PKNU, Memuliakan Kembali Politik

Kompas.com - 31/12/2008, 00:45 WIB
Editor

Kemunculan PKNU beriringan dengan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap partai. Tidak khawatir PKNU akan kurang mendapat dukungan pemilih?

PKNU hadir dengan membawa warna baru dalam politik, yaitu politik yang berangkat dari visi keagamaan melalui bimbingan ulama. Selain menyasar warga NU, PKNU juga terbuka bagi umat Islam lainnya yang setuju dengan paham ahlussunnah wal jamaah; kelompok nasionalis yang tidak mau kehilangan keislamannya dan umat Islam yang tidak mau kehilangan nasionalismenya; serta kelompok non-Muslim. Dengan semakin rasionalnya pemilih, dengan platform dan program partai yang baik, PKNU yakin mereka akan masuk ke PKNU.

Bagaimana PKNU menempatkan para kiai tersebut?

Bagi PKNU, kiai adalah orang yang berjuang dan mencurahkan pikiran untuk rakyat. Mereka bukan sembarang kiai sehingga dalam struktur partai ditempatkan sebagai anggota dewan mustasyar (pertimbangan) dengan posisi di atas dewan syura (permusyawaratan) dan dewan tanfidz (eksekutif). Sebanyak 17 kiai senior dalam dewan mustasyar itu memiliki kedudukan dan wewenang yang sama, memiliki hak veto atas keputusan partai. Mereka memproses setiap pelanggaran yang dilakukan kader hingga menyelesaikan konflik melalui mekanisme internal. Semua pengurus partai harus tunduk dengan putusan forum kiai.

Bukankah itu hanya menjadikan para kiai sebagai penarik dukungan masyarakat semata yang setelah pemilu usai mereka ditinggalkan lagi?

Kondisi itu hanya terjadi jika peran kiai hanya didominasi beberapa orang tertentu. Sedangkan kiai yang lain tidak diberi kewenangan yang sama. PKNU ingin melembagakan peran kiai sehingga tidak bergantung pada satu figur tertentu. PKNU tak ingin menjadikan kiai sebagai penarik massa, terbukti tak ada satu pun kiai yang mencalonkan diri sebagai calon presiden.

Tidak takut langkah tersebut justru mengultuskan para kiai?

Tidak, ini bukan kultus, tetapi membangun sistem. Walaupun ada kiai dalam partai, sistem partai yang diikuti, bukan mengikuti keinginan personal kiainya.

Bukankah massa NU sudah banyak disasar partai lain, baik PKB, PPNUI (Partai Persatuan Nahdlatul Ummat Indonesia), maupun partai nasionalis lainnya?

Konstruksi politik bangsa Indonesia sejak Pemilu 1955 tidak pernah berubah, yaitu massa NU-Masyumi, nasionalis, dan komunis. Setiap aliran telah berkembang menjadi banyak partai dengan berbagai pengembangan ideologi yang lebih beragam.

Untuk partai berbasis ideologi NU sendiri masih sedikit jumlahnya. Jika pada Pemilu 1999 ada PKB, PPNUI, dan PKU (Partai Kebangkitan Umat), pada Pemilu 2004 hanya ada PKB dan PPNUI. Kini pada 2009 bertambah dengan adanya PKNU. Jadi, potensi untuk mendapat dukungan warga NU masih terbuka lebar.

PKNU ingin membangun kesadaran politik warga NU melalui pendidikan politik. NU pernah menjadi partai besar dan memberi sumbangan besar bagi berdirinya negara ini.

PKNU ingin mengajak kembali warga NU untuk membangun negara dengan cara politik, tetapi tanpa meninggalkan moral politik yang diajarkan para kiai.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.