Rusuh Cikeusik Bukan Dipicu Warga Luar

Kompas.com - 11/02/2011, 12:22 WIB
EditorA. Wisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Kuasa hukum Ahmadiyah, Choirul Anam membantah pernyataan kepolisian yang mengatakan bahwa bentrokan antar warga dan Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten yang terjadi Minggu (6/2/2011) dipicu kedatangan 17 orang pengikut Ahmadiyah dari luar Cikeusik.

Choirul mengatakan, berdasarkan saksi di lapangan dan rekaman video kerusuhan yang merupakan alat bukti, penyerangan memang sudah direncanakan sebelum kedatangan 17 warga itu. "Polisi missleadingnya menganggap17 tamu adalah aktor provokasi dengan argumen salah satu dari mereka ngomong penolakan di depan massa, salah. Nggak ada omongan 17 orang itu di depan massa," katanya saat ditemui di kantor Komnas Hak Asasi Manusia, Latuharhari, Jakarta, Jumat (10/2/2011).

Sebelumnya, Kepala Kepolisian RI, Jenderal (Pol) Timur Pradopo dalam rapat dengan Komisi VIII DPR (9/2/2011) menyampaikan kronoligis kerusuhan Cikeusik dipicu kedatangan warga dari luar. Seorang warga Ahmadiyah dari Jakarta bernama Deden dan 15 orang lainnya tiba di Cikeusik pada Minggu (6/2/2011) pukul 17.00 mendatangi rumah Suparman.

"Melihat gelagat (kedatangan warga luar) tersebut, warga masyarakat Cikeusik berjumlah sekitar 1.500 orang mendatangi rumah (Suparman) tersebut," kata Timur. Kemudian, lanjut Timur, Deden yang datang dari Jakarta itu mengeluarkan kata-kata yang bernada menantang di hadapan massa.

"Jam 08.00 dia (Deden) datang, jam 09.00 lebih penyerangan ada, dengan jumlah masa 1.500. Logikanya, gak mungkin dalam 1 jam bisa dikumpulkan masa banyak, ini sudah direncanakan sebelumnya," papar Choirul.

Terkait kronologis kejadian, Choirul mengatakan bahwa sebelumnya, pada tanggal 4 Februari, warga Ahmadiyah Cikeusik mendapat pesan singkat dari kepolisian bahwa akan terjadi penyerangan sekitar tanggal 5 atau Februari. Atas peringatan tersebut, 17 warga Ahmadiyah datang dengan tujuan mengamankan aset dan properti Ahmadiyah Cikeusik.

"Setiap orang punya hak pertahankan dirinya dan propertinya. Temen-temen Ahmadiyah memiliki pengalaman panjang bagaimana propertinya dirusak sejak 2001 dan tidak ada penyelesaian apapun," ucap Choirul.

Sangat disayangkan, lanjutnya, meskipun sudah mengetahui akan adanya rencana penyerangan pada sekitar 5 atau 6 Februari, pihak Kepolisian, lanjut Choirul malah mundur. "Pas tanggal 6 eskalasi memanas, mobil polisinya malah bergeser, itu yang membuat penyerangan terjadi. Seandainya polisi naroh banyak di situ, gak akan mungkin terjadi," tukasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.