Sastrawan Negara Arena Wati Berpulang - Kompas.com

Sastrawan Negara Arena Wati Berpulang

Kompas.com - 27/01/2009, 20:47 WIB

 

JAKARTA, SELASA - Sastrawan Malaysia terkemuka, Arena Wati, Senin (26/1) pukul 13.40 waktu Malaysia, meninggal dunia dalam usia 84 tahun di Universiti Kebangsaan Malaysia Hospital (HUKM), di Cheras, Malaysia. Kantor berita Bernama dan harian New Straits Times melaporkan, Arena Wati mengalami gangguan paru-paru dan di rawat sejak 20 September 2008.

"Dalam kondisi dirawat di rumah sakit, Bapak masih menyempatkan diri menyesaikan trilogi Bara-Baraya. Trilogi itu berkisah tentang perjuangan Melayu di Nusantara, yang direncanakan diterbitkan tahun ini," kata Rahmah Wati, putri tertuanya.

Sastrawan Malaysia A Samad Said mengatakan, Malaysia kehilangan salah seorang sastrawan terbaiknya. Arena Wati selain bergelar Sastrawan Negara, juga meraih sejumlah prestasi, antara lain meraih penghargaan sastra Asia Tenggara dari Raja Thailand, SEA Write Award tahun 1985 dan Sastrawan Negara dari Pemerintah Malaysia tahun 1988, katanya.

Sastrawan Indonesia Taufiq Ismail yang dihubungi Kompas, Selasa (28/1) malam di Rumah Puisi, Nagari Aia Angek, Kabupaten Tanadahdatar, Sumatera Barat, mengaku kehilangan salah seorang teman dan sahabat dengan berpulangnya Arena Wati.

Arena Wati seorang sastrawan yang sangat produktif, kreatif, dan pergaulannya luas. Rasa Makassarnya masih kental, pertanda hubungan dengan tanah kelahirannya begitu dekat. "Akan tetapi ia juga sebagai warga Negara Malaysia yang baik," katanya.

Secara terpisah, sastrawan Indonesia asal Makassar, Rahman Arge (73), yang dihubungi di Makassar, menyebutkan Arena Wati sebagai sastrawan besar Malaysia yang juga punya andil dalam memotivasi sastrawan-sastrawan di Makassar. Ia beberapa kali berkunjung ke Makassar dalam pertemuan sastra.

Ia salah seorang sastrawan kelahiran Jeneponto, daerah pantai yang keras di Sulawesi Selatan. Namun, lewat karya-karya sastranya, diekspresikan dengan lembut. Ia sangat kreatif dan produktif, tandasnya.

Di Jakarta, penyair Johannes Sugianto, Ketua Paguyuban Sastra Rabu Malam, juga kaget mendapat kabar meninggalnya sastrawan Malaysia Arena Wati. Dia sastrawan yang cukup dikenal di Asia Tenggara. Ia meninggalkan banyak karya-karya sastra bermutu. "Bahkan, ketika dirawat di rumah sakit, ia masih menulis trilogi Bara-Baraya," ujarnya.

Dari data Kompas, Arena Wati memiliki nama lengkap Muhammad bin Abdul Biang alias Andi Muhammad Dahlan bin Andi Buyung. Dalam karya-karyanya ia juga memakai nama lain seperti Duta Muda dan Patria. Dilahirkan 30 Juli 1925, di Jeneponto, Kabupaten Kalumpang, Makassar, Sulawesi Selatan, Arena Wati , selama tiga tahun 1986-1989, pernah menjadi dosen tamu di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Arena wait pernah mengenyam pendidikan di sekolah Belanda di Makassar.

Memulai kehidupan sebagai pelaut tahun 1943, di mana pada usia 17 tahun Arena sudah jadi nakhoda kapal. Rajin membaca sambil berlayar, Arena sekitar tahun 1954 bekerja di lingkungan penerbitan majalah Royal Press dan penerbitan Harmy. Tidak lama kemudian, dia pindah ke Johor Baru bekerja pada penerbitan Melayu Ltd, selama lima tahun. Tahun 1962-1974 bekerja di Pustaka Antara, Kuala Lumpur.

Novel pertamanya Kisah Tiga Pelayaran terbit tahun 1959 di Singapura. Setelah itu menyusul Lingkaran (1962), Sandera (1971), Bunga dari Kuburan (1987), Kuntum Tilup Biru (1987), Sakura Mengorak Kelopak (1987), Panrita (1993), Sukma Angin (1999), Trilogi Busa (2002), Trilogi Armageddon (2004), dan Trilogi Bara Baraya .

Sebagai sastrawan, Arena Wati tidak hanya sebatas menulis karya sastra, tetapi juga menulis sedikitnya 10 buku tentang kajian sastra dan kebudayaan.  

Arena wati yang dimakamkan di Tanah Perkuburan Islam Bukit Kiara ini, meninggalkan istri Halimah Sulong, dan enam anak Rahmah Wati, Hirianty, Ilhamuddin, Ratna Siti Akbari, Hasanuddin, dan Kamaluddin Rostov.

 


Editor

Terkini Lainnya


Close Ads X