Selamat Tinggal (Otorita) Batam

Kompas.com - 14/11/2008, 01:57 WIB

Akhir tahun 2008 Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau Otorita Batam, sebagai institusi penguasa di kawasan industri Pulau Batam selama 35 tahun, berakhir. Apa yang telah dibuat Otorita Batam sejak tahun 1973 itu?

Otorita Batam memang sudah melakukan banyak hal untuk menarik investasi. Namun, dibandingkan dengan kawasan Johor Bahru, Malaysia, yang gencar dikembangkan sejak tahun 2000, Batam jauh tertinggal. Tahun 2000, Johor Bahru mengembangkan pelabuhan peti kemas Tanjung Pelepas.

Johor Bahru juga terus menggenjot investasi di kawasan Iskandar Development Region (IDR). IDR yang kemudian diubah menjadi kawasan Iskandar Malaysia baru dipromosikan tahun 2006. Kawasan IDR dirancang untuk pengembangan investasi sampai tahun 2025.

Dengan berdirinya badan pengelola IDR, yaitu Iskandar Regional Development Authority (IRDA), tahun 2007 sampai 2010 IDR ditargetkan mampu menarik investasi 47 miliar ringgit Malaysia (RM) atau sekitar Rp 126,9 triliun.


Harapan untuk mengejar ketertinggalan pengembangan kawasan investasi di Batam kini berada pada Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (FTZ) Batam.

Memang tidak terlalu mudah bagi BP FTZ Batam yang dibentuk pada September 2008 untuk mengejar ketertinggalan itu dan bersaing dengan kawasan IDR. Jika daya saing lemah, Batam sebagai kawasan FTZ pun akan ditinggal oleh investor baru.

Investor mungkin memilih daerah lain dengan infrastruktur yang lebih maju dan berdaya saing. Bahkan, jika persaingan merebut investasi lemah, tidak menutup kemungkinan investor yang ada pun meninggalkan Batam.

Dari perjalanan Otorita Batam, sejak berdiri dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 41 Tahun 1973 tentang Daerah Industri Pulau Batam, pengembangan investasi memang banyak dilakukan, misalnya pembangunan kawasan industri. Dari data Otorita Batam sampai tahun 2007 tercatat ada 25 kawasan industri.

Pertumbuhan investasi pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai gambaran, sejak tahun 1990 sampai 2007, secara akumulatif total investasi di Batam 13,08 miliar dollar AS atau Rp 125,5 triliun dengan nilai tukar Rp 9.600.

Investasi itu terdiri atas investasi pemerintah 2,60 miliar dollar AS dan investasi swasta 10,47 miliar dollar AS. Investasi swasta terdiri atas swasta domestik 5,71 miliar dollar AS dan swasta asing 4,76 miliar dollar AS.

Dengan pertumbuhan investasi, penerimaan pajak pemerintah dari Batam pun meningkat. Tahun 2007, penerimaan pajak pemerintah dari Batam Rp 1,80 triliun. Tahun 2006, penerimaan pajak dari Batam Rp 1,54 triliun dan tahun 2005 Rp 1,23 triliun.

Akan tetapi, pertumbuhan investasi tersebut selama 35 tahun itu belum memperlihatkan perkembangan kawasan yang membanggakan sesuai dengan visi dan misi. Apa indikatornya? Pertama, pelabuhan. Kedua, zonasi kawasan pengembangan investasi.

Halaman Berikutnya
Halaman:


Editor

Close Ads X