13 Tahun Mencari 13 Orang Hilang

Kompas.com - 07/03/2011, 08:14 WIB
EditorHeru Margianto

“Dalam proses itu, keluarga korban sering bertemu. Mereka berasal dari beberapa daerah, yaitu Solo, Bangka, Probolinggo, Jepara, dan banyak lagi. Setiap ada advokasi, mereka berkumpul di kantor Kontras. Ya sudah, dari situlah muncul inisiatif dari keluarga para korban ini untuk membentuk semacam paguyuban. Saya tidak bersama mereka ketika mereka secara spontan mendirikan Ikohi,” ungkap Mugiyanto.

Ikohi berhasil membebaskan Mugiyanto dan delapan aktivis lainnya. Di awal berdirinya, yang menjadi ketua adalah Raharjo Utomo, orangtua Petrus Bima Anugerah, salah seorang korban yang hilang sampai hari ini.

Paguyuban yang mulanya hanya wadah berkumpul para keluarga untuk berbagi cerita dan saling menguatkan bertransformasi menjadi organisasi yang tak lelah berjuang mencari 13 orang yang belum kembali (baca: Kami Sebenarnya Lelah dan Kecewa). Mugiyanto menyatakan, ia bersama para orangtua korban bertekad menjadi pelaku perjuangan, bukan korban yang pasif.

”Korban harus menjadi pelaku perjuangan, bukan obyek pasif yang berdiri di belakang dan berserah pada lembaga HAM. Tidak seperti itu,” kata Mugiyanto tegas.

Bukan sekadar berjuang

Namun, di Ikohi, korban dan keluarga korban tidak sekadar berjuang. Lebih dari itu, mereka saling mendukung, memperbaiki, dan menguatkan. Kehilangan anggota keluarga menyisakan duka yang pedih di hati. Mereka marah dan kecewa. Beberapa di antaranya, termasuk Mugiyanto, juga mengalami trauma yang cukup lama akibat kejadian mengenaskan itu.

“Waktu itu teman-teman dari Yayasan Pulih yang bergerak di layanan psikologis, yang membimbing saya dan kawan-kawan, menyampaikan betapa pentingnya memulihkan kondisi psikologis korban pelanggaran HAM. Menurut mereka, orang yang mengalami pelanggaran HAM seperti orang yang baru saja ditabrak lari mobil. Saat itu langkah mendesak yang harus dilakukan sebetulnya bukan memaksa korban untuk mengejar pelaku, tetapi mengobati korban terlebih dahulu, baru setelah itu berjuang. Ada kondisi psikologis korban yang juga perlu diperhatikan, ditangani, dan diperbaiki,” tuturnya.

Selanjutnya, selain masalah psikologis, masalah ekonomi juga menghantam sebagian keluarga korban. Menurut Mugiyanto, sebagian keluarga korban berasal dari kelas menengah ke bawah. Mereka berjuang penuh semangat meski kemiskinan melilit hidup mereka. Bahkan, ungkapnya, ada yang sebelumnya hidup berkecukupan justru mengalami kemunduran secara ekonomi setelah peristiwa naas itu terjadi. Sebagian dari mereka tak bisa menyekolahkan lagi anak-anaknya karena sosok tumpuan hidup keluarga raib di tangan penculik.

“Sampai hari ini masalah ekonomi korban tetap susah. Tapi, setidaknya kami di Ikohi tetap berjuang dengan membuka koperasi dan kita punya warung milik keluarga korban di kantor Kontras. Kami juga kadang menggalang dana dari masyarakat untuk menyediakan beasiswa bagi beberapa anak korban. Seharusnya negara yang menyediakan untuk kami yang menjadi korban atas perbuatan negara. Ini yang membuat kami semakin kecewa,” tuturnya.

Ketika ditanya apakah yang menguatkan Ikohi yang terdiri dari keluarga korban untuk terus berjuang dalam berbagai tantangan, Mugi terdiam. Beberapa menit kemudian ia menghela napas berat dan berucap, “Salah satu kekuatan dari Ikohi adalah karena terdiri dari survivor seperti saya, keluarga korban, dan aktivis yang menjadi sahabat selama ini. Menurut saya, itu menjadi energi tersendiri karena kita punya hubungan langsung dengan peristiwa-peristiwa dan keluarga memiliki hubungan langsung orang-orang yang dicintai sebagai korban. Hubungan itu, kan, tidak bisa putus dan tidak bisa hilang. Kita selamanya merasakan itu. Itu kekuatan terbesar kami,”papar  Mugi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X