Edy Yuwono, Guru Besar ke-42 Unsoed - Kompas.com

Edy Yuwono, Guru Besar ke-42 Unsoed

Kompas.com - 24/12/2009, 11:48 WIB

Banyumas, Kompas - Guru besar Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Banyumas, bertambah menjadi 42 orang dengan pengukuhan Edy Yuwono sebagai guru besar bidang ilmu Fisiologi Hewan pada Fakultas Biologi. Pengukuhan tersebut berlangsung di Gedung Soemardjito, Unsoed, dengan dihadiri para guru besar dan anggota senat Unsoed, Rabu (23/12).

Rektor Unsoed, Sudjarwo, mengatakan, meskipun guru besar bertambah, tetapi jumlahnya masih belum ideal. Jumlah guru besar Unsoed saat ini masih di bawah 10 persen dari jumlah tenaga pengajar aktif.

"Akan tetapi, berdasarkan jumlah doktor yang dimiliki Unsoed sekarang, jumlah tersebut insya Allah akan terus bertambah. Apalagi didukung dengan regulasi pemerintah terkait persyaratan akademis dan administratifnya serta apresiasi yang baik terhadap profesi guru besar," jelas Sudjarwo.

Sudjarwo mengatakan, pada Fakultas Biologi Unsoed, Edy Yuwono menjadi guru besar ke-12. Edy merupakan salah satu ahli biologi Unsoed terkait masalah kelautan yang dapat menerjemahkan pengembangan akuakultur berwawasan konservasi, dengan tidak terbelenggu pada dogma ilmu baku.

Dalam pidato pengukuhannya, Edy Yuwono mengangkat masalah urgensi studi fisiologi hewan untuk pengembangan akuakultur ramah lingkungan. Edy memaparkan, studi terkait metabolisme, reproduksi, dan nutrisi, pada hewan laut dapat digunakan sebagai dasar pemilihan teknologi terapan dalam pengembangan akuakultur.

Penelitian komprehensif

Dengan menempuh metode demikian, pengembangan akuakultur dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, metode tersebut lebih berwawasan konservasi karena memerhatikan keseimbangan pada fisiologi hewan yang menghuni ekosistem tersebut.

Namun demikian, masih banyak permasalahan akuakultur yang belum dapat diatasi dan membutuhkan penelitian tentang berbagai aspek fisiologi secara lebih komprehensif. "Penelitian komprehensif itu yang dibutuhkan saat ini," kata Edy.

Oleh karena itu, Edy menekankan, saat ini sangat dibutuhkan studi fisiologi hewan untuk menjelaskan fenomena biologi dalam akuakultur. Selain itu juga dapat memberikan dasar pengembangan akuakultur ramah lingkungan. (mdn)


Editor

Close Ads X