Kapal Apa Saja yang Tidak Boleh Lewat Kolong Suramadu? - Kompas.com

Kapal Apa Saja yang Tidak Boleh Lewat Kolong Suramadu?

Kompas.com - 01/05/2009, 09:29 WIB

SURABAYA - SURYA-Sirkulasi kapal laut yang akan lewat di bawah kolong jembatan mulai diatur. Pengaturan arus lalu lintas kapal laut ini dinilai penting agar tidak terjadi tabrakan kapal ketika jembatan terpanjang di Asia Tenggara senilai Rp 4,5 triliun tersebut dioperasionalkan.

“Dengan banyaknya kapal yang setiap hari lewat di kolong Jembatan Suramadu, arus lalu lintas laut harus diatur,” ujar Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Departemen Pekerjaan Umum (PU), AG Ismail, Kamis  usai rapat koordinasi pengaturan lalu lintas kapal laut di wilayah Suramadu.

Menurut Ismail, pentingnya mengatur arus lalu lintas kapal laut di Suramadu karena dalam komitmen awal disepakati selain KRI Dewaruci, semua kapal yang melintasi selat Madura diperbolehkan lewat kolong Jembatan Suramadu yang lebarnya berkisar antara 200-400 meter dengan tinggi 35 meter dari permukaan tertinggi air laut hingga jembatan.

Selama ini kapal yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak tinggi maksimal 27 meter. Sementara KRI Dewaruci, dengan layar bertiang tinggi -lebih dari 35 meter– kapal latih bagi taruna/kadet AAL TNI AL ini dipastikan tidak akan bisa melewati kolong jembatan.

Perwakilan dari Departemen PU, Armatim, Dinas Perhubungan & LLAJ Jatim, Dinas PU Bina Marga Jatim, Adpel Tanjung Perak, Pemkot Surabaya, dan perwakilan Pemkab Bangkalan sepakat menunjuk Adpel Tanjung Perak membuat rambu-rambu lalu lintas kapal. “Termasuk kalau terjadi sesuatu, misalnya tabrakan kapal,” jelas Ismail.

Hingga akhir April ini, pengerjaan fisik proyek Suramadu mencapai 96,3 persen. Sisanya diharapkan rampung sebelum 12 Juni. Sisa kekurangan ini meliputi pengerjaan infrastruktur cable stay di bentang tengah, dua approach bridge baik di Madura dan Surabaya, dan pembangunan jalan pendekat sisi Madura.

Kepala Satuan Kerja Sementara Pembinaan Proyek Pembangunan Jembatan Nasional Suramadu, Yudha Handita, mengatakan konsentrasi pembangunan Suramadu saat ini diarahkan merampungkan sebagian infrastruktur approach bridge di sisi Surabaya dan pengerjaan fisik bentang tengah. Ini yang paling sulit. “Bentang tengah merupakan induk dari proyek Suramadu,” terang Yudha.

Bagi Letkol Laut (KH) Toni Syaiful, berbagai jenis kapal perang milik TNI AL bisa lewat di bawah jembatan Suramadu karena ketinggian jembatan itu dari permukaan air laut sudah sesuai. Dijelaskannya, saat mendesain jembatan itu dulu, memang sudah dikonsultasikan terutama berkaitan dengan ketinggian kapal TNI AL yang mungkin akan lewat. uji/jos


Editor

Close Ads X