Antaripar Kok Bersaing?

Kompas.com - 08/09/2010, 13:44 WIB
EditorNadia Felicia

KOMPAS.com — Psikolog Hedy Anggrheini menerangkan, umumnya kaum perempuan memang cenderung bersaing dengan sesama ipar. Alasannya, mereka biasanya lebih ekspresif dan sangat ingin diperhatikan serta dianggap dalam lingkungan sosial. Namun, menurut Hedy, perempuan yang berpendidikan jarang bertindak seperti itu. "Kalau kaum pria memang kurang tertarik pada persaingan seperti itu," kata Hedy lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Oleh karena itu, jarang sekali persaingan antaripar terjadi antara ipar perempuan dan ipar pria atau sesama ipar pria.

Mengambil hati mertua
Hedy mengatakan, biasanya alasan utama persaingan para menantu atau antaripar perempuan adalah untuk menarik perhatian mertua dan keluarga besar suami. Tujuannya tentu agar mereka dianggap menantu terbaik atau kesayangan. Ketika berhasil, mereka merasa bangga punya posisi yang kuat dibandingkan yang lain. Apalagi bila mertua adalah orang yang terpandang secara sosial ataupun finansial.

Sebenarnya, menurut Hedy, persaingan memperoleh perhatian mertua dan ingin menjadi menantu kesayangan itu tidak selalu negatif. Bisa saja positif. Misalnya, mereka berlomba-lomba mengurus kebutuhan mertua, mulai dari menyiapkan makanan favorit, memerhatikan kesehatan, atau mengajak mertua tinggal serumah. Seharusnya sesama ipar kompak memberikan perhatian itu. Ayah dan ibu mertua mereka tentu senang mendapat perhatian dari semua menantunya. Sejauh hal tersebut bukan karena tujuan yang terselubung. Misalnya, merawat mertua karena berharap mendapat warisan atau lainnya.

Selain berlomba-lomba memberikan perhatian kepada mertua, berikut persaingan yang juga sering terjadi pada ipar perempuan:
* Memamerkan harta
Ajang pamer kekayaan bisa dilihat dari pakaian, sepatu, tas, perhiasan, gadget, atau mobil yang mereka gunakan saat pertemuan keluarga. Atau bisa juga berlomba-lomba memberikan barang mahal untuk mertua. Situasi ini memicu mereka selalu tampil menjadi yang paling kaya. Jadi, mereka tidak mau kalah bila ada yang memberi barang baru dan mahal. Persaingan ini sering menyusahkan suami karena tuntutan finansial sang istri.

* Menunjukkan kesuksesan suami

Para ipar sering membanggakan kesuksesan karier sang suami. Bagi mereka, kesuksesan suami adalah kesuksesan mereka juga. Mereka berharap mertua akan memuji keberhasilan peran mereka.

* Memamerkan kecakapan dan kepintaran anak
Buah hati bahkan tak luput dari persaingan. Para ipar akan membanggakan prestasi anak mereka di hadapan keluarga besar. Yang menjadi bulan-bulanan tentu anak-anak itu. Tanpa tahu masalah sebenarnya, mereka harus mengikuti tuntutan ego ibu masing-masing.

Peran pasangan dan mertua
Persaingan antaripar sangat mungkin berujung pertengkaran atau perang dingin. Mereka tak saling bertegur sapa atau bahkan adu mulut di setiap pertemuan keluarga besar. Persaingan mereka bahkan memicu pertengkaran di antara para suami. Saudara kandung yang semula rukun berubah menjadi saling memusuhi. Tak jarang juga mereka menghasut mertua untuk membenci ipar yang lain.

Bila kemungkinan-kemungkinan itu terjadi, peran pasangan dan mertua untuk menjadi pihak yang netral sangat diperlukan. Jangan sampai suami dan mertua ikut terhasut. Pasangan dan mertua harus meleraikan pertengkaran dan peka melihat gelagat persaingan terselubung antaripar perempuan. Bila sudah "mencium" persaingan yang tidak sehat, suami sebaiknya memberikan nasihat kepada istri. Mertua pun diharapkan tidak membedakan perhatian dan kasih sayang kepada para menantu.

Hedy mengatakan, seharusnya para ipar perempuan menyadari bahwa sebenarnya mereka adalah bagian dari keluarga besar. Sebagai keluarga seharusnya mereka kompak dan saling menghormati. Mereka juga bisa saling berbagi pengalaman dalam mengurus dan mendidik anak. Selain itu, seharusnya situasi ini bisa dimanfaatkan untuk mengenal karakter masing-masing suami yang mungkin saja mirip karena diasuh oleh orangtua yang sama. Mereka bisa saling mendukung karena sama-sama merupakan pihak luar yang bergabung ke dalam sebuah keluarga.

Hedy menyarankan kegiatan bersama yang bisa mengakrabkan para ipar. Beberapa aktivitas itu adalah adalah berlibur bersama, masak bersama, saling bertukar resep, atau arisan. Lewat acara itu mereka bisa saling mengenali sifat dan kebiasaan masing-masing. Acara tersebut tak harus sering dilakukan. Yang penting rutin dan berkualitas dalam pertemuannya.

(Emy Agustia/Majalah Sekar)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.