Yuli Astuti, Demi Selembar Kapal Kandas

Kompas.com - 21/08/2008, 06:08 WIB
Editor

Laporan Wartawan Kompas, Neli Triana

”Sudah biasa, saya pakai sepeda motor ke mana-mana. Saya harus sering pergi untuk sekadar belanja pewarna atau memenuhi jadwal belajar teknik membatik. Untuk itu saya bisa ke Solo, Yogyakarta, atau Semarang. Kadang kecapekan, tetapi setelah melihat hasil batik yang saya buat, semua rasa lelah hilang,” kata Yuli Astuti.

Perempuan berusia 28 tahun ini ditemui di rumahnya, di tengah sawah di Desa Karang Malang RT 04 RW 02 Nomor 11, Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, awal Agustus lalu. Saat itu Yuli baru kembali dari Yogyakarta yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Kudus. Dia mengikuti pameran batik di Yogyakarta. Tidak tampak kelelahan di wajahnya, dia justru begitu bersemangat setelah mengeruk pengalaman dari kegiatan yang diikutinya.

Perempuan berkulit putih ini adalah salah seorang dari segelintir warga asli Kudus yang mempertahankan dan mengembangkan pola-pola batik lokal. Salah satu motif batik lokal yang tidak ditemui di daerah lain di Indonesia adalah motif kapal kandas, berbentuk kapal terbalik.

Menurut Yuli, orang-orang tua pembatik di Kudus masih sering menggunakan motif ini. Hanya saja, sejarah pasti tentang motif tersebut sulit sekali digali. Bahkan, tak hanya motif kapal kandas, tetapi selama dua tahun terakhir dia mencoba mencari runutan sejarah batik kudus.

Tidak hanya menelusurinya dari para tetua di kawasan Kota Kretek tersebut, Yuli juga meminta pendapat dari pengelola persatuan batik tulis di Semarang dan Yogyakarta, para kolektor batik, hingga para pembatik senior di kawasan pesisir di Tuban sampai Jakarta.

Selama bergerilya ke sana dan kemari mencari asal-usul batik kudus, Yuli harus merogoh saku paling sedikit Rp 60 juta untuk menebus batik tulis kudus kuno dari tangan kolektor.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Data yang didapat dari berbagai cerita menunjukkan, motif kapal kandas diilhami dari kandasnya kapal China di kawasan ini, mungkin lebih dari 200 tahun lalu. Kapal bangsa China tersebut kandas dan penumpangnya yang selamat kemudian bermukim di lembah Gunung Muria atau Kudus. Batik kudus sama seperti batik di daerah pesisir lainnya, amat dipengaruhi budaya China,” kata Yuli.

Kapal kandas bukan pertanda kemalangan, tetapi justru era baru kehidupan dan kebudayaan di Kudus. Karena itu, motif kapal kandas terus diabadikan dalam lembaran-lembaran batik tulis membaur dengan motif lain yang menggambarkan potensi alam lembah Muria bertahun- tahun silam hingga kini.

Dalam lembaran-lembaran batik hasil karya Yuli, tergambar juga motif buah kopi, jahe-jahean, palijadi, patijotho (sejenis tanaman obat), ikan, dan motif- motif baru hasil kreasinya seperti menara kudus, salah satu ikon Kota Kudus. Motif buah kopi juga menjadi andalan selain kapal kandas karena menggambarkan produk unggulan Kudus yang banyak ditanam di lereng Gunung Muria.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X