Tradisi "Manten Kopi" di Banyuwangi - Kompas.com

Tradisi "Manten Kopi" di Banyuwangi

Kompas.com - 31/07/2010, 11:37 WIB

KOMPAS.com -  Tidak hanya pada musim giling tebu, di awal giling kopi pun ada tradisi seni yang menjadi ciri khas masyarakat agraris di Jawa Timur. Tradisi itu adalah ritual "manten kopi", wujud doa masyarakat kepada Tuhan YME, supaya selama proses giling dijauhkan dari berbagai marabahaya serta diberi limpahan rezeki.      Begitulah gambaran singkat proses awal giling kopi di PTP Nusantara XIII, Kebun Kaliselogiri, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur. Saat itu, hadir pula Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari dan Kapolres Banyuwangi AKBP Slamet Hadi.      Prosesi "manten kopi" tidak bedanya dengan ritual "manten tebu" di setiap awal giling di pabrik gula, yakni mempertemukan biji kopiatau perempuan (terbelah) dengan kopi laki (bundar). Pertemuan sampel biji kopi "wedok" (perempuan) dengan biji kopi "lanang" (laki-laki) tersebut diwujudkan dalam bentuk janji antara asisten tanaman (kepala afdeling) dan manajer kebun yang dulu lebih akrab disapa dengan administrator.       Kepala afdeling punya tanggung jawab moral kepada manajer kebun supaya terus menjaga kualitas dan kuantitas biji kopi yang dipanen dari kebun yang berada di lereng Gunung Ijen tersebut. Biji kopi yang berkualitas adalah biji kopi yang dipanen saat biji kopi sudah berwarna merah. Di sinilah asisten tanaman bertanggung jawab untuk tetap menjaga kualitas biji kopi dengan jumlah produksi yang lebih besar lagi.       Setelah ditandai acara penyerahan biji kopi perempuan dan laki, ritual dilanjutkan dengan memasukkan biji-biji kopi tadi ke mesin penggilingan. Saat itulah penari gandrung dengan iringan musiknya yang rancak menuju ruangan sortasi.      Di ruangan ini tiga penari gandrung menari tiada henti. Sebagai kelengkapannya, pihak kebun menyiapkan beberapa sesaji, di antaranya kepala sapi lengkap dengan "ubarampenya" (perlengkapan sesaji). Setelah itu, para undangan dan seluruh keluarga besar kebun kembali berkumpul di aula untuk menikmati sajian makanan berupa bubur merah, polo pendem, dan nasi tumpeng. Tidak lupa ayam engkung, yakni ayam kampung utuh yang disajikan setelah diberi rempah-rempah.      Sebelum acara makan bersama dimulai, kegiatan ditutup terlebih dahulu dengan doa bersama yang dipimpin pemuka masyarakat setempat. Kegiatan pentas penari gandrung tradisonal akan dilanjutkan lagi pada malam harinya, selama semalam suntuk. Nuansa magis      Tarian gandrung yang lahir di masa perjuangan itu, menurut budayawan senior Banyuwangi Hasnan Singodimayan, merupakan tarian yang seringkali ditampilkan pada kegiatan ritual. Mengapa? Karena tarian gandrung yang penuh dengan nuansa magis tersebut, kata dia, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan prosesi kegiatan ritual lainnya.      Menurut Hasnan, penampilan penari gandrung menjadi penunjang pelaksanaan acara tersebut. Di Banyuwangi, hanya ada dua ritual masyarakat setempat yang tidak menyertakan seorang penari gandrung. Kegiatan itu ialah seblang kemiren dan seblang bakungan. Mengapa? Karena seblang merupakan cikal bakal dari lahirnya penari gandrung.      Sehingga tidak mengherankan bila kegiatan tradisi lain di Banyuwangi selalu menampilkan kelompok penari gandrung. Hasnan mencontohkan, gara-gara gandrung itu pernah berurusan dengan aparat kepolisian. Saat itu, cerita Hasnan, ia diundang acara penglepasan kapal ikan yang bertepatan pada bulan puasa. Karena untuk menghormati bulan itu, panitia sengaja tidak menampilkan Gandrung Terop.      Namun, di luar dugaan, entah karena kebetulan, kapal yang dilepas itu macet. Padahal air laut saat itu cukup besar, tetapi belum bisa untuk menghanyutkan kapal dari galangannya.      "Saat itulah saya diminta panitia untuk menghubungi kelompok Gandrung Terop. Karena bertepatan dengan bulan puasa, hal itu sempat terjadi kesalahpahaman dengan aparat kepolisian. Namun setelah ada penjelasan semuanya bisa berjalan. Dan, setelah ada pementasan Gandrung Terop, hanya beberapa menit kemudian kapal tersebut bisa lepas dari galangannya," ungkap Hasnan.      Sama seperti halnya pada "manten kopi" yang diadakan setiap mengawali musim giling kopi di Perkebunan Kaliselogiri, tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun silam itu mengharap agar selama proses penggilingan kopi dijauhkan dari marabahaya serta produksinya berlimpah.      Di sini pementasan Gandrung Terop menjadi penunjang panjatan doa kepada sang pencipta alam semesta. Karena itu, penampilan penari gandrung dalam acara itu tidak sekadar dalam penyambutan tamu diawal prosesi giling kopi yang mempertemukan kopi wedok dan kopi lanang. Namun pihak perkebunan juga menampilkan secara utuh pementasan Gandrung Terop semalam suntuk.

Silaturahim      Menurut Sigit Prakoso, ritual manten kopi di Kebun Kali Selogiri sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Selain sebagai ungkapan rasa syukur dengan tibanya musim panen kopi, ritual tersebut juga dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahim sesama keluarga kebun.      Perkebunan Kali Selogiri merupakan perkebunan kopi robusta yang berada di lereng Gunung Ijen. Dengan areal seluas 734 hektare, Kebun Kaliselogiri terus berupaya meningkatkan produksinya. Terbukti bila pada tahun 2009 produksi Kebun Kaliselogiri hanya 409 ton, pada 2010 produksinya mencapai 800 ton.      Bahkan, masih dimungkinkan untuk menaikkan produksi kopi robusta tersebut hingga 1.000 ton. Peningkatan jumlah produksi kopi Kebun Kaliselogiri itu, kata Sigit, tidak terlepas dari intensifikasi areal tanaman kopi. Selain mengoptimalkan pengelolaan tanaman, termasuk pemupukan, pihaknya tahun ini juga melakukan pembukaan tanaman naungan untuk membuka lebih besar penyinaran matahari ke tanaman kopi yang ada.      Bila pada 2009, pemangkasan tanaman naungan lamtoro hanya menghasilkan kayu bakar antara 1.000 sampai 2.000 meter kubik, pada 2010, jumlah kayu bakar hasil membuka naungan mencapai 7.000 meter kubik.      "Hasilnya ternyata cukup berpengaruh terhadap peningkatan produksi kopinya yang kami perkirakah lebih dari 100 persen," ucapnya menjelaskan.      Ia menambahkan, peningkatan produksi kopi kebunnya sangat tepat. Pasalnya, saat ini harga kopi robusta dunia mencapai 2,75 dolar AS per kilogramnya.      Selain itu, pihaknya juga tengah merintis pengelolaan kopi luwak robusta secara alami. Untuk tahap awal pihaknya mentargetkan produksi kopi luwak alami sebanyak satu ton.      Berbagai persiapan telah dilakukan PTP Nusantara XII Kebun Kaliselogiri, di antaranya menyiapkan lahan kopi dengan lingkungan yang cukup bersih. Pasalnya, luwak yang termasuk hewan mamalia itu lebih menyukai lokasi yang bersih untuk buang kotorannya.      "Sehingga, kami tidak perlu menyiapkan kandang untuk memelihara luwak-luwak tersebut. Selain lebih menjamin keasliannya, luwak yang dibiarkan bebas juga lebih selektif dalam memakan biji-biji kopi yang benar-benar masak," papar Sigit. Harga kopi luwak saat ini menggiurkan, satu kilogramnya bisa mencapai Rp 1 juta.


EditorIgnatius Sawabi

Terkini Lainnya


Close Ads X