Jalan Persatuan Lech Walesa

Kompas.com - 10/05/2010, 06:00 WIB
Editoraegi

JAKARTA, KOMPAS.com - Berbekal pengalaman meruntuhkan dominasi komunis pada akhir 1980-an, mantan Presiden Polandia Lech Walesa menawarkan ide besar untuk membangun dunia yang lebih baik. Sebuah persatuan yang berlandaskan nilai-nilai bersama dan tekad yang pantang surut adalah jalannya.

Walesa hadir dalam sebuah acara bincang-bincang bertajuk Menakar Proses Transisi: Dari Otoritarianisme Menuju Demokrasi yang diprakarsai Asosiasi Alumni Yesuit Indonesia, Minggu (9/5) di Kolese Kanisius, Jakarta. Turut hadir Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif, dan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Franz Magnis Suseno, SJ.

”Seperti yang Anda tahu, saya seorang politisi. Saya terbiasa berbicara di mimbar, karena itu saya memintanya. Sebagai politisi, saya banyak berbicara, tetapi tidak selama Fidel Castro yang berbicara 4 jam tanpa orang tahu apa yang dibicarakannya,” kata Walesa mengawali pidatonya, yang segera disambut tawa hadirin.

Berbicara dalam bahasa Polandia, dan dibantu penerjemah dalam bahasa Inggris, Walesa membawakan ”pesan besar” yang ingin disampaikannya. Diselingi kelakar-kelakar yang mengundang tawa, penerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 1983 itu membagi pengalaman untuk menyemangati perjalanan demokrasi di Indonesia serta harapannya terhadap dunia, khususnya Eropa.

”Masa lalu saya sangat kaya. Polandia, yang berada di jantung Eropa, telah mengalami banyak hal tragis. Kami mengalami lautan darah di Eropa. Hanya ada sedikit cinta di Eropa setelah apa yang kami alami,” ujarnya.

”Hari ini, benua itu telah bersatu. Semua negara membuka perbatasan dan bisa bersatu membangun kemajuan di Eropa,” katanya.

Akan tetapi, bagi seorang revolusioner seperti dirinya, itu semua belum cukup. Bagi Walesa, sistem ekonomi dan politik yang ada sekarang tidak cukup menjawab tantangan global. ”Saya terus mencari jawaban atas pertanyaan bagaimana membangun Eropa yang bersatu dan sesuai dengan kondisi dunia saat ini,” ujarnya.

Atasi perbedaan
Walesa meyakini, langkah pertama untuk memulainya adalah menemukan nilai-nilai bersama untuk mengatasi perbedaan. Pengalaman Polandia, lanjut dia, menunjukkan, tanpa nilai-nilai bersama itu, Polandia tidak akan sampai sejauh sekarang ini: berada di jajaran negara demokratis dan anggota Uni Eropa dan NATO.

Tiga puluh tahun lalu, saat mulai memimpin revolusi di negaranya lewat gerakan Solidarnosc (Solidaritas), Walesa menghadapi tantangan besar. Tentara Uni Soviet di satu sisi, pasukan Polandia di sisi lain, yang siap menghancurkan gerakannya.

Mantan pekerja galangan kapal itu menggerakkan para buruh untuk mogok menuntut perbaikan taraf hidup, pengaturan sistem pemerintahan, dan akses terhadap media. Pemerintah Polandia yang berkuasa waktu itu mengumumkan negara dalam keadaan darurat perang untuk meredam gerakan Solidarnosc.

Keadaan darurat perang tidak cukup untuk menghentikan momentum yang telah diraih Solidarnosc. Akhirnya, pemerintah berunding dengan Solidarnosc yang lalu menuntun pada kekalahan rezim komunis.

Solidarnosc menjadi partai politik dan memenangi pemilu pada 4 Juni 1989 secara mutlak. Walesa terpilih sebagai presiden tahun 1990-1995.

”Saya meyakini apa yang saya lakukan. Maka, tujuan saya berbicara di sini adalah membuat Anda yakin pada diri Anda sendiri,” ujar Walesa.

Semua capaian Polandia sekarang, kata Walesa, adalah hasil dari sejarah dan masa lalu. Polandia telah berhasil meminggirkan sejumlah perbedaan dan berusaha mengatasi sejumlah perbedaan lainnya.

Tak hanya itu, Polandia berusaha keras mengejar ketinggalan dari negara-negara lain yang telah lebih dulu menerapkan demokrasi. Dengan jeli, negara itu mempelajari demokrasi yang telah teruji di berbagai negara dan menerapkannya.

”Kami menuju arah yang benar dalam perubahan. Polandia cepat belajar demokrasi, dan kami siap mengikuti pelajaran yang baik,” kata Walesa.

Bukan lelucon
Setelah melewati proses transisi itu, satu impian Walesa yang masih ingin dicapainya adalah membangun sebuah ”Eropa Serikat”, di mana terdapat struktur yang lebih kuat dan bersatu dalam menjawab tantangan global.

”Anda sudah memulainya di sini. Barangkali nanti bisa saja muncul Asia Serikat. Ini terdengar seperti lelucon, tetapi ini sama sekali tidak lucu,” tutur Walesa.

Untuk itu diperlukan nilai-nilai bersama yang lebih besar lagi. Semakin besar strukturnya, semakin dibutuhkan nilai-nilai tersebut.

Separuh umat manusia meyakini bahwa semangat semacam itu sudah hilang. Akan tetapi, Walesa menegaskan, tidak ada hal yang tidak mungkin dilakukan.

”Dulu kami (Polandia) selalu bermusuhan dengan Jerman. Lihatlah kami sekarang, saling mencintai dan bekerja sama. Tak ada lagi pasukan menjaga perbatasan Jerman dan Polandia. Dan itu terjadi hanya satu generasi setelah revolusi saya. Jadi, jangan katakan (mimpi) itu tidak mungkin. Itu tidak benar,” ujar Walesa.(Fransisca Romana Ninik)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.