"Berperang" di Papan Catur Gajah - Kompas.com

"Berperang" di Papan Catur Gajah

Kompas.com - 15/06/2009, 14:21 WIB

DUA pria separuh baya terlihat menunduk asyik menatap meja, tepatnya ke papan bergaris yang membentuk 64 kotak lengkap dengan 32 benda bulat bertuliskan berbagai karakter China. Raut wajah mereka serius karena dalam diam mereka menghitung strategi untuk langkah yang mematikan lawan. Pada meja-meja lain, kegiatan yang sama juga sedang berlangsung. Para pria ini tak lain sedang menghadapi papan catur. Hanya saja catur yang mereka mainkan bukanlah catur seperti yang biasa kita lihat dan kenal.

Masyarakat Tionghoa menyebut catur ini sebagai xiangqi atau catur gajah. Permainan catur gajah ini bukan sekadar olahraga tapi juga merupakan budaya Tionghoa yang sudah ada turun temurun. Dalam xiangqi papan permainan mempunyai kotak yang sedikit berbeda dengan catur yang biasa (catur internasional). Demikian pula dengan buah caturnya.

Jika dalam catur biasa buah catur berbentuk sesuai dengan peran, maka catur gajah menggunakan buah catur dalam bentuk bulat. Di atas buah catur itu dituliskan karakter China yang berbeda sesuai peran. Bermain xiangqi seperti membayangkan sedang berperang apalagi di papan permainan ini dua istana, istana dari 16 buah catur berwarna merah dan hitam, dibelah oleh sungai.

Tak seperti buah catur pada catur yang biasa dimainkan oleh Utut Adianto, catur gajah ini menggunakan beberapa binatang untuk menjaga istana, tak ketinggalan meriam. Buah-buah catur itu adalah jiong (raja), shi (menteri), xiang (gajah), ma (kuda), ci (benteng) pau (meriam), dan zu (bidak/pion). Posisi raja terlindung aman di dalam kotak (istana) didampingi dua menteri, dua gajah, dua kuda, dan dua benteng. Dua meriam menghadang di luar istana sedangkan lima pion siap mati di posisi terdepan, tak jauh dari sungai. Jika pada catur biasa pemain memainkan bidak di dalam kotak maka pada catur gajah, mengikuti garis.   

Modifikasi
Meski belum ada data sejarah yang akurat mengenai sejarah awal keberadaan xiangqi namun indikasi awal kemunculan permainan ini sudah diperkenalkan sejak abad ke-4 oleh penguasa Mengchang, Tian Wen. Menilik aturan permainannya, catur gajah ini terlihat sangat erat kaitannya dengan startegi militer di zaman China kuno.
 
Lantas kenapa permainan itu disebut catur gajah? Frans Erasmus Lala, salah satu pendiri organisasi Xiangqi Nasional mengatakan, xiangqi itu artinya memang catur gajah. “Xiang  itu gajah, qi  artinya catur,” ucapnya. Kenapa ada gajah? Karena memang permainan ini menggunakan buah/biji yang diberi nama xiang (gajah).

Formasi permainan ini juga mengalami beberapa kali perubahan sebelum akhirnya menjadi xiangqi yang dikenal oleh masyarakat Tionghoa secara global.

Xiangqi merupakan salah satu jenis permainan rakyat yang berkembang menjadi cabang olahraga. Di Indonesia permainan ini sempat terhenti ketika Orde Baru membatasi ruang gerak warga Tionghoa sehingga kebudayaan mereka kurang berkembang, termasuk catur gajah ini. Padahal, ketika JP Coen menaklukkan Jayakarta pada 1619 dan membangun kota Batavia, warga Tionghoa-lah yang  diminta untuk membantu pembangunan Batavia sekaligus menggulirkan roda perekonomian kota. Dengan berkumpulnya warga Tionghoa di Batavia itu berarti folklor mereka menjadi bagian dari sejarah Jakarta.

“Catur ini hasil pengembangan dari catur di Asia Tengah. Usianya sudah lebih dari 2500 tahun. Khalifah Harun Al’rasyid membawa catur ini sampai ke Eropa dan di Tiongkok catur ini dibawa oleh pedagang. Nah, di tempat itu catur dimodifikasi sesuai dengan kebudayaan masing-masing. Di Tiongkok jadinya, ya, catur gajah,” papar Lala yang kini menjabat sebagai sekretaris umum Pengurus Pusat Persatuan Xiangqi Indonesia (PEXI).
    

Punya Grand Master
Menurut Lala, awalnya hanya untuk hiburan. Permainan ini masuk dari Tiongkok ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan orang-orang Tiongkok di sekitar abad ke-14. “Permainan ini kan awalnya buat hiburan aja. Di mana ada komunitas Tionghoa, di situ pasti ada catur gajah. Cuma memang kemudian permainan ini sempat tersendat di zaman Orde Baru. Tapi kemudian kita mengadakan pendekatan supaya catur gajah bisa dimainkan secara nasional, ada organisasinya,” kata Lala.

Pada 27 Juli 1979, organisasi Xiangqi Nasional didirikan dengan sembilan pendiri, yaitu JLL Taulu, Abraham Wijaya, HP Hutabarat, Tanama Mulyadi, Lie Liang Wang, Frans Erasmus Lala, Wong Yen Tjong, Lim Fo On, dan The Peng Hong. “Nama awal Ikatan Shiang Chi Indonesia (ISCI)  trus diubah menjadi Persatuan Catur Gajah Indonesia (Percagi). Kita didukung oleh PB Percasi (Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia – Red),  KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia – Red) dan KONI DKI,” Lala menjelaskan.

Jika pun akhirnya, pada waktu itu,  xiangqi diakui itu karena diagram (kotak) permainan diubah, buah catur diubah dan tak ada karakter China di atas buah catur. Itu berlangsung selama 20 tahun, yaitu 1979 hingga reformasi 1998. Pada 1999 xiangqi kembali menggunakan papan dan buah catur yang seharusnya. “Pokoknya sebelum ini buah catur pakai gambar seperti yang biasa kita lihat di koran, gambar mahkota melambangkan raja, gitu. Ada pengawal gambarnya seperti mahkota,” ujar Lala lagi.

Seperti juga catur internasional, xiangqi juga punya gelar master xiangqi, yaitu International Grand Master Xiangqi (IGMX) yang sejak 2002 dipegang oleh Ie Tjong Beng asal Pengda DKI Jakarta. Ie Tjong Beng juga ikut memeriahkan Pekan Budaya Peh Cun dengan mengikuti pertandingan xiangqi. Selain gelar grand master, sederet pula pemain yang punya gelar master internasional dan master nasional.
    
Harapan para pengurus PEXI tentu tak lain adalah bagaimana budaya Tionghoa, khususnya xiangqi yang sudah menjadi cabang olahraga seperti juga wushu, terus berkembang agar tidak ada lagi jurang yang memisahkan generasi penerus dengan budaya mereka.


Editor

Close Ads X