu.

Korban terakhir adalah Maemunah (36) dan Saniah (40). Mereka luka di kepala, dada, dan kaki akibat cakaran dan gigitan binatang pada 21 April. Saat itu keduanya bersama empat orang lainnya tengah menyadap karet di perkebunan daerah Guntung Lua.

”“Ini inisiatif warga. Hadiahnya dari kepala desa,” ujar Abdul Salam, Kamis (9/6). Menurut dia, perburuan sudah mulai dilakukan oleh warga pada malam hari, dengan cara mengintai bersamaan waktunya dengan siskamling menjaga kampung. Warga melengkapi diri dengan tali, parang, dan tombak.

Diyakini beruang madu akan turun ke kampung pada malam hari untuk mendapatkan makanan di kebun warga, seperti buah kelapa dan nangka. Perburuan siang hari sulit dilakukan karena sifat beruang yang pemalu dan cepat melarikan diri.

Sejak munculnya ancaman beruang madu, kata Abdul Salam, warga merasa cukup terganggu dalam beraktivitas di kebun. Selama ini warga menggantungkan hidup dari menyadap karet. ”Awalnya kami merasa tenang karena dua bulan kampung aman dari serangan. Atas dasar itu, warga memutuskan diadakan perburuan,” katanya.

Diduga rusaknya habitat beruang madu di Pegunungan Meratus, termasuk Taman Hutan Rakyat (Tahura) Sultan Adam, menjadi penyebab masuknya hewan buas itu ke perkampungan. Mereka turun untuk mencari makan.

Berdasarkan data di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, jumlah beruang madu di Tahura tahun 2006 tinggal 12 ekor. Padahal, puluhan tahun silam jumlah beruang di daerah ini, termasuk Meratus, mencapai ratusan ekor. Kepala BKSDA Kalsel Bambang Dahono Adji mengatakan, berkurangnya jumlah satwa ini disebabkan kerusakan alam yang terjadi. Sungguh malang nasib beruang madu dan rakyat yang menjadi korban. (WER)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke