Bintang Rock dalam Kamar Pesantren

Kompas.com - 19/09/2010, 05:06 WIB
EditorJimmy Hitipeuw

ARIS PRASETYO & REGINA RUKMORINI

KOMPAS.com — Seolah menyempal dari citra pendidikan Islam tradisional, Pesantren Pabelan di Magelang dan Pondok Modern Gontor di Ponorogo menyuguhkan semangat modern. Kedua lembaga ini mengembangkan iklim berpikir terbuka, berorientasi global. Para santri pun boleh bergaul dengan budaya pop.

Dinding kamar itu begitu ”meriah”. Di bagian tengah, ada lukisan labu raksasa dengan taring dan mata melotot, mirip ikon perayaan Halloween. Bidang lain dipenuhi poster artis Amerika, seperti Travis Barker, drumer pop-punk Blink 182, dan band metal Avenged Sevenfold.

Dinding tersebut tak ubahnya mural tembok garapan anak muda di kota metropolitan. Padahal, pemandangan itu terdapat di salah satu kamar Pondok Pesantren Pabelan di Desa Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Pelukisnya adalah para santri.

”Kami mencorat-coret dinding kamar agar lebih nyaman untuk ditinggali. Ustaz memberikan izin,” kata Mustofa (17), santri asal Lampung.

Tak beda dengan remaja kota, para santri itu leluasa menggemari artis-artis pop Barat. Hanya, selain gandrung pada musik, sebenarnya mereka juga punya alasan lain. ”Dengan menikmati musiknya, kami sekaligus belajar mengucapkan kata-kata bahasa Inggris,” lanjut pemuda yang menggemari band Avenged Sevenfold ini.

Pada akhir bulan Ramadhan (pertengahan September) lalu, sejumlah santri bernyanyi dan bermain gitar sambil menunggu jadwal mudik. Penampilan mereka santai: berkaus, tanpa sarung dan peci, bahkan ada yang bergaya mirip detektif dengan fedora hat, topi yang sering dikenakan penyanyi Tompi. Bukankah itu gaya anak gaul hari ini?

Gaya hidup terbuka juga berdenyut dalam kehidupan sehari-hari di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Para santri boleh bergaul dengan budaya pop. Saat menyambut tahun ajaran baru, misalnya, digelar acara Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy, yang antara lain berisi lomba olah vokal.

Pada momen itu, para santri menyanyikan lagu-lagu pop, katakanlah, seperti grup Nidji atau ST12. Selain berdendang, mereka mahir memainkan gitar, drum, atau keyboard. ”Silakan saja, asalkan lagu-lagunya tidak bernada asmara yang cengeng dan murahan,” kata Wakil Direktur Kulliyatul Mu’allimin al Islamiyah (Lembaga Pendidikan Tingkat Menengah) Nur Hadi Ihsan.

Kehidupan Pesantren Pabelan dan Gontor memang sangat cair. Para santri asyik bergumul dengan budaya Barat, termasuk dengan ikon pop Amerika. Ini seperti menyempal dari citra umum pesantren selama ini: asrama tradisional, berjarak dari dunia luar, serta para santri bersarung-berpeci yang berkutat dengan kitab-kitab berbahasa Arab.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X