Orangtua "Serba Tahu" Bikin Anak Tak Maju

Kompas.com - 16/03/2010, 10:29 WIB
Editoracandra

JAKARTA, KOMPAS.com — Jadi orangtua yang serba tahu ternyata ada plus-minusnya. Salah satunya, anak mengalami ketergantungan yang tak perlu.

Banyak alasan mengapa orangtua "memaksakan" diri menjadi orangtua yang serba tahu. Setiap kali anak bertanya, ia mencoba menjawab semuanya. Bahkan, kalau tidak bisa, sedikit "ngarang" pun enggak masalah. Wah! Berikut hal-hal yang melatarbelakangi sikap tersebut:

- Ingin dianggap hebat atau sebagai sosok terbaik di mata anak.

- Ingin mendapat respek berlebih dari anak.

- Ingin menjalin kedekatan dengan anak.

- Berusaha melindungi anak dari informasi yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan visi orangtua.

Hambat langkah anak  untuk maju

Meski berbagai alasan diajukan dan bisa jadi "benar" untuk kondisi-kondisi tertentu, tetap saja menjadi orangtua yang selalu tahu ada dampak buruknya, antara lain:

* Kemungkinan menghambat pembentukan rasa percaya diri dan kemandirian anak. Ia jadi terbiasa mengandalkan orangtua untuk menjawab pertanyaan/persoalannya. Dalam jangka panjang, jika ketergantungan ini makin lama makin besar, bukan tak mungkin kesempatannya untuk maju meraih sukses jadi terganggu. Mengapa? Sebabnya, anak senantiasa merasa perlu mendapat "dukungan" penuh dari orangtuanya sebelum memutuskan sesuatu.

* Tak mendapat jawaban semestinya secara tuntas. Soalnya, belum tentu orangtua menguasai semua hal yang ditanyakan anak. Lebih celaka jika si orangtua tetap ingin dianggap hebat lantas menjawab sekenanya, kurang tepat, atau bahkan terpaksa mengarang kala merasa terdesak.

* Sikap serba tahu ini menjadi makin parah kalau orangtua berusaha menyisipkan motif tertentu sesuai keinginannya. Padahal, bisa jadi jawaban tersebut malah mengaburkan inti pengetahuan anak. Contohnya, anak mempertanyakan asal-usul hujan, lalu ayah atau ibu menjawab sekenanya, "Tuhan nangis lihat anak nakal." Bagi anak batita, besar kemungkinan jawaban ini dianggap benar (meski untuk sementara waktu). Bukankah selama ini ia beranggapan selalu mendapat jawaban yang benar atas tiap pertanyaan yang diajukannya?

* Mematikan kreativitas dan daya pikir kritis anak dalam memecahkan masalahnya. Toh selama ini ia sudah terbiasa tinggal terima "suapan" orangtuanya.

* Wawasan pengetahuan anak jadi terbatas karena sumbernya hanya dari orangtua saja.

* Anak menjadi sangat bergantung pada orangtua. Jangan heran kalau pada masa selanjutnya waktu orangtua akan tetap tersita untuk memenuhi kebutuhan anak.

Informasi tersaring

Kendati demikian, jika orangtua mampu "menarik ulur" sikap serba tahunya secara pas, sederet manfaat bisa dipetik anak. Lalu, bagaimana cara bersikap bijak dalam hal ini? Berikut sejumlah tips yang bisa diterapkan:

* Ketika anak mengajukan pertanyaan, pertegas dulu apa yang dimaksud/ditanyakannya. Jangan buru-buru menjawab panjang lebar hanya karena merasa bisa memberikan jawaban yang tepat.

* Tanyakan alasannya mengapa ia bertanya mengenai masalah itu. Ini penting untuk mengasah kemampuan anak bernalar.

* Setelah jelas apa yang ditanyakannya, barulah jawab pertanyaan anak secara gamblang. Yang pasti, sesuaikan dengan perkembangan usianya dan beri jawaban dengan porsi tepat. Jangan berlebihan atau sebaliknya terlalu seadanya. Kalau anak usia 5 tahun bertanya mengapa ada hujan, contohnya, orangtua tak perlu menjelaskan proses kimia terjadinya hujan meski ia seorang ahli kimia. Cukup garis besar ilmiahnya saja.

* Jelaskan dari mana Anda bisa menjawab pertanyaan itu. Misalnya dengan menunjukkan ensiklopedi yang memuat jawaban tersebut. Dengan demikian, anak mendapat pemahaman bahwa orangtuanya bisa menjawab karena rajin membaca buku. Dalam diri anak akan tertanam, kalau ia mau membaca buku, ia pun pasti akan "sepintar" ayah dan ibunya.

* Saat anak menunjukkan kekaguman karena Anda bisa menjawab pertanyaannya, jangan ge-er dulu dengan menjawab, "Jelas dong, mamanya siapa dulu." Yang dianjurkan adalah menunjukkan pada anak mengenai sumber-sumber informasi, seperti televisi, buku, dan internet, sebagai media belajar untuk menemukan jawaban atas segala pertanyaannya.

* Jika memang tidak bisa menjawab pertanyaan anak, jangan coba-coba sok tahu. Tak perlu malu untuk mengakui bahwa saat ini Anda tidak tahu. Namun, langsung tawarkan kepada anak untuk mencari jawabannya bersama-sama di buku. Kalaupun jawaban yang dimaksud tidak ada di sumber tadi, tak ada salahnya bertanya kepada orang lain yang memang kompeten di bidang tersebut. Pendek kata, jangan segan untuk belajar dan belajar kembali. Terlebih jika Anda merasa makin lama kian banyak pertanyaan anak yang tak bisa terjawab.

* Sementara jika jawaban yang Anda berikan sebelumnya ternyata salah, jangan segan untuk meralatnya. Jangan pernah merasa "malu" karena telah salah menjawab. Lebih baik segera meralatnya daripada anak mendapat informasi yang salah selamanya.

Manfaat yang diperoleh:

Tentu saja kalau ditunjukkan secara pas, sikap serba tahu mendatangkan manfaat, antara lain:

- Hubungan orangtua dan anak menjadi lebih dekat karena frekuensi komunikasi di antara keduanya pasti lebih intensif.

- Orangtua lebih dihargai dan dipandang pintar, hebat, atau bahkan diidolakan anak.

- Jawaban yang diterima anak lebih terseleksi dibandingkan jika anak mencari-cari sendiri melalui teman atau internet.

- Akses anak untuk memecahkan persoalannya menjadi lebih mudah karena orangtua lebih mudah dijangkau.

- Anak memperoleh rasa aman karena orangtua selalu ada untuk memberi tahu apa yang dibutuhkan dan ingin diketahuinya.

- Orangtua terdorong untuk belajar serta memperluas pengetahuan supaya terus bisa menjawab pertanyaan sekaligus membantu persoalan anak.

- Secara implisit anak jadi terdorong untuk banyak belajar agar menjadi "serba tahu" seperti orangtuanya. (Marfuah Panji Astuti)

Narasumber: Vera Itabiliana, Psi.
dari Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma, Jakarta



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ketua MPR Minta Calon Kepala Daerah Patuhi Protokol Kesehatan Saat Kampanye

Ketua MPR Minta Calon Kepala Daerah Patuhi Protokol Kesehatan Saat Kampanye

Nasional
Situasi Ekonomi dan Politik Genting, Petani hingga Masyarakat Adat Demo DPR dan Istana Besok

Situasi Ekonomi dan Politik Genting, Petani hingga Masyarakat Adat Demo DPR dan Istana Besok

Nasional
Soal Anggota Ombudsman yang Protes karena Dapat Bantuan Kuota, Ini Penjelasan Kemendikbud

Soal Anggota Ombudsman yang Protes karena Dapat Bantuan Kuota, Ini Penjelasan Kemendikbud

Nasional
Nasdem Usung 267 Kandidat di Pilkada 2020

Nasdem Usung 267 Kandidat di Pilkada 2020

Nasional
Eks Kepala Divisi Investasi Jiwasraya Dituntut Hukuman 18 Tahun Penjara

Eks Kepala Divisi Investasi Jiwasraya Dituntut Hukuman 18 Tahun Penjara

Nasional
Periksa Pejabat Imigrasi, Kejagung Dalami Perjalanan Pinangki Temui Djoko Tjandra

Periksa Pejabat Imigrasi, Kejagung Dalami Perjalanan Pinangki Temui Djoko Tjandra

Nasional
KPU: Siapa yang Berisiko Tertular Covid-19 kalau Pilkada Digelar? Kita Semua

KPU: Siapa yang Berisiko Tertular Covid-19 kalau Pilkada Digelar? Kita Semua

Nasional
Eks Direktur Utama Jiwasraya Dituntut Hukuman 20 Tahun Penjara

Eks Direktur Utama Jiwasraya Dituntut Hukuman 20 Tahun Penjara

Nasional
Soal Siswa Belum Dapat Bantuan Internet, Nadiem: Jangan Panik, Lapor ke Kepala Sekolah

Soal Siswa Belum Dapat Bantuan Internet, Nadiem: Jangan Panik, Lapor ke Kepala Sekolah

Nasional
Albertina: Izin Penyadapan Tak Bisa Dihubungkan dengan Kebocoran Informasi

Albertina: Izin Penyadapan Tak Bisa Dihubungkan dengan Kebocoran Informasi

Nasional
Mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Dituntut Hukuman Seumur Hidup

Mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Dituntut Hukuman Seumur Hidup

Nasional
Anita Kolopaking Minta 200.000 Dollar AS ke Djoko Tjandra untuk 'Success Fee'

Anita Kolopaking Minta 200.000 Dollar AS ke Djoko Tjandra untuk 'Success Fee'

Nasional
Istana Bantah Pergantian Jabatan Gatot Nurmantyo karena Pemutaran Film G30/PKI

Istana Bantah Pergantian Jabatan Gatot Nurmantyo karena Pemutaran Film G30/PKI

Nasional
Bawaslu Minta Paslon Pilkada 2020 Patuhi Protokol Kesehatan Covid-19

Bawaslu Minta Paslon Pilkada 2020 Patuhi Protokol Kesehatan Covid-19

Nasional
Mendikbud: Tidak Ada Kebijakan Apapun soal Perubahan Kurikulum...

Mendikbud: Tidak Ada Kebijakan Apapun soal Perubahan Kurikulum...

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X