Peredaran Uang Mencapai Rp 4,1 Triliun

Kompas.com - 18/02/2011, 04:16 WIB
Editor

jakarta, kompas - Nilai transaksi peredaran gelap serta konsumsi narkoba di Indonesia diindikasikan mencapai Rp 4,1 triliun pada 2010. Jumlah yang jauh lebih besar harus dikeluarkan negara dan masyarakat untuk merehabilitasi korban penyalahgunaan dan pecandu narkoba serta mencegah peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba.

Hal itu dikatakan Kepala Badan Narkotika Nasional Gories Mere di sela-sela seminar dalam rangka penyusunan kebijakan dan strategi nasional pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba yang digelar BNN di Jakarta, Kamis (17/2).

”Hasil penelitian BNN dan Puslitkes UI bersama universitas negeri lainnya, pada 2008 angkanya mencapai Rp 3,7 triliun, pada 2010 meningkat menjadi Rp 4,1 triliun,” kata Gories.

Di pihak lain, kata Gories, ancaman kejahatan narkoba baik dari dalam negeri maupun luar negeri semakin meningkat.

Kepala Bagian Humas dan Dokumentasi BNN Sumirat Dwiyanto menyatakan, nilai Rp 4,1 triliun adalah jumlah uang yang dibelanjakan sekitar 3,6 juta orang pengguna narkoba, termasuk sekitar 1 juta orang pecandu untuk membeli narkoba dalam kurun satu tahun. Adapun kerugian akibat peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba, menurut Sumirat, melebihi nilai tersebut.

Sabu

Polda Metro Jaya membekuk tiga tersangka dan menyita 1,4 kilogram sabu dalam dua kasus narkoba. Salah seorang tersangka adalah M Reza Azimi Darian (34), warga negara Iran.

Demikian disampaikan Direktur Narkoba Polda Metro, Komisaris Besar Anjan Pramuka Putra, Kamis (17/2). Yang baru dalam kasus ini, penjual sabu hanya menerima uang dalam bentuk dollar AS.

Ia menjelaskan, transaksi dilakukan di Lagoon Lounge Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Minggu (30/1) pukul 19. 30. Reza meminta pembeli menunjukkan uang 40.000 dollar AS sebelum menerima sabu dengan berat kotor 400 gram. Saat sabu diserahkan pembeli, Reza dibekuk. Polisi menyita 400 gram sabu, paspor atas nama Reza bernomor R10762542, kartu kedatangan atas nama Reza, dan dua lembar tiket pulang pergi Teheran-Bangkok-Jakarta.

Setelah menangkap Reza, Kepala Satuan Psikotropika Ditnarkoba Polda Metro Ajun Komisaris Hendra Joni mengarahkan anggotanya mengungkap kasus sabu lainnya yang melibatkan tersangka AG alias Adi (29).

Anjan memaparkan, seperti halnya Reza, transaksi dengan tersangka Adi berlangsung di sebuah hotel di Jakarta Utara.

Dengan menyamar sebagai pembeli, polisi menemui Adi di hotel tersebut dan menyerahkan uang 68.000 dollar AS untuk membeli satu kilogram sabu. Setelah sabu diserahkan, Adi dibekuk dan polisi menyita satu kilogram sabu.

”Tersangka warga negara Iran kami jerat Pasal 114 Ayat (2) subsider Pasal 112 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan hukuman maksimal pidana mati atau penjara seumur hidup. Tersangka lainnya juga kami jerat dengan pasal yang sama,” tutur Anjan.

Jumat (11/2), jajaran polisi membongkar industri rumahan sabu di Kampung Sawah, Gang Nyimin RT 2 RW 4 Kelurahan Jati Melati, Pondok Gede, Kota Bekasi. Polisi menangkap dua tersangka, Abdul Hair alias Belo alias Bayu dan Didit Suhandi alias Adit. Selain itu, polisi juga menyita 10 bungkus ephidrine (bahan pembuat sabu atau ekstasi) 2.011 gram, 16.166 bungkus soda api, 1.463 gram iodine, 12 jeriken cairan HCl, NaOH, metanol, aseton, dan toluen 20 liter, serta alat peracik. (COK/WIN)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Keluarga Anggota DPR Divaksinasi Covid-19, Pemerintah Diminta Fokus pada Kelompok Prioritas

Keluarga Anggota DPR Divaksinasi Covid-19, Pemerintah Diminta Fokus pada Kelompok Prioritas

Nasional
Sekjen DPR: Semua Pegawai di Lingkungan DPR Divaksinasi Covid-19

Sekjen DPR: Semua Pegawai di Lingkungan DPR Divaksinasi Covid-19

Nasional
Langgar Etika, Marzuki Alie Dipecat Tidak Hormat dari Demokrat

Langgar Etika, Marzuki Alie Dipecat Tidak Hormat dari Demokrat

Nasional
Kemenkes: Peserta Vaksinasi Gotong Royong Dapat Kartu dan Sertifikat Elektronik

Kemenkes: Peserta Vaksinasi Gotong Royong Dapat Kartu dan Sertifikat Elektronik

Nasional
Isu Kudeta, Demokrat Pecat Marzuki Alie hingga Jhoni Allen dengan Tidak Hormat

Isu Kudeta, Demokrat Pecat Marzuki Alie hingga Jhoni Allen dengan Tidak Hormat

Nasional
Bio Farma Ditunjuk Jadi Importir dan Distributor Vaksinasi Gotong Royong

Bio Farma Ditunjuk Jadi Importir dan Distributor Vaksinasi Gotong Royong

Nasional
Soal Vaksinasi Gotong Royong, Anggota DPR: Jangan Sampai Muncul Kebocoran

Soal Vaksinasi Gotong Royong, Anggota DPR: Jangan Sampai Muncul Kebocoran

Nasional
KSPI Tolak jika Buruh Dibebankan Biaya Vaksinasi Covid-19

KSPI Tolak jika Buruh Dibebankan Biaya Vaksinasi Covid-19

Nasional
Kunjungi Banten, Gus AMI Singgung Masalah Pendidikan di Ponpes

Kunjungi Banten, Gus AMI Singgung Masalah Pendidikan di Ponpes

Nasional
Peserta Vaksinasi Covid-19 di DPR Mencapai 12.000 Orang

Peserta Vaksinasi Covid-19 di DPR Mencapai 12.000 Orang

Nasional
Kemenkes: Tarif Maksimal Pelayanan Vaksinasi Gotong Royong Segera Ditetapkan

Kemenkes: Tarif Maksimal Pelayanan Vaksinasi Gotong Royong Segera Ditetapkan

Nasional
Keluarga Anggota Dewan Ikut Divaksinasi, Sekjen DPR Minta Tak Dijadikan Polemik

Keluarga Anggota Dewan Ikut Divaksinasi, Sekjen DPR Minta Tak Dijadikan Polemik

Nasional
Soal Myanmar, Pemerintah Disarankan Tunjuk Kalla atau Hasan Wirajuda untuk 'Backdoor Diplomacy'

Soal Myanmar, Pemerintah Disarankan Tunjuk Kalla atau Hasan Wirajuda untuk "Backdoor Diplomacy"

Nasional
Kemenkes: Vaksin Covid-19 untuk Vaksinasi Gotong Royong Wajib Izin BPOM

Kemenkes: Vaksin Covid-19 untuk Vaksinasi Gotong Royong Wajib Izin BPOM

Nasional
Untuk Vaksinasi Gotong-royong, Bio Farma Jajaki Sinopharm dan Moderna

Untuk Vaksinasi Gotong-royong, Bio Farma Jajaki Sinopharm dan Moderna

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X