Semangat Kabaresi Harus Jadi Sumber Etik Perempuan Maluku - Kompas.com

Semangat Kabaresi Harus Jadi Sumber Etik Perempuan Maluku

Kompas.com - 29/01/2009, 06:35 WIB

AMBON, KAMIS- Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu menegaskan, spirit atau semangat "kabaresi" (pemberani) yang ditunjukkan pahlawan nasional asal Maluku, Martha Christina Tiahahu, harus menjadi sumber etik bagi kaum perempuan di Provinsi Maluku.

"Spirit ini yang harus melatari dan menjadi etik bagi kaum perempuan untuk berkiprah dan berakses sejajar dengan kaum laki-laki dalam berbangsa dan bernegara," ujar Gubernur Ralahalu, saat menghadiri Kongres I Perempuan Maluku, di Baileo Siwalima, Karangpanjang, Ambon, Rabu (28/1) malam.

Kongres yang dibuka Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono itu, menurut Ralahalu, merupakan momentum sejarah baru bagi daerah dan bangsa ini, sekaligus memberikan ketegasan bahwa kaum perempuan di Provinsi "Seribu Pulau" mempunyai akses yang kuat dan besar untuk membangun di berbagai sektor kehidupan.

Dikatakan, spirit perempuan Maluku yang "kabaresi" harus menjadi sumber etik yang baru untuk menumbuhkan kesadaran berjuang di kalangan perempuan Maluku, guna menghentikan politik dominasi dan meruntuhkan stigma sosial yang selama ini melemahkan posisi dan peran perempuan terhadap laki-laki, serta mewujudkan perdamaian dan keadilan dalam setiap sektor kehidupan sosial.


"Apa yang diisyaratkan oleh tema kongres yaitu `Perempuan, Kepemimpinan dan Transformasi Sosial’, kiranya kita pahami sebagai sebuah inspirasi baru bagi perempuan Maluku untuk menjadi agen pembaharu dan transformasi di berbagai sendi kehidupan," ujarnya.

Ralahalu mengaku akses perempuan Maluku dalam pemerintahan dan pembangunan, belakangan ini telah menjamin kesetaraan dan keadilan gender. 

"Wakil Walikota Ambon, Olivia Latuconsina dan Wakil Bupati Seram Bagian Timur (SBT), Sitty Suruwaky, adalah dua sosok perempuan yang berhasil ’menginterupsi’ dominasi kaum laki-laki dalam jabatan-jabatan politik penting di daerah ini. Begitupun beberapa jabatan tertinggi dan strategis di birokrasi serta para anggota DPRD provinsi serta kabupaten/kota notabene adalah kaum perempuan. Ini merupakan sebuah prestasi tersendiri," ungkapnya.

Selain itu, masih ada sejumlah perempuan lain yang memainkan peran strategis, bahkan hingga ke dunia perguruan tinggi, jurnalistik, LSM dan beragam profesi sosial lainnya.

Kendati demikian, Ralahalu mengakui tidak bisa mengabaikan dan menutup mata akan banyaknya perempuan yang masih "didominasi" dan mendapat perlakuan tidak dil" di tengah masyarakat maupun di arena publik lainnya.

"Hal ini harus menjadi alasan penting terselenggarakan kongres ini guna menyusun sebuah peta persoalan kaum perempuan yang akurat dengan indikator-indikator yang terukur," katanya. 

Ia berharap, kongres dengan tema "Perempuan, Kepemimpinan dan Transformasi Sosial di Maluku" itu, tidak hanya menghasilkan wacana, namun menelurkan bentuk sikap dan komitmen kaum perempuan di Maluku untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan diri serta membantu pemerintah dalam membangun di berbagai sektor kehidupan di daerah ini.

Ralahalu juga mengingatkan kaum perempuan di Maluku untuk mendukung suksesnya penyelenggaraan Pemilu legislatif dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang semakin dekat pelaksanaannya, karena ini menyangkut kelangsungan hidup bangsa dan negara lima tahun mendatang, sekaligus memperkuat komitmen dan eksistensi perempuan di panggung politik tanah air.


Editor

Close Ads X