Teror di Malam Penuh Kedamaian

Kompas.com - 23/09/2010, 10:29 WIB
EditorA. Wisnubrata

MEDAN, KOMPAS.com — Tak ada yang menyangka kalau pamitan Aiptu Deto Sutejo kepada istrinya, Rosnawati, untuk piket pada Selasa (21/9/2010) adalah pamitan terakhir. Pada Rabu dini hari, Deto tewas diberondong peluru oleh sekelompok orang bersenjata saat dirinya menjalankan tugas di Kepolisian Sektor Hamparan Perak, Deli Serdang.

”Dia baik sekali. Kami baru saja menunaikan ibadah umrah Lebaran lalu,” tutur Rosnawati saat menunggui otopsi suaminya di Rumah Sakit Bhayangkara, Medan.

Rosnawati terus menangis hingga matanya bengkak. Ia terus-menerus berucap, ”Ampunilah kesalahan kami ya Allah.”

Ketiga anaknya, Bima Pratama Sutejo (13), Gusti Rata Sutejo (10), dan Namira Azara (5), yang menyertainya juga turut menangis.

Bima dan Gusti bahkan berteriak, ”Bapak-bapak,” sambil mengusap peti jenazah ayahnya saat peti dimasukkan ke dalam ambulans untuk dibawa ke rumah duka.

”Saya sempat menelepon dia sekitar pukul 09.00 dan dia baik-baik saja,” kata Rosnawati. Saat itu keponakannya datang dan membuka-buka album foto pernikahan mereka. ”Saya sempat bilang kami membuka foto-foto zadul,” kata Rosnawati sambil sesenggukan.

Selepas tengah malam saat tengah shalat tahajud, Kepala Polsek Hamparan Perak menelepon. Kapolsek mengabarkan bahwa kantor Polsek diserang orang dan suami Rosnawati kritis.

Rosnawati sempat menelepon mertuanya, Paeran Z (71), tetapi yang keluar hanya suara tangisan. ”Saya telepon balik, yang ngangkat si Gusti. Gusti menangis, katanya Bapak diserang teroris,” tutur Paeran yang juga baru menyelesaikan shalat tahajud.

Setelah menjemput Paeran di Binjai, keluarga Deto yang tinggal di Kompleks Pemda, Stabat, Langkat, itu pun meluncur ke RS Bhayangkara. Sekitar pukul 02.30, keluarga sampai di rumah sakit dan menemukan Deto sudah meninggal dunia.

”Ia baik, suka memberi dakwah kepada kawan-kawannya. Lebaran lalu ia ingin umrah, lalu kami pergi umrah,” tutur Rosnawati, yang bersama suaminya sudah naik haji dua tahun lalu itu.

Paeran, ayah Deto, mengaku kaget dengan kejadian itu. Namun, ia terlihat tabah dan pasrah. ”Kematian urusan Tuhan,” kata Paeran. Namun, ia meminta kasus itu diusut supaya tidak meresahkan masyarakat.

Teror

Berondongan peluru dari sekelompok orang bersenjata di Polsek Hamparan Perak itu juga menewaskan Bripka Riswandi dan Aiptu Baik Sinulingga. Tak ada yang menyangka pada malam yang damai, di tempat penegak keamanan bermarkas, itu muncul teror mematikan.

Istri Baik Sinulingga, Tabita br Ginting, juga kaget. Ia sempat pingsan di RS Bhayangkara. Tangisnya tak henti-henti. Sementara istri Bripka Riswandi, Suryanawati, tak henti-hentinya menangis hingga lemas saat jenazah suaminya diusung untuk dimakamkan.

Namun, kebanyakan warga yang tinggal di sekitar Polsek Hamparan Perak mengaku tidak takut. Banyak ibu membawa anak-anak melihat lokasi penembakan yang masih dilingkari garis polisi.

Peristiwa penembakan itu menjadi perbincangan warga Hamparan Perak karena Hamparan Perak masuk televisi, bukan karena teror yang terjadi.

Namun, Pemerintah Kabupaten Deli Serdang menginstruksikan pengetatan pengamanan dan peningkatan siskamling warga. Wakil Bupati Deli Serdang Zainuddin Mars mengatakan, pengamanan sepenuhnya tetap dalam komando kepolisian. (WSI)

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X