Plesir ke Makam Pembesar Tionghoa di Batavia

Kompas.com - 24/06/2009, 11:42 WIB

USIA Jakarta merangkak terus, Senin (22/6) tepat 482 tahun usia Jakarta. Artinya, kita sudah harus mempersiapkan HUT ke-483. Demikian selanjutnya hingga mencapai angka lima abad.  Rancangan apa yang sudah terpikir oleh pemerintah pusat dan Pemprov DKI untuk Jakarta di usia setengah milenium, tak perlu dipusingkan. Sebab barangkali mereka tak punya program yang jelas dan pasti bahkan untuk jangka lima tahun ke depan. Pasalnya, seringkali bukan program yang mereka bikin tapi proyek yang dijadikan program.

Bagi pembaca yang sedang berencana membuat jadwal liburan bagi putra/putri, keponakan, adik, atau diri sendiri, barangkali menggali dan memahami peran besar orang Tionghoa dalam membangun Batavia bisa jadi alternatif yang tak sekadar mengisi liburan. Kenyataan membuktikan keberadaan Batavia tak bisa lepas dari peranan orang Tionghoa. Sebut saja Souw Beng Kong, Khouw Kim An, Phoa Beng Gan, Nie Ho Kong. Mereka adalah pembesar Tionghoa yang punya andil besar di Batavia.

Komunitas Sahabat Museum akan menggelar acara Plesiran Tempo Doeloe yang kali ini mengangkat tema “Aandeel Orang Tionghoa Bangoen Batavia” pada Minggu 28 Juni 2009. Menurut Ketua Komunitas Sahabat Museum Ade Purnama, kegiatan ini digelar dalam rangka HUT Jakarta untuk mengingatkan bahwa Jakarta tak bisa melupakan andil orang Tionghoa dalam pembangunan Batavia hingga Jakarta sekarang ini.
 
Souw Beng Kong tiba di Banten pada 1604. Ketika Beng Kong kemudian berjaya di Banten, kemasyurannya terdengar hingga telinga Jan Pieterszoon Coen yang menaklukkan Jayakarta pada 1619 dan mulai membangun kota baru bernama Batavia. Coen perlu orang untuk membangun Batavia, maka Beng Kong pun diminta membawa warga Tionghoa dari Banten ke Batavia. Maka kemudian Beng Kong pun mendapat gelar kapiten karena dinilai berjasa oleh Coen.

Makam kapiten pertama Tionghoa di Batavia ini beruntung segera bisa ditemukan di kawasan padat penduduk. Lokasi makam ada di antara permukiman padat di kawasan Mangga Dua, bernama gang Taruna di Jalan Pangeran Jayakarta. Makam itu berasal dari tahun 1644, saat Beng Kong wafat. Di tahun 1929, Mayor Tionghoa Khow Kim An - pemilik Gedung Candra Naya - memugar makam Beng Kong. Khow Kim An juga yang menambahkan dua nisan, berbahasa Belanda dan China.

Beruntung kemudian makam ini ditemukan lagi dan dikonservasi di bawah pantauan Wastu Zhong. Kini makam itu sudah diusulkan jadi benda cagar budaya dan akan dikembangkan menjadi Taman Wisata Sejarah Kota Tua Batavia.

Bicara soal Khouw Kim An akan mengingatkan kita pada sebuah bangunan Tionghoa yang terkurung bangunan modern di Jalan Gajah Mada. Betul sekali, Candra Naya. Meski bangunan utama, di bawah bangunan modern itu, sudah diperbaiki namun belum juga difungsikan. Sementara itu, bangunan di sisi kiri dan kanan belum juga dikembalikan. Beberapa waktu lalu Naniek Widayati Priyomarsono, dosen arsitektur Universitas Tarumanegara, yang ikut menangani konservasi Candra Naya mengatakan, rekonstruksi paviliun kiri dan kanan masih kesulitan mencari kontraktor yang ahli konservasi.

Candra Naya adalah bagian yang tersisa dari tiga gedung besar di Jalan Gajah Mada (Molenvliet West) berarsitektur Tionghoa kuno. Bekas gedung Tiong Hoa Siang Hwee (Kamar Dagang Tionghoa) kini dijadikan gedung SMUN 2; bekas gedung Kedutaan Besar China yang kini telah rata dengan tanah; dan Candra Naya (Sin Ming Hui).

Gedung ini didirikan pada 1807 oleh Khouw Tian Sek (Khouw Teng Sek) dan dilanjutkan putranya, Khouw Tjeng Tjoan, pada 1867. Dari  Khouw Tjeng Tjoan, bangunan ini diwariskan kepada putranya, Khouw Kim An, yang belakangan menjadi Majoor der Chineezen (1910-1918 dan 1927-1942). Makamnya juga termasuk dalam rangkaian yang akan dikunjungi.

Dalam acara plesiran itu, Ade menyebutkan, empat nara sumber akan ikut untuk memberi penjelasan di tiap tempat yang akan didatangi.  Mereka adalah Wastu Zhong, konservator makam Souw Beng Kong; Mona Lohanda, penulis buku Kapitan China di Batavia yang juga memahami sejarah keberadaan orang Tionghoa di Batavia; Naniek Widayati penulis buku Rumah Mayor China yang juga terlibat langsung dalam konservasi Candra Naya; serta Lilie Suratminto yang mafhum benar tentang perjalanan VOC.

Untuk ikut dalam wisata sejarah ini peserta dipungut biaya Rp 150.000/orang. “Kami akan menggunakan bus AC Big Bird, dari pukul 08.00 sampai sekitar pukul 17.00. Kami mulai kumpul di Parkir Timur Senayan pukul 07.00,” katanya. Untuk mendaftar, lanjut Ade, calon peserta tinggal mendaftar ke adep@cbn.net.id.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Editor
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X