Senapan Buru dan Setangkai Mawar FAHIRA

Kompas.com - 05/09/2010, 03:14 WIB
Editor

Putu Fajar Arcana

Dalam tubuh Fahira Idris mengalir dua kekuatan. Ia pemburu yang jitu dan juga pencinta mawar sejati. Sulit menceritakan mengapa dua kekuatan yang tampak berada dalam kutub bertentangan itu bisa bersenyawa dalam satu tubuh: seorang perempuan! Tetapi, inilah kenyataannya....

Pada kesempatan pertama sebagai pemburu magang, April 2005 di Bengkulu, Ira—demikian ia disapa—telah menembak sembilan ekor babi hutan. Terdengar sadis dan berdarah-darah bukan? ”Anehnya, saya tidak merasakan apa-apa saat pelatuk ditarik dan seekor babi roboh dalam jarak 100-300 meter,” tutur Ira dingin.

Kami berdua sedang ”terperangkap” dalam keriuhan pesta makan malam. Setidaknya obrolan awal pekan lalu itu dua kali ”diinterupsi” oleh dua kelompok anak muda yang sedang memberi kejutan kepada sahabatnya yang sedang berulang tahun.

Ira mengaku tidak merasa deg-degan saat peluru melesat dan menembus jantung babi. Padahal, darah siap muncrat dan sepotong nyawa meregang. ”Babi yang kami buru, babi hama. Babi yang mengganggu tanaman petani karena jumlahnya sangat banyak. Kami tidak menghabisi, tetapi mengurangi jumlahnya. Dan, hanya babi...,” ujar putri mantan Menteri Tenaga Kerja Fahmi Idris ini berapi-api.

Terdengar seperti sebuah pembelaan memang. Tetapi, para pemburu punya kode etik yang keras: tidak boleh membunuh binatang yang dilindungi, pembunuhan hanya berarti pengurangan populasi dan bukan menghabisi.

”One shoot, one killed!” seru Ira. Maksudnya, sangat diharamkan seorang pemburu menembak babi sampai dua atau tiga kali. ”Sekali tembak harus mati dan karena itu yang dibidik adalah jantung atau kepala babi,” tambah Ira.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sejak tahun 2005 itu sampai kini, Ira setidaknya berburu dua kali dalam setahun. Ia siap hidup di hutan-hutan di kawasan Bengkulu, Jambi, Palembang, Lampung, dan Aceh selama berhari-hari. Asal tahu, perburuan hanya dilakukan pada malam hari dengan mencegat kawanan babi yang sedang turun gunung. Pernah dalam satu perburuan Ira bersama tim pemburunya menembak sampai 30 ekor babi hutan! Wow?

”Eh, tapi dagingnya kita serahkan kepada kebun binatang untuk makanan hewan,” kata Ira buru-buru. Ia memang amat khawatir dituduh sebagai pembunuh berdarah dingin. Tak canggung mencabut nyawa, tak ngeri melihat darah, tak jera menyaksikan hewan-hewan bergelimpangan. Kejam? Tunggu dulu....

Harum

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X