Mayor Jantje dan Tanjidor

Kompas.com - 11/09/2009, 11:32 WIB
Editor

Musik orkes yang kemudian dikenal sebagai tanjidor berawal dari Citrap atau Citeureup dan dimulai sekitar dasawarsa kedua abad 19. Musik ini disebut-sebut sebagai musik para budak dan tak bisa lepas dari peran seorang mayor yang keturunan mardijkers (orang merdeka).

Adalah Augustijn Michiels, keturunan langsung dari Jonathan Michiels seorang mardijkers yang jadi pemimpin kaum mardijkers di timur laut Batavia, yang mewariskan kesenian musik tersebut. Jonathan bergelar Oud Luitenant der Inlandsche Burgerij of der Papangers – letnan senior kaum Papang. Ia memiliki tanah di Cileungsi dan Klapanunggal. Warisan Jonathan akhirnya jatuh ke tangan Augustijn yang pada 1807 – setelah 20 tahun dinas di kemiliteran – berhenti dengan gelar Oud Majoore der Burgerij atau Kolonel Titulair.

Meski demikian, Augustijn yang kaya raya tak pernah tinggal di Weltevreden sebagaimana warga Belanda dan Eropa lainnya. Sebagai mardijkers ia memilih tetap tinggal di Ancol di mana kaum mardijkers tinggal.

Di tahun 1817, Augustijn yang kemudian lebih dikenal sebagai Mayor Jantje, membeli tanah Citrap sekaligus daerah pedalaman di sepanjang jalan raya antara Batavia dan Buitenzorg (Bogor) seperti Cibarusa, Tanahbaru, Cimapang. Dalam ulasannya pada buku Mayor Jantje: Cerita Tuan Tanah Batavia Abad ke-19 karangan Johan Fabricius, Mona Lohanda menegaskan keberadaan sang mayor serta perannya pada keberadaan tanjidor.

Sebagai tuan tanah, Mayor Jantje memiliki ratusan budak, pria dan wanita. Dari ratusan budak itu, ada 30 orang yang kemudian bergabung dalam Korps Musik Papang (Het Muziek Corps der Papangers) yang dibentuk antara 1827-1829. Para pemusik ini mengiringi pesta sang mayor setiap malam. Dari musik Eropa hingga Tionghoa dimainkan. Musik ini terus dimainkan hingga kematian menjemput Mayor Jantje pada 27 Januari 1833 di kediamannya di Semper Idem, Batavia.

Dengan kematian Mayor Jantje, keberadaan orkes itu pun tak jelas lagi. Para budak yang diberi alat musik Eropa seperti tamburin Turki, terompet Perancis, drum bas, dan clarinet itu pun dilelang. Dilelang bersama alat musiknya. Namun Mona menegaskan, musik tanjidor bermula dari zaman Mayor Jantje. Nama tanjidor diperkirakan berasal dari bahasa Portugis tanger (bermain musik) dan tangedor (bermain musik di luar ruangan), namun Betawi pun punya kata tanji (musik).

Tanjidor hingga tahun pertengahan tahun 1950-an masih menghibur warga pada saat merayakan tahun baru, termasuk ngamen di kawasan Kota pada saat Imlek hingga Cap Go Meh. Setelah itu, orkes musik yang terdiri atas alat musik barat seperti klarinet, trombone, trompet, tuba tenor, drum samping, simbal, dilarang ngamen di Jakarta. Orkes ini juga terpengaruh musik China dilihat dari penggunaan suling, gong, kendang, rebab. Musik mereka biasanya adalah musik riang, mars seperti lagu-lagu dari zaman Belanda yang biasa dibawakan para serdadu.    



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menkes: Terima Kasih atas Pengabdian Tulus Para Dokter...

Menkes: Terima Kasih atas Pengabdian Tulus Para Dokter...

Nasional
Ketum Golkar: Target Menang Pilkada 60 Persen, Langkah Awal Rebut Kejayaan 2024

Ketum Golkar: Target Menang Pilkada 60 Persen, Langkah Awal Rebut Kejayaan 2024

Nasional
Jokowi Ungkap Alasan RUU Cipta Kerja Dikebut di Tengah Pandemi

Jokowi Ungkap Alasan RUU Cipta Kerja Dikebut di Tengah Pandemi

Nasional
Ketum Golkar: UU Cipta Kerja Terobosan Historis Tanpa Paksaan Siapa Pun

Ketum Golkar: UU Cipta Kerja Terobosan Historis Tanpa Paksaan Siapa Pun

Nasional
Kasus Red Notice, Djoko Tjandra dan 2 Jenderal Polisi Jalani Sidang Perdana Selasa Pekan Depan

Kasus Red Notice, Djoko Tjandra dan 2 Jenderal Polisi Jalani Sidang Perdana Selasa Pekan Depan

Nasional
Ini Protokol Kesehatan Menonton Film di Bioskop DKI Saat PSBB Transisi

Ini Protokol Kesehatan Menonton Film di Bioskop DKI Saat PSBB Transisi

Nasional
Virolog: Vaksin Covid-19 Sulit Diterima Publik jika Belum Lolos Uji Klinis Fase 3

Virolog: Vaksin Covid-19 Sulit Diterima Publik jika Belum Lolos Uji Klinis Fase 3

Nasional
Mahfud: Dokter Harus Berpihak pada Kelangsungan Hidup Manusia

Mahfud: Dokter Harus Berpihak pada Kelangsungan Hidup Manusia

Nasional
Ini Lima Langkah Efektif Cegah Covid-19 di Pesantren dari Epidemiolog

Ini Lima Langkah Efektif Cegah Covid-19 di Pesantren dari Epidemiolog

Nasional
Di HUT IDI, Mahfud Tegaskan Penanganan Kesehatan dan Ekonomi Harus Bersamaan

Di HUT IDI, Mahfud Tegaskan Penanganan Kesehatan dan Ekonomi Harus Bersamaan

Nasional
Pusat Keramaian Sumedang Dipantau CCTV, Warga Tak Pakai Masker Langsung Ditindak

Pusat Keramaian Sumedang Dipantau CCTV, Warga Tak Pakai Masker Langsung Ditindak

Nasional
Tanpa Harus Keluar Rumah, Layanan BPJS Kesehatan Bisa Diakses lewat Pandawa

Tanpa Harus Keluar Rumah, Layanan BPJS Kesehatan Bisa Diakses lewat Pandawa

BrandzView
Ganjar Sebut Ada Kepala Daerah Sengaja Tak Tes Covid-19 agar Tetap di Zona Hijau

Ganjar Sebut Ada Kepala Daerah Sengaja Tak Tes Covid-19 agar Tetap di Zona Hijau

Nasional
HUT IDI, Presiden Jokowi Sebut Masyarakat Rasakan Ketangguhan Para Dokter Selama Pandemi

HUT IDI, Presiden Jokowi Sebut Masyarakat Rasakan Ketangguhan Para Dokter Selama Pandemi

Nasional
UPDATE 24 Oktober: Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 34 Provinsi, Paling Tinggi Jakarta dengan 1.062

UPDATE 24 Oktober: Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 34 Provinsi, Paling Tinggi Jakarta dengan 1.062

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X