Konspirasi Dana Aspirasi

Kompas.com - 07/06/2010, 08:28 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

Oleh Saldi Isra *

KOMPAS.com — Sepertinya, gugatan bagi anggota DPR yang tidak peduli dengan aspirasi rakyat segera akan terjawab. Jalan pintas yang dipilih untuk menjawab gugatan tersebut: APBN akan menyediakan dana segar bagi setiap anggota DPR untuk memenuhi aspirasi warga di daerah pemilihan mereka masing-masing.

Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai Rp 15 miliar bagi setiap anggota DPR. Tak saja wah dari segi jumlah, tetapi juga dari segi nama, yaitu "dana aspirasi".

Sebagaimana dikemukakan Ketua Badan Anggaran DPR Harry Azhar Azis, gagasan menyediakan dana aspirasi itu dimaksudkan untuk lebih mengintensifkan pembangunan daerah dan menunjukkan kinerja anggota DPR dalam memenuhi kebutuhan penduduk di daerah pemilihan masing-masing. Usulan itu adalah satu usaha anggota DPR untuk melaksanakan sumpahnya memajukan rakyat di daerah pemilihan (Kompas, 4/6/2010).

Tak pelak, upaya jalan pintas untuk membangun citra bahwa anggota DPR peduli dengan aspirasi rakyat justru semakin menyudutkan DPR. Sulit untuk membantah bahwa dana aspirasi bukan dana politik.

Sesat tafsir

Secara konstitusional diakui, DPR memiliki fungsi anggaran. Dalam hal ini, Pasal 20A Ayat (1) UUD 1945 menyatakan, DPR memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Khusus untuk fungsi anggaran, DPR hanya dimungkinkan untuk membahas dan menyetujui RAPBN.

Berdasarkan konstruksi hukum tersebut, upaya sejumlah anggota DPR mendorong dana aspirasi karena alasan telah berjanji (saat kampanye) dapat dikatakan sebagai sesat tafsir terhadap fungsi anggaran yang diatur dalam UUD 1945. Sebagai lembaga perwakilan rakyat, fungsi konstitusional dalam penganggaran menjadi bagian yang melekat dengan fungsi legislasi dan fungsi pengawasan DPR.

Sadar atau tidak, ketika mengusulkan dana aspirasi, mereka sedang menggadaikan makna hakiki DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat. Menjadi mudah dipahami, ketika ikut mengajukan program (dana aspirasi), DPR tidak hanya akan mengalami penumpulan fungsi pengawasan, tetapi semakin membenarkan tudingan yang mulai berkembang akhir-akhir ini: sebagian anggota DPR sebenarnya adalah sosok eksekutif yang menggunakan jubah legislatif. Dengan perilaku seperti itu, hampir dapat dipastikan bahwa dalam proses pembahasan RAPBN, DPR kehilangan daya kritisnya membahas program-program yang diajukan pemerintah.

Sejumlah catatan dan pengalaman pengelolaan keuangan negara yang pernah ada, DPR bukanlah lembaga perwakilan pertama yang berupaya melakukan "terobosan" untuk menggelontorkan uang negara dengan dalih menindaklanjuti aspirasi rakyat. Pada periode 1999-2004, dengan alasan yang nyaris sebangun dengan rencana DPR, anggota DPRD Sumatera Barat memperkenalkan dana aspiratif. Ketika itu, setiap anggota DPRD disediakan dana segar Rp 200 juta untuk disalurkan di tempat pemilihan.

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Komisi III dan Menkumham Rapat Virtual Bahas Penanganan Covid-19 di Lapas

    Komisi III dan Menkumham Rapat Virtual Bahas Penanganan Covid-19 di Lapas

    Nasional
    Pengamat: Jika Karena Covid-19 DPR Berhenti Bahas RUU, Justru Salah...

    Pengamat: Jika Karena Covid-19 DPR Berhenti Bahas RUU, Justru Salah...

    Nasional
    Sempat Kesulitan Dapat RS Rujukan, 2 PDP Corona di Bantul Meninggal

    Sempat Kesulitan Dapat RS Rujukan, 2 PDP Corona di Bantul Meninggal

    Nasional
    Pakar: Masker Bedah 3 Kali Lebih Efektif Cegah Penularan Virus

    Pakar: Masker Bedah 3 Kali Lebih Efektif Cegah Penularan Virus

    Nasional
    Pembatasan Sosial Berskala Besar, Siapa Penanggung Kebutuhan Dasar Warga?

    Pembatasan Sosial Berskala Besar, Siapa Penanggung Kebutuhan Dasar Warga?

    Nasional
    Peringati Hari Penyiaran Nasional, Televisi dan Radio Diminta Ikut Lawan Covid-19

    Peringati Hari Penyiaran Nasional, Televisi dan Radio Diminta Ikut Lawan Covid-19

    Nasional
    Pembatasan Sosial Berskala Besar Bisa Dilakukan Pemerintah Pusat dan Daerah

    Pembatasan Sosial Berskala Besar Bisa Dilakukan Pemerintah Pusat dan Daerah

    Nasional
    Masih Pakai Masker Kain untuk Cegah Virus? Simak Penjelasan Pakar...

    Masih Pakai Masker Kain untuk Cegah Virus? Simak Penjelasan Pakar...

    Nasional
    Pembatasan Sosial Berskala Besar, Efektifkah Lawan Corona?

    Pembatasan Sosial Berskala Besar, Efektifkah Lawan Corona?

    Nasional
    Pembatasan Sosial Berskala Besar Berhak Batasi Orang Keluar Masuk Suatu Daerah

    Pembatasan Sosial Berskala Besar Berhak Batasi Orang Keluar Masuk Suatu Daerah

    Nasional
    Dipimpin Anis dan Fahri, Partai Gelora Resmi Daftar ke Kemenkumham

    Dipimpin Anis dan Fahri, Partai Gelora Resmi Daftar ke Kemenkumham

    Nasional
    Perpanjang WFH, Jaksa Agung Minta Jajarannya Jaga Jarak dengan Medsos

    Perpanjang WFH, Jaksa Agung Minta Jajarannya Jaga Jarak dengan Medsos

    Nasional
    Stigma Negatif Akan Menambah Beban Psikologis ODP akibat Covid-19

    Stigma Negatif Akan Menambah Beban Psikologis ODP akibat Covid-19

    Nasional
    Mahfud Tegaskan Pemerintah Tak Berencana Terapkan Darurat Sipil

    Mahfud Tegaskan Pemerintah Tak Berencana Terapkan Darurat Sipil

    Nasional
    Tantangan Mitigasi Covid-19 di Tengah Masyarakat Komunal, Agamis, Namun Pragmatis

    Tantangan Mitigasi Covid-19 di Tengah Masyarakat Komunal, Agamis, Namun Pragmatis

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X