Anggodo Akui Ada Permintaan Rp 12 Miliar

Kompas.com - 23/03/2011, 03:04 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Terdakwa perkara upaya penyuapan terhadap pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Anggodo Widjojo, bersikukuh bahwa Eddy Soemarsono pernah meminta uang Rp 12 miliar kepada kakaknya, Anggoro Widjojo. Permintaan dana itu kemudian turun menjadi Rp 6 miliar.

Keterangan Anggodo dikonfrontasikan dengan Eddy pada sidang di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, dengan terdakwa Ary Muladi, Selasa (22/3). Eddy, mantan Pemimpin Redaksi Tabloid Investigasi, membantah keterangan itu.

”Tidak pernah,” katanya saat bersaksi dalam perkara upaya penyuapan kepada penyidik dan pimpinan KPK serta merintangi penyidikan kasus korupsi ini. Eddy sempat bertemu Anggoro, bersama dengan mantan Ketua KPK Antasari Azhar.

Anggodo tetap pada kesaksiannya. ”Permintaannya Rp 12 miliar. Setelah itu dirundingkan,” kata Anggodo. Dalam kesaksiannya pada sidang sebelumnya, uang itu dipakai untuk menyelesaikan kasus Anggoro di KPK. Anggoro adalah tersangka kasus korupsi pada pengadaan alat Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan dan kini masih menjadi buron.

Anggodo pun mengakui, dalam ”kronologis pengurusan kasus di KPK” yang dipergunakan untuk melengkapi keterangan terdakwa dalam pemeriksaan di Polri, tak disebutkan permintaan uang oleh Eddy. Alasannya, kronologis itu dibuat sederhana.

Ini pertama kalinya Eddy bersaksi dalam persidangan dengan terdakwa Ary Muladi. Eddy juga menyerahkan sejumlah bukti kepada jaksa penuntut umum, antara lain rekaman percakapan.

Ary didakwa melakukan pemufakatan jahat dengan Anggoro dan Anggodo. (ray)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ketua KPU Harap Anggaran Tambahan Pilkada 2020 Cair Awal Juni

Ketua KPU Harap Anggaran Tambahan Pilkada 2020 Cair Awal Juni

Nasional
UPDATE: 24.538 Kasus Positif Covid-19, Tertinggi di Jatim hingga Dominasi Pekerja Migran di DKI

UPDATE: 24.538 Kasus Positif Covid-19, Tertinggi di Jatim hingga Dominasi Pekerja Migran di DKI

Nasional
Ini Alasan Pemerintah Tak Mau Tunda Pilkada hingga Covid-19 Berakhir

Ini Alasan Pemerintah Tak Mau Tunda Pilkada hingga Covid-19 Berakhir

Nasional
Masa Kerja dari Rumah ASN Diperpanjang Lagi hingga 4 Juni 2020

Masa Kerja dari Rumah ASN Diperpanjang Lagi hingga 4 Juni 2020

Nasional
Mendagri: Jika Pilkada Ditunda 2021, Apa Ada yang Menjamin Covid-19 Akan Selesai?

Mendagri: Jika Pilkada Ditunda 2021, Apa Ada yang Menjamin Covid-19 Akan Selesai?

Nasional
Bahan Baku Minim di Sejumlah Industri, KSPI Sebut 'New Normal' Tak Bakal Efektif

Bahan Baku Minim di Sejumlah Industri, KSPI Sebut "New Normal" Tak Bakal Efektif

Nasional
KSAL Minta Kogabwilhan I Aktif Pantau Pelanggaran Laut Natuna

KSAL Minta Kogabwilhan I Aktif Pantau Pelanggaran Laut Natuna

Nasional
LPSK dan BNPT Teken MoU Perlindungan Korban Terorisme

LPSK dan BNPT Teken MoU Perlindungan Korban Terorisme

Nasional
Pemerintah Diminta Pastikan Ketersediaan APD untuk Penyelenggara Pilkada 2020

Pemerintah Diminta Pastikan Ketersediaan APD untuk Penyelenggara Pilkada 2020

Nasional
Ketua KPU: Pilkada Tetap Desember 2020, Tidak Akan Mundur Lagi

Ketua KPU: Pilkada Tetap Desember 2020, Tidak Akan Mundur Lagi

Nasional
Ketua MPR Minta Penerapan 'New Normal' Berbasis Data yang Valid

Ketua MPR Minta Penerapan "New Normal" Berbasis Data yang Valid

Nasional
Ketua MPR: Jangan Sampai New Normal Jadi Pemicu Gelombang Kedua Covid-19

Ketua MPR: Jangan Sampai New Normal Jadi Pemicu Gelombang Kedua Covid-19

Nasional
Kejagung Periksa 48 Staf KONI Pusat Terkait Dugaan Korupsi Dana Hibah

Kejagung Periksa 48 Staf KONI Pusat Terkait Dugaan Korupsi Dana Hibah

Nasional
Kritik Lemahnya Pemberantasan Korupsi, ICW: KPK Memasuki Era 'New Normal'

Kritik Lemahnya Pemberantasan Korupsi, ICW: KPK Memasuki Era "New Normal"

Nasional
Sambut New Normal, Ada Senyum Tito di Selubung Masker

Sambut New Normal, Ada Senyum Tito di Selubung Masker

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X