Presiden Terima Lech Walesa

Kompas.com - 12/05/2010, 10:52 WIB
Editormbonk

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan kehormatan mantan Presiden Polandia Lech Walesa di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (12/5/2010). Lech Walesa dijadwalkan memberikan presidential lecture di Istana Negara pada Rabu siang.

Pada kesempatan itu, baik Presiden Yudhoyono maupun Walesa mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna coklat keemasan.

Sebelum memberikan presidential lecture, Walesa diterima Presiden di Ruang Jepara, Istana Merdeka. Kedua tokoh berbincang-bincang selama kurang lebih 30 menit. Turut mendampingi Presiden antara lain Menteri Luar Negeri  Marty Natalegawa dan Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal. Walesa melakukan lawatan selama 10 hari di Indonesia sejak 8 Mei lalu.

Menurut Duta Besar Polandia untuk Indonesia Tomasz Lukaszuk, kunjungan Lech Walesa ke Indonesia merupakan isyarat bahwa hubungan dan kerja sama kedua negara meningkat dan bertambah erat tahun demi tahun. Ia mengatakan bahwa Walesa tidak saja akan membicarakan isu-isu global dengan para pejabat tinggi Indonesia yang ditemuinya, tetapi juga merintis kerja sama di bidang industri perkapalan.

"Lech Walesa memiliki pengetahuan dan pengalaman luas mengenai seluk-beluk industri perkapalan ketika ia masih bekerja di galangan kapal Gdansk dan memimpin organisasi buruh Solidaritas di sana," tambah Tomasz.

Di antara lawatannya di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali, Walesa, yang kini memimpin Institut Lech Walesa, menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Bali Democracy Institute di Universitas Udayana, Denpasar. Institut Lech Walesa telah menjalin kerja sama serupa dengan beberapa organisasi di Eropa dan Amerika Serikat dalam upaya untuk mendorong demokrasi.

Lech Walesa adalah peraih Nobel Perdamaian tahun 1983 saat Polandia masih dikuasai rezim komunis yang bersekutu dengan Uni Soviet. Pemerintah Polandia menandatangani satu perjanjian yang antara lain mengizinkan kegiatan serikat buruh independen dan menghentikan tindakan pengekangan maupun tekanan-tekanan terhadap anggota oposisi prodemokrasi pada 31 Agustus 1980.

Dampak dari perjanjian itu, untuk pertama kali terbentuk suatu organisasi demokratik besar, Serikat Buruh Independen dan Bebas Solidarnosc (Solidaritas), di blok negara-negara komunis, dengan Lech Walesa sebagai pemimpinnya. Namun, hal itu tak berlangsung lama.

Rezim komunis Soviet dan Pemerintah Polandia yang sehaluan tidak senang dengan berbagai kegiatan kelompok-kelompok independen, termasuk Solidarnosc. Pada 13 Desember 1981, Pemerintah Polandia mengumumkan status negara dalam keadaan perang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.