Penerjemahan Sastra Minim - Kompas.com

Penerjemahan Sastra Minim

Kompas.com - 20/02/2009, 00:42 WIB

YOGYAKARTA, KAMIS--Penerjemahan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris serta publikasinya ke tingkat internasional masih sangat minim. Padahal, potensi menarik minat pembaca asing sangat besar. Peran serta pemerintah diperlukan untuk memberikan kemudahan penerjemahan dan pemasaran.

Guru besar Sastra Universitas Indonesia Melani Budianta menuturkan, jumlah karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris belum mencapai 10 persen dari karya sastra yang ada. "Dibandingkan negara-negara Asia lainnya, seperti India, Malaysia, Jepang, Pakistan, kita jauh lebih sedikit," katanya, di sela-sela Konferensi Internasional Reading Asia, Forging Identities in Literature (Rafil) di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Rabu (18/2).

Dalam konferensi dua tahunan itu, Melani hadir sebagai salah seorang pembicara. Hadir pula dalam acara itu pengamat sastra Indonesia, Harry Aveling, dan budayawan Bakdi Sumanto.

Menurut Melani, karya sastra Indonesia menarik karena selain kaya akan latar belakang budaya juga sarat akan konflik budaya dan agama. Hal ini tidak banyak ditemui dalam karya sastra Barat pada umumnya. Selain itu, publikasi karya sastra Indonesia ke tingkat internasional merupakan sarana yang sangat efektif dalam mengangkat nama Indonesia di dunia internasional. Hal ini pernah dirintis oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang sejumlah terjemahan karyanya telah beredar di berbagai negara.

Saat ini, beberapa sastrawan Indonesia sebenarnya telah berminat menulis dalam bahasa Inggris. Namun, usaha ini masih terkendala minimnya dana dan terbatasnya akses terhadap jaringan penerbit internasional. "Untuk itu, dibutuhkan lebih banyak dukungan dan promosi," ujar Melani.

Dari pemerintah, dukungan diperlukan untuk mempermudah dan mengurangi biaya dalam proses penerjemahan dan pemasaran di luar negeri. Hal ini bisa dilakukan, misalnya, dengan memberi insentif pajak. Pemerintah juga bisa membantu untuk menembus jaringan distribusi dan penerbitan luar negeri. "Pemerintah Jepang telah melakukannya," tutur Melani. (IRE)


Editor

Terkini Lainnya


Close Ads X