SEMANGAT "TRINIL" DI NEGERI KARTINI

Kompas.com - 21/04/2010, 13:38 WIB
Editor

Stan SMP Negeri 1 Mayong berbeda dengan stan-stan lain yang mengikuti Gebyar Mayong 2010 di Monumen Ari-ari Kartini, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Di pintu masuk stan itu tertulis slogan "Jangan Pernah Menyerah Sebelum Mencoba".

Di dalam stan tersebut terpajang aneka hasil karya siswa, seperti lukisan di atas kanvas, lukisan penghias keramik, dan keramik berbentuk guci, vas, dan patung. Tak lupa aneka trofi prestasi siswa turut menjadi penghias stan sekolah di negeri kelahiran Kartini itu.

"Slogan itu tak lepas dari semangat Kartini yang tak pernah menyerah memperjuangkan perempuan dan potensi lokal yang menghidupi rakyat waktu itu," kata Guru Seni Budaya SMPN 1 Mayong Mulyo Subagyo, Selasa (20/4).

Semangat itu bergaung hampir di seluruh peserta Gebyar Mayong 2010 yang sebagian besar terdiri dari para perajin dan ibu-ibu PKK 18 desa di Kecamatan Mayong.

Di sela-sela keriuhan gebyar itu tergaung pula lagu "Ibu Kita Kartini" dan "Desaku yang Kucinta". Lagu-lagu yang dinyanyikan para siswa SD, SMP, dan SMA itu semakin menghidupkan suasana Monumen Ari-ari Kartini.

Camat Mayong Rasidi mengatakan, melalui Gebyar Mayong 2010, panitia ingin menggaungkan Kartini yang berjasa bagi perempuan dan rakyat jelata. Panitia mengajak masyarakat menghidupkan terus "Si Trinil".

Trinil adalah julukan Kartini kecil yang berarti burung kecil. Kartini mendapat julukan itu dari ayahnya, RMAA Singgih Djojo Adhiningrat, karena polah tingkahnya yang cekatan, tidak bisa diam, dan tak kenal menyerah. "Orang Jawa tempo dulu kerap menyebut orang yang ubyek atau tidak bisa diam itu trinal-trinil," kata Rasidi.

Menurut Rasidi, semangat Kartini kecil itu konkret dihidupi warga Mayong karena Kartini lahir di Mayong. Di kompleks Kecamatan Mayong, dulu Kawedanan Mayong, terdapat ari-ari, tugu, dan sumur Kartini.

Ari-ari itu diletakkan di dalam kuali yang dikelilingi empat lampu dan disangga bunga teratai yang sedang merekah. Tidak jauh dari ari-ari itu, terdapat tugu yang dulu kamar Kartini dilahirkan dan sumur yang menjadi sumber air rumah Kartini. "Sumur berusia ratusan tahun ini masih digunakan untuk memenuhi pasokan air kantor Kecamatan Mayong. Saat kemarau, sumur itu terus mengeluarkan air," kata Rasidi.

Semangat Trinil dapat pula menjadi semangat para perajin, terutama perajin keramik yang sedang terpuruk. Mereka kesulitan memasarkan produk di luar negeri dan susah mendapat bahan baku.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam "Panggil Aku Kartini Saja" menyebutkan, Kartini mengenalkan kerajinan khas Jepara, terutama ukir dan batik, melalui tulisan-tulisannya. Pram mencatat dalam "Pameran Nasional untuk Karya Wanita" di Den Haag, Ratu Wilhelmina berkunjung ke stan "Java" dan membaca katalog.

Sang Ratu kagum terhadap tulisan berbahasa Belanda tentang pembuatan batik. Tulisan tanpa pencantuman nama penulis tersebut berjudul Handschrift Japara atau "Kerajinan Jepara". Penulis tersebut baru diketahui ketika Abendanon mempublikasikan surat-surat Kartini pada 1911.

Dalam satu surat bertanggal 6 November 1899 yang ditujukan kepada Estelle Zeehandelaar, Kartini menulis, "...Sebuah karangan tentang batik yang tahun lalu kutulis buat Pameran Karya Wanita, yang tak terdengar kabar beritanya, akan diterbitkan di dalam karya standar tentang batik, yang akan segera terbit." (HENDRIYO WIDI)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X