Nasyid yang Semakin Adaptif

Kompas.com - 14/08/2010, 15:03 WIB
Editor

Dalam satu dekade terakhir, kelompok nasyid tumbuh subur di Yogyakarta. Tak hanya bertambah secara kuantitas, keberadaan mereka juga semakin mendapatkan tempat di masyarakat. Kemampuan adaptasi mereka mulai dari lirik, penampilan, dan kreativitas memainkan alat musik menjadi pemicu.

Berdasarkan data Asosiasi Nasyid Nusantara Cabang Yogyakarta, jumlah kelompok nasyid yang resmi bergabung tercatat 47 kelompok. Di luar asosiasi masih ada ratusan kelompok mulai dari komunitas anak- anak SMA, kuliah, dan komunitas masjid.

Ahmad Faishal, manajer sekaligus vokalis Suara Syuhada, Jumat (13/8), mengatakan, nasyid sekarang lebih dinamis dan tidak kaku seperti pada awal kemunculannya. "Dari sisi penampilan, misalnya, dulu kami masih menggunakan baju agamis atau jubah panjang. Sekarang, kami mulai ganti dengan baju-baju yang lebih trendi," katanya.

Dari sisi lirik, nasyid lama hanya berisikan tema-tema soal kecintaan kepada Allah dan RasulNya. Sekarang liriknya lebih banyak bercerita soal ajakan-ajakan kebaikan secara umum. Misalnya saja, ajakan untuk senyum, puasa, shalat, atau menjalin silaturahmi antarsesama.

Perubahan nasyid juga terlihat dari arena atau lokasi untuk memainkannya. Dulu nasyid hanya dikumandangkan di masjid-masjid khususnya saat acara pengajian. Kini, nasyid lebih terbuka dengan masuk ke kafe-kafe.

"Biasanya saat Ramadhan seperti sekarang, kami tampil di sejumlah kafe seperti Java Cafe dan Liquid. Masuknya kami ke dunia kafe harus dilihat dari spiritnya, yakni ingin berdakwah menyuarakan pesan-pesan kebaikan," katanya.

Muhammad Aga, Manajer Justice Voice, mengatakan, adaptasi nasyid juga terlihat dari munculnya sejumlah kelompok nasyid perempuan. Pada masa awal, perempuan tidak diperbolehkan mendirikan kelompok nasyid karena pemahaman suara perempuan sebagai aurat. Namun, dalam perkembangannya, pemahaman tersebut semakin terkikis karena tidak semua suara perempuan masuk kategori aurat. "Yang masuk aurat misalnya jeritan atau desahan yang bisa menimbulkan syahwat," katanya.

Meskipun suara perempuan diperbolehkan, sebagian besar kelompok nasyid belum menggabungkannya dengan suara laki-laki. Jadi masih jarang nasyid kombinasi antara suara perempuan dan laki-laki. Aga menambahkan, nasyid sekarang tampil lebih dinamis karena mulai diiringi banyak alat musik. Alat musik yang dulunya diharamkan kini diterima sebagai bentuk hiburan. Yang terpenting adalah isi lagunya. Genre musik juga tidak lagi dipersoalkan; mau pop, keroncong, ataupun dangdut, yang penting pesan moralnya.

Berbagai adaptasi yang dilakukan nasyid dalam menangkap dinamika zaman membuatnya terus bertahan, bahkan tumbuh subur saat ini. Setiap tahun selalu digelar festival nasyid untuk mencari bibit unggul. Di kancah nasyid nasional, Yogyakarta menjadi salah satu barometernya selain Jakarta dan Bandung. (ENY)  



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Suap Pengurusan DAK, Kepala Bappenda Labuhanbatu Utara Segera Disidang

Kasus Suap Pengurusan DAK, Kepala Bappenda Labuhanbatu Utara Segera Disidang

Nasional
Jaksa Pinangki: Saya Tetap Merasa Bersalah dan Tidak Pantas...

Jaksa Pinangki: Saya Tetap Merasa Bersalah dan Tidak Pantas...

Nasional
Cegah Skenario Terburuk Covid-19, Pemerintah Diminta Siap di Hilir dan Tegas di Hulu

Cegah Skenario Terburuk Covid-19, Pemerintah Diminta Siap di Hilir dan Tegas di Hulu

Nasional
Tindaklanjuti Rencana Menkes Soal Data Vaksinasi Covid-19, KPU Segera Gelar Rakornas

Tindaklanjuti Rencana Menkes Soal Data Vaksinasi Covid-19, KPU Segera Gelar Rakornas

Nasional
YLKI Nilai Komunikasi Publik Buruk Jadi Penyebab Ketidakpercayaan Masyarakat pada Vaksin

YLKI Nilai Komunikasi Publik Buruk Jadi Penyebab Ketidakpercayaan Masyarakat pada Vaksin

Nasional
Rumah Sakit Penuh, Ketum PERSI: Masyarakat, Tolong Kasihani Kami

Rumah Sakit Penuh, Ketum PERSI: Masyarakat, Tolong Kasihani Kami

Nasional
Menkes Perintahkan Rumah Sakit di Tiap Zona Covid-19 Tambah Kapasitas Tempat Tidur

Menkes Perintahkan Rumah Sakit di Tiap Zona Covid-19 Tambah Kapasitas Tempat Tidur

Nasional
Kasus Covid-19 Lewati 1 Juta, Satgas: Kasus Aktifnya 100.000 Lebih

Kasus Covid-19 Lewati 1 Juta, Satgas: Kasus Aktifnya 100.000 Lebih

Nasional
Satgas Sebut Pemantauan Pelaksanaan Protokol Kesehatan Meningkat Selama PPKM

Satgas Sebut Pemantauan Pelaksanaan Protokol Kesehatan Meningkat Selama PPKM

Nasional
Masinton Pasaribu: Jika Pam Swakarsa Sama seperti 1998, Lebih Baik Dihentikan

Masinton Pasaribu: Jika Pam Swakarsa Sama seperti 1998, Lebih Baik Dihentikan

Nasional
Klaim Tak Ada Uang Diterima, Kuasa Hukum Minta Pinangki Dibebaskan dari Tuntutan

Klaim Tak Ada Uang Diterima, Kuasa Hukum Minta Pinangki Dibebaskan dari Tuntutan

Nasional
Kemenkes: Tercatat 1.600 Lebih Rumah Sakit yang Melaksanakan Layanan Covid-19

Kemenkes: Tercatat 1.600 Lebih Rumah Sakit yang Melaksanakan Layanan Covid-19

Nasional
Hadapi Lonjakan Kasus Covid-19, Pertamedika Siapkan Ruang Isolasi hingga Hotel

Hadapi Lonjakan Kasus Covid-19, Pertamedika Siapkan Ruang Isolasi hingga Hotel

Nasional
Epidemiolog: Data Pasien Covid-19 Meninggal Meningkat 3 Bulan Terakhir karena Kapasitas RS Sudah Penuh

Epidemiolog: Data Pasien Covid-19 Meninggal Meningkat 3 Bulan Terakhir karena Kapasitas RS Sudah Penuh

Nasional
UPDATE: Sebaran 11.948 Kasus Baru Covid-19, Jabar Tertinggi dengan 3.198

UPDATE: Sebaran 11.948 Kasus Baru Covid-19, Jabar Tertinggi dengan 3.198

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X