Fakta "Ikan Besar" Diungkap dalam Sidang Muchdi

Kompas.com - 21/08/2008, 13:03 WIB
Editor

Laporan wartawan Kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KAMIS — Terpidana Pollycarpus Budihari Priyanto hanya ikut sampai Bandara Changi, Singapura, dalam penerbangan yang akan membawa Munir ke Amsterdam pada 6 September 2004.

Saat transit di Changi, keduanya minum di salah satu kafe. Polly membawa dua gelas minuman yang salah satunya diberikan kepada Munir. Minuman untuk Munir itu, berdasarkan hasil penelitian telah dibubuhi racun arsenik, kemudian merenggut nyawa Munir 8-9 jam kemudian di atas pesawat yang membawanya ke Bandara Schiphol, Amsterdam, pukul 00.45 tanggal 7 September 2004.

Polly, dalam penerbangan GA 974 yang transit ke Singapura itu, bertugas sebagai petugas yang diperbantukan pada Aviation Security, tugas dadakan yang diberikan. Padahal, seharusnya sebagai pilot ia tak bisa bertugas dengan posisi itu. Tugas yang didapatkannya berbekal surat sakti dari Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN) kala itu, Muchdi Pr.

Koordinator Kontras Usman Hamid mengatakan, ada satu fakta baru yang diungkapkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam dakwaan yang dibacakan dalam sidang pertama di PN Jakarta Selatan, Kamis (21/8). Fakta itu adalah, setelah pulang dari penerbangan GA 974 pada tanggal 7 September 2004, Pollycarpus langsung menghubungi agen madya BIN Budi Santoso.

Dalam perbincangannya melalui handphone, Polly mengatakan bahwa ia telah mendapatkan "ikan besar" di Singapura. "Pada tanggal 7 September 2004 saksi Pollycarpus menghubungi handphone Budi Santoso dengan nomor 08129633335. Pollycarpus mengatakan bahwa ia sudah kembali ke Singapura dan bilang sudah mendapatkan 'ikan besar' di Singapura. Maknanya adalah sudah berhasil membunuh Munir di Singapura sesuai tugas dari terdakwa Muchdi. Kemudian, saksi Budi menanyakan apakah sudah melapor ke Muchdi dan dijawab sudah dilaporkan kepada terdakwa Muchdi," demikian Jaksa Cyrus Sinaga membacakan salah satu bagian dakwaan.

Dikatakan Usman, fakta ini adalah fakta baru yang belum pernah diungkap dalam persidangan yang menghadirkan Pollycarpus sebagai terdakwa. Sementara, kronologi yang dituangkan JPU perihal surat tugas dan yang lainnya merupakan fakta yang telah diketahui sebelumnya. "Ada beberapa hal baru yang menyangkut laporan Pollycarpus tentang adanya ikan besar yang berhasil ditangkap atau percakapan lain dengan saksi yang saya kira itu merupakan fakta yang bisa dihadirkan dalam persidangan," ungkap Usman.

Pollycapus yang diduga menjadi anggota jejaring nonorganik BIN dinilai JPU akan tunduk dengan perintah Muchdi Pr yang merekrutnya. Termasuk untuk menghabisi nyawa Munir. Pollycarpus telah dipidana sesuai dengan keputusan MA nomor 109PK/Pid/2007 tanggal 25 Januari 2008 karena terbukti melakukan pembunuhan berencana dan pemalsuan surat. (ING)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menkes: Terima Kasih atas Pengabdian Tulus Para Dokter...

Menkes: Terima Kasih atas Pengabdian Tulus Para Dokter...

Nasional
Ketum Golkar: Target Menang Pilkada 60 Persen, Langkah Awal Rebut Kejayaan 2024

Ketum Golkar: Target Menang Pilkada 60 Persen, Langkah Awal Rebut Kejayaan 2024

Nasional
Jokowi Ungkap Alasan RUU Cipta Kerja Dikebut di Tengah Pandemi

Jokowi Ungkap Alasan RUU Cipta Kerja Dikebut di Tengah Pandemi

Nasional
Ketum Golkar: UU Cipta Kerja Terobosan Historis Tanpa Paksaan Siapa Pun

Ketum Golkar: UU Cipta Kerja Terobosan Historis Tanpa Paksaan Siapa Pun

Nasional
Kasus Red Notice, Djoko Tjandra dan 2 Jenderal Polisi Jalani Sidang Perdana Selasa Pekan Depan

Kasus Red Notice, Djoko Tjandra dan 2 Jenderal Polisi Jalani Sidang Perdana Selasa Pekan Depan

Nasional
Ini Protokol Kesehatan Menonton Film di Bioskop DKI Saat PSBB Transisi

Ini Protokol Kesehatan Menonton Film di Bioskop DKI Saat PSBB Transisi

Nasional
Virolog: Vaksin Covid-19 Sulit Diterima Publik jika Belum Lolos Uji Klinis Fase 3

Virolog: Vaksin Covid-19 Sulit Diterima Publik jika Belum Lolos Uji Klinis Fase 3

Nasional
Mahfud: Dokter Harus Berpihak pada Kelangsungan Hidup Manusia

Mahfud: Dokter Harus Berpihak pada Kelangsungan Hidup Manusia

Nasional
Ini Lima Langkah Efektif Cegah Covid-19 di Pesantren dari Epidemiolog

Ini Lima Langkah Efektif Cegah Covid-19 di Pesantren dari Epidemiolog

Nasional
Di HUT IDI, Mahfud Tegaskan Penanganan Kesehatan dan Ekonomi Harus Bersamaan

Di HUT IDI, Mahfud Tegaskan Penanganan Kesehatan dan Ekonomi Harus Bersamaan

Nasional
Pusat Keramaian Sumedang Dipantau CCTV, Warga Tak Pakai Masker Langsung Ditindak

Pusat Keramaian Sumedang Dipantau CCTV, Warga Tak Pakai Masker Langsung Ditindak

Nasional
Tanpa Harus Keluar Rumah, Layanan BPJS Kesehatan Bisa Diakses lewat Pandawa

Tanpa Harus Keluar Rumah, Layanan BPJS Kesehatan Bisa Diakses lewat Pandawa

BrandzView
Ganjar Sebut Ada Kepala Daerah Sengaja Tak Tes Covid-19 agar Tetap di Zona Hijau

Ganjar Sebut Ada Kepala Daerah Sengaja Tak Tes Covid-19 agar Tetap di Zona Hijau

Nasional
HUT IDI, Presiden Jokowi Sebut Masyarakat Rasakan Ketangguhan Para Dokter Selama Pandemi

HUT IDI, Presiden Jokowi Sebut Masyarakat Rasakan Ketangguhan Para Dokter Selama Pandemi

Nasional
UPDATE 24 Oktober: Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 34 Provinsi, Paling Tinggi Jakarta dengan 1.062

UPDATE 24 Oktober: Kasus Baru Covid-19 Tersebar di 34 Provinsi, Paling Tinggi Jakarta dengan 1.062

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X