Produksi Padi Turun 30 Persen

Kompas.com - 18/02/2011, 04:58 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Produksi padi musim panen pertama tahun ini di sejumlah daerah di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi diperkirakan turun sekitar 30 persen dibandingkan dengan kondisi normal. Cuaca yang tak menentu menjadi penyebab munculnya sejumlah hama hingga menurunkan produksi.

Berdasarkan pantauan Kompas di sejumlah daerah, Kamis (17/2), penurunan produksi padi bervariasi antara 9,3 persen dan 50 persen.

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Nur Gaybita menyatakan, pada panen padi rendeng (musim tanam pertama) kali ini terjadi penurunan produktivitas padi yang nyata.

Produktivitas padi di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, berdasarkan data di Kecamatan Patikraja, Sokaraja, Sumbang, Sumpiuh, dan Tambak, dari tahun ke tahun terus menurun hingga 30 persen. Anomali cuaca yang kian ekstrem menyebabkan intensitas serangan organisme pengganggu tanaman, seperti tikus dan wereng batang coklat, semakin mengganas. Ketahanan pangan dikhawatirkan terancam.

Daldiri (54), petani di Desa Sukawera Kidul, Kecamatan Patikraja, mengatakan, hasil panen dari sawahnya seluas 2.000 meter persegi biasanya mencapai 9 kuintal. ”Musim tanam rendeng (hujan) kali ini, panenan hanya 7,5 kuintal. Hasilnya juga tidak sebagus biasanya. Kali ini lebih basah,” tuturnya.

”Saya sudah dua kali tanam ulang, tetapi tetap saja rusak akibat wereng. Serangannya cenderung makin ganas. Kemungkinan juga dipengaruhi cuaca,” ujar Trimo (69), petani di Desa Gebangsari, Kecamatan Tambak.

Ketua Asosiasi Perberasan Banyumas Agus Purwanto mengakui, panen di wilayah Banyumas dari tahun ke tahun terus menurun. Selain itu, kualitasnya pun tidak sebaik sebelumnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Kadar airnya tinggi. Produksi yang terus menurun juga dipengaruhi pola tanam petani,” katanya.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kudus Zainal Arifin mengatakan, hasil panen musim tanam pertama di kawasan yang rawan banjir dan wereng rata-rata menurun 30 persen per hektar. Semula sawah-sawah itu menghasilkan gabah kering panen 6 ton per hektar dan kini tinggal 4,2 ton per hektar.

Dari Slawi, Kepala Bidang Pertanian dan Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Tegal Suharyoko mengatakan, secara kualitas, produksi beras tahun ini memang menurun jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.