Sultan Yogya Simbol Tertinggi - Kompas.com

Sultan Yogya Simbol Tertinggi

Kompas.com - 05/12/2010, 03:22 WIB

PADANG, KOMPAS.com  - Sejarawan dari Universitas Negeri Padang Prof Mestika Zed mengatakan, kedudukan Sultan di Daerah Istimewa Yogyakarta idealnya tetap sebagai simbol kerajaan yang memiliki kekuasaan luas namun tetap perlu ada eksekutif untuk menjalankan pemerintahan sehari-hari.

"Sultan Yogya tetap dalam kedudukannya sebagai pemimpin masyarakat tertingi, namun untuk menjalankan pemerintahan sehari-hari bisa dia sendiri atau ada seseorang yang diangkat," kata Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Padang (UNP) di Padang, Sabtu.

 Dia mengatakan hal itu terkait polemik yang terjadi tentang kedudukan Sultan dan keistimewaaan Yogyakarta.

 Menurut dia, kedudukan istimewa Yogyakarta adalah suatu hal yang harus dimaknai dan tidak bisa diperdebatkan, karena daerah itu oleh penguasa bangsa memang diberikan hak istimewa mengingat perannya dalam sejarah perjuangan.

 Dalam UUD 1945, kata Mestika, sudah diatur bahwa negara melindungi hak hukum masyarakat adat, dan Yogyakarta adalah salah satu yang harus dilindungi itu.

 "Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi pemerintah untuk mengganggu-gugat bagaimana sistem yang diatur pada daerah istimewa itu, termasuk soal pemilihan kepala daerahnya," katanya.

 Menurut dia, solusi untuk menyamaratakan soal pemilihan kepala daerah juga tidak bisa dilakukan mengingat kultur masyarakatnya berbeda dengan daerah lain.

 "Bagi masyarakat Yogyakarta, Sultan itu tetap pemimpim tertingginya. Terkait hak istimewa pada beberapa daerah memang ada, dan itu sudah diatur oleh undang-undang," katanya.

 Mestika menyebutkan sejumlah daerah itu di antaranya Aceh, Yogyakarta dan DKI.   "Sebenarnya tidak ada masalah dan tidak perlu diperdebatkan karena memang hal ini sudah ada sejak dulu dan masyarakatnya juga sudah terbiasa dengan hal ini," ujarnya menambahkan.

 Mestika juga mengatakan, tidak ada yang bertentangan dengan sistem pemerintahan di Yogyakarta karena sebenarnya beberapa negara maju juga sudah menjalankannya.

 "Benar monarki itu bertentangan dengan demokrasi, namun kita bisa menyiasatinya dengan menjadikan Sultan sebagai simbol kekuasaan tertinggi tapi tidak harus sebagai eksekutif yang menjalankan pemerintahan," katanya.

Sultan, katanya, bisa sebagai badan konsultatif dan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di daerah itu.

 "Kita bisa mencontoh Raja Thailand yang merupakan simbol kerajaan tertinggi namun tidak harus menjalankan pemerintahan," katanya.

 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorJimmy Hitipeuw

    Terkini Lainnya

    Anies Akan Kirim Tim ke Istanbul untuk Belajar soal Minibus dan Air

    Anies Akan Kirim Tim ke Istanbul untuk Belajar soal Minibus dan Air

    Megapolitan
    Survei Kompas: Kepuasan Masyarakat Jadi Kunci Keterpilihan Jokowi

    Survei Kompas: Kepuasan Masyarakat Jadi Kunci Keterpilihan Jokowi

    Nasional
    Rumahnya Ambruk akibat Tergerus Arus Sungai, Nenek dan Cucu Berhasil Selamat

    Rumahnya Ambruk akibat Tergerus Arus Sungai, Nenek dan Cucu Berhasil Selamat

    Regional
    Gelar Konser Perayaan Ultah Hitler, Dua Pria Polandia Ditahan

    Gelar Konser Perayaan Ultah Hitler, Dua Pria Polandia Ditahan

    Internasional
    Sekolah Rusak Pasca-gempa Banjarnegara, Siswa SD Ujian di Tenda Darurat

    Sekolah Rusak Pasca-gempa Banjarnegara, Siswa SD Ujian di Tenda Darurat

    Regional
    Dishub DKI Akan Evaluasi Semua Kapal ke Kepulauan Seribu

    Dishub DKI Akan Evaluasi Semua Kapal ke Kepulauan Seribu

    Megapolitan
    Brimob Polri Siap Amankan Acara-acara Besar di Tahun 2018

    Brimob Polri Siap Amankan Acara-acara Besar di Tahun 2018

    Nasional
    Sandiaga Hampir Naik Kapal yang Meledak di Kepulauan Seribu

    Sandiaga Hampir Naik Kapal yang Meledak di Kepulauan Seribu

    Megapolitan
    ISIS Klaim Serangan Bom Bunuh Diri yang Tewaskan 57 Orang di Kabul

    ISIS Klaim Serangan Bom Bunuh Diri yang Tewaskan 57 Orang di Kabul

    Internasional
    Survei 'Kompas': Jokowi Terganjal Masalah Harga Kebutuhan Pokok dan Lapangan Pekerjaan

    Survei "Kompas": Jokowi Terganjal Masalah Harga Kebutuhan Pokok dan Lapangan Pekerjaan

    Nasional
    Punggungnya Terluka, Seekor Penyu Bertelur di Pantai Sukamade Banyuwangi

    Punggungnya Terluka, Seekor Penyu Bertelur di Pantai Sukamade Banyuwangi

    Regional
    'Behind the Scene' Lobi-lobi Memasangkan Prabowo Jadi Cawapres Jokowi

    "Behind the Scene" Lobi-lobi Memasangkan Prabowo Jadi Cawapres Jokowi

    Nasional
    Digelar pada Agustus 2018, Samosir Music International Butuh Dukungan Nyata

    Digelar pada Agustus 2018, Samosir Music International Butuh Dukungan Nyata

    Regional
    Tak Ada Tilang Saat Uji Coba Penambahan Waktu Ganjil-Genap di Sudirman

    Tak Ada Tilang Saat Uji Coba Penambahan Waktu Ganjil-Genap di Sudirman

    Megapolitan
    Hari Ini, Jokowi Tinjau Bandara Soedirman hingga Kunjungi Korban Gempa

    Hari Ini, Jokowi Tinjau Bandara Soedirman hingga Kunjungi Korban Gempa

    Nasional

    Close Ads X