"Quick Count": Agung Laksono Terancam Tak Lolos ke Senayan - Kompas.com

"Quick Count": Agung Laksono Terancam Tak Lolos ke Senayan

Kompas.com - 13/04/2009, 07:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil analisis Lembaga Survei Indonesia (LSI) atas hasil penghitungan cepat (quick count) per daerah pemilihan (dapil) pada pemilu legislatif lalu cukup mengejutkan. Sejumlah politisi papan atas diprediksi tidak bisa melenggang ke Senayan karena minim perolehan suara dan tidak mencapai syarat untuk mendapatkan satu kursi.

Salah satunya Ketua DPR saat ini, Agung Laksono. Agung Laksono, yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar, untuk pemilu legislatif kali ini bertarung di Dapil DKI Jakarta I.

Peneliti Senior LSI, Burhanuddin Muhtadi, memaparkan, Golkar sangat berisiko tidak bisa mendapatkan kursi di dapil tersebut. Sebab, dari hasil hitung cepat, perolehan Golkar di dapil itu hanya 5,52 persen. Sementara untuk bilangan pembagi pemilih (BPP) sebesar 16,6 persen.

Untuk memperebutkan satu dari enam kursi yang tersedia di Dapil DKI Jakarta I, parpol harus memenuhi BPP tersebut. "Agung Laksono sangat mungkin tidak lolos ke Senayan. Golkar di Dapil DKI Jakarta I hanya dapat 5,52 persen suara. Padahal, estimasi BPP 16,62 persen. Jauh sekali. Dengan margin of error 7 persen plus minus, juga belum memenuhi 16,6 persen BPP," papar Burhanuddin, kepada Kompas.com, Minggu (12/4) malam.

Hasil hitung cepat di Dapil DKI Jakarta I ini dilakukan atas sample 24 TPS, dengan margin of error 7 persen. Di Dapil DKI Jakarta I diperebutkan 6 kursi. Partai yang cukup aman di dapil ini, Partai Demokrat yang perolehannya mencapai 37,26 persen dan PKS dengan 20,66.

"Perkiraan kami, di dapil itu, Demokrat bisa mendapatkan 3 kursi, PKS 2 kursi dan satu kursi kemungkinan diambil PDI Perjuangan karena sisa suaranya mendekati BPP, yaitu 8,31 persen. Golkar memang sangat berisiko tidak mendapat kursi di sini," kata Burhanuddin.

Meski pun menggunakan sistem suara terbanyak, caleg yang bertarung di suatu dapil harus memastikan bahwa partainya memenuhi BPP untuk memperebutkan satu kursi. "Tapi yang kita lihat sekarang, jangankan suara terbanyak untuk caleg, parpolnya saja belum tentu dapat kursi," ujar dia.


Editor

Terkini Lainnya

Tetangga Dengar Jeritan pada Malam Tewasnya Satu Keluarga di Bekasi

Tetangga Dengar Jeritan pada Malam Tewasnya Satu Keluarga di Bekasi

Megapolitan
Aktris Porno Ini Akui Urusan dengan Trump Hancurkan Kariernya

Aktris Porno Ini Akui Urusan dengan Trump Hancurkan Kariernya

Internasional
Program Kirim Buku Gratis Tetap Dilanjutkan Sampai Desember

Program Kirim Buku Gratis Tetap Dilanjutkan Sampai Desember

Nasional
Terbukti Genosida, 2 Pemimpin Khmer Merah Ini Dipenjara Seumur Hidup

Terbukti Genosida, 2 Pemimpin Khmer Merah Ini Dipenjara Seumur Hidup

Internasional
Pembunuh Satu keluarga di Bekasi Dikenal Kurang Bersosialisasi

Pembunuh Satu keluarga di Bekasi Dikenal Kurang Bersosialisasi

Megapolitan
Gubernur DKI: Sampah Kiriman di Pintu Air Manggarai 500 Ton, Tak Mungkin Selesai 2 Jam

Gubernur DKI: Sampah Kiriman di Pintu Air Manggarai 500 Ton, Tak Mungkin Selesai 2 Jam

Megapolitan
Patung Jenderal Sudirman 'Hidup', Pindahkan Mobil yang Lintasi 'Busway'

Patung Jenderal Sudirman "Hidup", Pindahkan Mobil yang Lintasi "Busway"

Megapolitan
Ingin Hasilkan ASN Berkualitas, BKN Tak Mau Turunkan Passing Grade Tes CPNS

Ingin Hasilkan ASN Berkualitas, BKN Tak Mau Turunkan Passing Grade Tes CPNS

Regional
Polres Gresik: Pelanggar Operasi Zebra Turun, E-Tilang Tetap Diterapkan

Polres Gresik: Pelanggar Operasi Zebra Turun, E-Tilang Tetap Diterapkan

Regional
PM Abe Kunjungi Darwin, Kota yang Pernah Dibom Jepang 75 Tahun Lalu

PM Abe Kunjungi Darwin, Kota yang Pernah Dibom Jepang 75 Tahun Lalu

Internasional
Kuasa Hukum Baiq Nuril Upayakan Tunda Eksekusi Putusan MA

Kuasa Hukum Baiq Nuril Upayakan Tunda Eksekusi Putusan MA

Megapolitan
Wisely Tidak Menyangka Surat Terima Kasihnya kepada Polisi Jadi Viral

Wisely Tidak Menyangka Surat Terima Kasihnya kepada Polisi Jadi Viral

Regional
Hidayat Nur Wahid: Siapa Bilang Pak SBY Marah?

Hidayat Nur Wahid: Siapa Bilang Pak SBY Marah?

Nasional
Fakta Rumah Klasik 'Bohemian Rapsody' di Blitar, Bukan Bangunan Lama hingga Dianggap Berhantu

Fakta Rumah Klasik "Bohemian Rapsody" di Blitar, Bukan Bangunan Lama hingga Dianggap Berhantu

Regional
Sebelum Diperiksa sebagai Tersangka, Idrus Marham Pamer Buku Karyanya

Sebelum Diperiksa sebagai Tersangka, Idrus Marham Pamer Buku Karyanya

Nasional

Close Ads X