Salatiga Harus Tekan Pertumbuhan Penduduk

Kompas.com - 01/12/2010, 09:46 WIB

salatiga, kompas - Pemerintah Kota Salatiga masih harus kembali bekerja keras untuk menekan angka pertumbuhan penduduk hingga di bawah satu persen. Jika tidak, Kota Salatiga akan melewatkan ”bonus” demografi berupa tingginya jumlah penduduk usia produktif pada tahun 2020-2030.

Adapun bonus demografi tersebut berupa peningkatan jumlah penduduk usia produktif 25-50 tahun, yang tidak terlalu besar menanggung beban penduduk nonproduktif, akan memberi kesempatan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Salatiga Zainudin di sela-sela Sosialisasi Kegiatan BPS Kota Salatiga tahun 2010 di Hotel Laras Asri Salatiga, Selasa (30/11). Menurut dia, pada tahun 2000 hingga 2010, laju pertumbuh- an penduduk di Kota Salatiga sudah mencapai 1,13 persen per tahun.

Jumlah penduduk Kota Salatiga selama sepuluh tahun terakhir naik dari 153.036 menjadi 171.067 pada tahun 2010. Menurut Zainudin, idealnya Kota Salatiga bisa menekan pertumbuhan tersebut kurang dari satu persen per tahun dengan menggalakkan kembali program Keluarga Berencana. Program tersebut sempat tidak mendapat perhatian selama sepuluh tahun terakhir.

Hal ini menyebabkan pergeseran piramida demografi yang pada tahun 2000 masih didominasi usia 20-24 tahun dan 15-19 tahun. Namun, kini yang tinggi adalah kelompok usia 25-29 tahun dan 20-24 tahun. Selain itu, terjadi penambahan komposisi penduduk di usia 0-14 tahun, lebih tinggi dari 10 tahun lalu.

”Jika piramida itu bisa dipertahankan menggelembung di bagian tengah, kemudian agak mengerucut ke bawah, dan angka pertumbuhan penduduk bisa dikendalikan, maka nilai positif (bonus demografi) bisa dipertahankan,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Salatiga Diah Sunarsasi mengakui kendurnya perhatian pemerintah terhadap program Keluarga Berencana. Mulai tahun mendatang, kata dia, penyuluh keluarga berencana akan kembali didorong menyentuh masyarakat. Dengan begitu, diharapkan pertumbuhan penduduk bisa kembali terkendali.

”Kalau dulu itu slogannya ’dua anak saja’ sekarang ini menjadi dipelesetkan 'dua anak lebih, baik'. Itu harus kembali berubah,” ujarnya. (GAL)


Editor

Close Ads X