Sejarah Jalur KA Lampung-Palembang - Kompas.com

Sejarah Jalur KA Lampung-Palembang

Kompas.com - 16/08/2008, 12:31 WIB

Oleh Haryo Damardono

SABTU (16/8), kereta batubara rangkaian panjang bertabrakan dengan kereta Limex Sriwijaya, di kilometer 18 Kelurahan Labuhanratu, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung. Dimanakah letaknya? Kapankah, jalur kereta api itu dibangun?

Lokasi kecelakaan di Kilometer 18 Bandar Lampung, merupakan bagian jalur kereta api Divisi Regional III Sumatera Selatan PT Kereta Api. Dimulai dari Stasiun Panjang (di Lampung), yang telah ditutup, sebagai kilometer nol, jalur kereta api mentok di Stasiun Prabumulih (di Sumatera Selatan) di Km 332+705. Sebelum akhirnya, jalur kereta api di Stasiun Prabumulih bercabang dua ke barat dan timur.

Ke arah barat, jalur kereta berakhir di Stasiun Lubuklinggau (Sumatera Selatan) di Km 549+448, sedangkan ke arah timur kereta berakhir di Stasiun Kertapati (Palembang, Sumatera Selatan) di Km 400+102.

Kompas sempat berpikir, mengapa berhenti di Kertapati, bukan di Palembang Kota? Kompas pun sempat berdiri di Jembatan Ampera Musi, Kamis, 3 April 2008, setelah turun dari kereta jurusan Martapura-Kertapati.

Setelah diamati dari atas Jembatan Ampera, ternyata Stasiun Kertapati tepat di pertemuan Sungai Ogan dan Sungai Musi. Mungkin sulit bagi Belanda, untuk membuat jembatan melintasi Sungai Musi dari Kertapati menuju Palembang Kota. Adapun jalur Kertapati-Prabumulih sepanjang sekitar 78 kilometer, dibangun Belanda tahun 1916.

Kembali ke kilometer 18, dimanakah letaknya? J alur KA ini berada di antara Stasiun Labuhan Ratu di Km 17+013 dan Stasiun Rejosari di Km 28+554. Kedua stasiun itu masuk kategori stasiun kelas III.

Kapan dibangun? Kilometer 18, yang ternyata masuk jalur pembangunan Labuhan Ratu-Tegineneng dibangun perusahaan kereta api Belanda, Zuid Soematera Spoorwegen (ZSS) pada tahun 1917. Artinya, perlintasan kereta itu sudah berumur 90 tahun lebih.

Zuid Soematera Spoorwegen (ZSS) tuntas membangun rel kereta api di Lampung dan Sumatera Selatan hingga 529 km. Seluruhnya merupakan rel (sempit) berukuran 1.067 mm. Sementara di dunia, kini mayoritas negara menggunakan rel selebar 1.435, yang menjaga stabilitas kereta lebih baik agar bisa ngebut .

Awalnya, ZSS berencana membangun rel hingga Tapanuli tetapi dihempaskan kebangkrutan perusahaan akibat resesi setelah Perang Dunia I. Great Depression begitu dunia mengenalnya, yang ternyata berdampak ke rel di Sumatera. Beginilah kisah di republik ini, sudah tinggal memakai rel warisan Belanda, tabrakan pula....


Editor
Close Ads X