Nafas Indie di Sastra Reboan - Kompas.com

Nafas Indie di Sastra Reboan

Kompas.com - 31/07/2009, 01:34 WIB

Nafas indie terasa kental malam itu. Indie yang secara umum diartikan “merdeka”, “bebas” atau “berdiri sendiri” tergambar dari penampilan penyair, novelis dan grup musik lewat karya dan penampilannya. Mereka menawarkan sesuatu dalam keberanian berekspresi terhadap dunia yang digelutinya.

Selama tiga jam bersama para penampil lainnya mereka mampu memukau para pengunjung acara Sastra Reboan#16, Rabu (29/7) malam di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan.  Aksi lintas generasi dari penyanyi cilik berusia 5 tahun hingga penyair 60-an tahun menyajikan suatu garis tak tampak tentang geliat sastra dan seni yang tak pernah berhenti.

Sastra Reboan#16 yang merupakan kegiatan rutin setiap Rabu akhir bulan pada malam itu mengusung tema Cermin. Segala peristiwa yang terjadi di bulan Juli bisa jadikan cermin bagi masing-masing yang hadir malam itu. Begitu juga penampilan para pelaku sastra dan seni dengan berbagai bentuknya.

Dibuka oleh MC Budhi Setyawan dan Nurul Wardah, acara diawali dengan penampilan Coffee Break, sebuah grup musik yang membawakan 3 lagu pop Indonesia. Berlanjut dengan penampilan penyair Dharmadi serta penggiat Sastra Reboan yaitu Nurdin Achmat Zaky dengan dua puisinya, Setyo Bardono berpuisi tentang tragedi bom bunuh diri di Hotel  JW Marriot dan Ritz Carlton baru-baru ini, serta  Johannes Sugianto membawakan puisi Seperti Kemarin.

Penyair muda, Pringadi Abdi yang baru menerbitkan kumpulan puisinya Alusi membuka tampilnya para penulis dan musisi indie dengan moderator Sahlul Fuad. Karyanya ini dibahas oleh Khrisna Pabicara yang juga memberi kata pengantar di buku itu, yang mengatakan bahwa Pringadi tampak lebih berhasil pada puisi pendek ketimbang yang panjang.

Pengunjung makin meluber hingga banyak yang tak mendapatkan tempat duduk. Tidak hanya penikmat sastra dari Jakarta saja yang tampak di antara beberapa penulis yang sudah dikenal seperti Leon Agusta, Jodhi Yudono, Nurudin Ashyadie atau Saut Poltak Tambunan, tapi juga dari Medan dan Padang. Dua stasiun televise, TVRI dan Cahaya TV (Banten) juga meliput acara ini.

Usai diskusi tentang buku puisi itu, Empadband (grup dari Surabaya) bersiap menunjukkan kebolehannya. Mereka terdiri dari Dida (Vocal), Maldi (Gitar) | Diva ( Drum) dan Yoga (Bass) yang masih duduk di bangku SMP. “Ini pertama kalinya kami tampil di Jakarta, dan berharap semoga dari Sastra Reboan ini Empadband bisa merambah kota-kota lain,” ucap Dida.

Mereka membawakan empat lagu, tiga diantaranya “Bintang”, “Rindu Sobat” dan Kau Dekat Kau Jauh” sudah direkam dalam album “Experiment”. Penampilan yang menghasilkan tepuk tangan para pengunjung. Setelah itu, mereka menyanyikan lagu “Elang” Arie Lasso, yang merupakan pengantar untuk pembahasan buku “Elang” karya Kirana Kejora.

Namun sebelum penyiar salah satu stasiun televise swasta, Rieska Arbi tampil sebagai moderator, anak kecil berusia 5 tahun, Nisa tampak tak sabar ingin tampil ke panggung. Diiringi kakaknya, Fachry Bagus Pratama yang violis dan sering tampil di berbagai acara, Nisa membawakan lagu Bunda dengan penuh penghayatan. Vokal yang bagus dan menggelitik ini mendapat sambutan meriah dari pengunjung.

Novel Elang yang dibahas oleh penyair dan kritikus sastra, Handoko F.Zainsam menyajikan alam Indonesia bagian timur yang tak Cuma dibumbui romantisme tapi juga perenungan tentang kehidupan social. “Kirana piawai berkisah dan kejadian yang didukung oleh data serta penokohan.Benturan kemanusiaan dikemas dengan apik”, ujar Handoko.

Di tengah bahasan itu, penyair dan pemain film, Ikranegara membacakan petikan novel itu dengan gayanya yang memukau, dilanjutkan dengan tak kalah penghayatannya oleh model iklan yang juga pemain film, Nabilla Putri dengan puisi Si Kejora diiringi permainan biola Fakhri Bagus Pratama.

Diskusi tentang novel ini menjadi akhir Sastra Reboan #16, yang akan menyongsong acara berikutnya di bulan suci Ramadhan dengan nuansa yang religius. (ochi)


Editor

Terkini Lainnya


Close Ads X