Sumarsih: Semoga Saya Masih Kuat...

Kompas.com - 11/03/2011, 08:37 WIB
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com — Perjuangan Sumarsih (59) dalam mencari keadilan perlu diacungi jempol. Wanita kelahiran Semarang tersebut dengan gigih memperjuangkan kematian anaknya, Bernardinus Realino Norma Irmawan atau Wawan, pada Tragedi Semanggi I, November 1998 silam.

Terhitung 12 tahun, semenjak kematian Wawan, dia terus memperjuangkan keadilan bersama suaminya, Arief Priadi, dan beberapa orangtua korban lainnya. Kamisan, acara rutin setiap hari Kamis sore, adalah salah satu cara yang dibuatnya untuk memperjuangkan keadilan bagi anaknya dan seluruh korban pelanggaran HAM di Indonesia.

Awalnya, ia menceritakan, akhir 2002-2003, hatinya tergugah atas tindakan pemerintah yang sama sekali tak menindak kasus kematian anaknya. Karena itu, ia mengajak dua orangtua korban lainnya, yakni Sumartini (Ibu Sigit Prasetyo, korban Semanggi I) dan Hu Kim Ngo (Ibu Yun Hap, korban Semanggi II) melakukan aksi diam dengan menyebarkan selembaran yang dituliskan protes-protes terhadap pemerintahan di Bundaran Hotel Indonesia (HI).

"Waktu itu, akhir tahun 2002, saya mengajak Ibu Sumartini dan Ibu Hu Kim Ngo untuk melakukan protes karena kasus kematian anak-anak tidak ada respons yang jelas dari pemerintah. Namun, karena mereka sakit, hal tersebut tidak jadi terealisasikan," ceritanya kepada Kompas.com, di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (10/3/2011).

Setelah itu, hari demi hari dia jalani. Namun, yang dia rasakan hanyalah stagnasi dari pemerintah dalam penyelesaian kasus kematian anaknya. Karena itu, pada periode 2005-2007, ia sering mengikuti rapat bersama Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK). Pada beberapa kesempatan dalam rapat tersebut, ia menyarankan membuat aksi seminggu sekali untuk mengenang seluruh korban pelanggaran HAM di Indonesia.

"Saat itu, saya mengusulkan agar melakukan aksi rutin seminggu sekali untuk mengenang korban pelanggaran HAM di Indonesia. Saya juga meminta saat itu, tiga orang saja yang bisa konsisten melakukan hal tersebut. Nah, saat itu Ibu Suciwati (istri alm Munir) dan Yati (aktivis Kontras) menyetujuinya, dan rencana tersebut terealisasikan," kata Sumarsih.

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu datang. Kamis (18/1/2007) silam, aksi Kamisan perdana dilaksanakan. Menurut Sumarsih, dia hanya enam kali melewatkan acara yang sudah berlangsung sebanyak 200 kali tersebut.

"Dari 200 kali aksi ini, saya hanya enam kali tidak hadir. Itu pun karena saya sedang di Timor Leste, Bali, Surabaya, dan dua kali saat saya menghadiri peringatan Wawan," ucapnya.

Ketika ditanya, apakah sanggup untuk terus melaksanakan aksi tersebut karena sampai sekarang belum ada kejelasan dari pemerintah. Sumarsih berharap, dirinya masih diberi kekuatan untuk itu. Dia sangat berharap semoga tidak menunggu pemerintahan yang baru lagi. Artinya tidak menunggu pergantian presiden, tidak menunggu pergantian jaksa agung, dan tidak menunggu periode DPR yang baru agar kasus-kasus pelanggaran HAM, lalu korban semanggi I dan II ini, segera dapat dibawa ke pengadilan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Satgas Covid-19 Sarankan Pemakaian Masker dalam Kondisi Seperti Ini...

Satgas Covid-19 Sarankan Pemakaian Masker dalam Kondisi Seperti Ini...

Nasional
Kemenkes: Vaksinasi Penting untuk Kurangi Tingkat Keparahan dan Kematian Covid-19

Kemenkes: Vaksinasi Penting untuk Kurangi Tingkat Keparahan dan Kematian Covid-19

Nasional
Satgas Sebut WHO Pertegas Efektivitas Masker Cegah Covid-19

Satgas Sebut WHO Pertegas Efektivitas Masker Cegah Covid-19

Nasional
UPDATE 23 JANUARI: Bertambah 65, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini 5.549

UPDATE 23 JANUARI: Bertambah 65, Kasus Covid-19 di Kota Tangerang Kini 5.549

Nasional
Pembelajaran Jarak Jauh Dinilai KPAI Ciptakan Kesenjangan

Pembelajaran Jarak Jauh Dinilai KPAI Ciptakan Kesenjangan

Nasional
Seseorang Bisa Idap Covid-19 meski Sudah Divaksin, Ini Penjelasan Dokter

Seseorang Bisa Idap Covid-19 meski Sudah Divaksin, Ini Penjelasan Dokter

Nasional
Ketua Riset Uji Klinis Vaksin: 7 dari 1.820 Peserta Uji Klinis Positif Covid-19

Ketua Riset Uji Klinis Vaksin: 7 dari 1.820 Peserta Uji Klinis Positif Covid-19

Nasional
Perhimpunan Dokter Paru: Tidak Ada Ruginya Divaksin Covid-19

Perhimpunan Dokter Paru: Tidak Ada Ruginya Divaksin Covid-19

Nasional
Kemenkes: 27.000 dari 172.901 Tenaga Kesehatan Belum Divaksin Covid-19

Kemenkes: 27.000 dari 172.901 Tenaga Kesehatan Belum Divaksin Covid-19

Nasional
UPDATE: Sebaran 12.191 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI dengan 3.285

UPDATE: Sebaran 12.191 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI dengan 3.285

Nasional
Kasus Pengaturan Proyek di Indramayu, KPK Sebut Ada Saksi yang Diintimidasi

Kasus Pengaturan Proyek di Indramayu, KPK Sebut Ada Saksi yang Diintimidasi

Nasional
Vaksinator Covid-19 Dikerahkan Beri Edukasi soal Vaksinasi Covid-19

Vaksinator Covid-19 Dikerahkan Beri Edukasi soal Vaksinasi Covid-19

Nasional
UPDATE: Bertambah 68.343, Total 8.706.505 Spesimen Diperiksa Terkait Covid-19

UPDATE: Bertambah 68.343, Total 8.706.505 Spesimen Diperiksa Terkait Covid-19

Nasional
Kasus Pengadaan Citra Satelit, KPK Dalami Pemberian Fee ke Pihak-pihak di BIG dan Lapan

Kasus Pengadaan Citra Satelit, KPK Dalami Pemberian Fee ke Pihak-pihak di BIG dan Lapan

Nasional
Doni Monardo Menduga Tertular Covid-19 Saat Makan, Imbau Hindari Makan Bersama

Doni Monardo Menduga Tertular Covid-19 Saat Makan, Imbau Hindari Makan Bersama

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X