Bayi Tak Beranus Bisa Dideteksi Lewat USG

Kompas.com - 31/07/2008, 19:17 WIB
Editor

YOGYAKARTA, KAMIS - Kelainan gen pada janin berupa omphalocele atau usus keluar melalui tali pusat tertutup kantung amnion dan atresia-ani atau tidak memiliki lubang anus, bisa diketahui melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). Dengan mengetahui kelainan sejak dini, maka dokter akan melakukan tindakan secepatnya guna mengurangi risiko.

Rochadi, dokter spesialis bedah anak dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, mengemukakan omphalocele atau atresia- ani cukup sering terjadi. Di Indonesia, kemungkinan bayi lahir dalam kondisi demikian mencapai 1:10.000. Sayangnya, sebagian bayi baru dibawa ke rumah sakit (memiliki peralatan dan sumber daya mencukupi) beberapa hari pascapersalinan.  

Dalam dua tahun terakhir, di Sarjito ada sekitar 20 kasus untuk omphalocele dan 15 kasus untuk atresia-anis, (jumlahnya) hampir sama dengan kelainan bayi kembar, ujar Rochadi, Kamis (31/7).

Saat ini dokter RSUP Dr Sarjito juga tengah menangani bayi laki-laki (10 hari) yang mengalami omphalocele sekaligus atresia anis. Anak kedua pasangan Sardianto (32) dan Suharni (28) asal Rejosari, Kemadang, Tanjungsari, Gunung Kidul, itu kondisinya stabil setelah dilakukan operasi pembuatan anus pada dinding perut.

Bayi yang lahir dalam kondisi demikian, menurut Rochadi bisa dinormalkan. Pembuatan anus di tempat yang semestinya akan segera dilakukan setelah kondisinya baik, atau sekitar tiga bulan lagi. Y ang berbahaya bila tidak memiliki dubur, semua pencernaan tidak berfungsi lantaran tidak ada jalan keluar (kotoran). Nah, pada saat dilakukan tindakan pada anak ini, ternyata pada omphalocele ususnya terjepit sehingga kita harus dikeluarkan lebih dulu, jelas Rochadi yang didampingi dokter residen bedah anak, Chandra.

Sementara itu, Sardianto dan Suharni mengakui persalinan anaknya ditolong bidan desa. Begitu mengetahui ada kelainan, bayi langsung dilarikan ke salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta, sebelum akhirnya diserahkan ke RSUD Dr Sardjito. Selama mengandung, Suharni mengaku acap memeriksakan diri. Kami sempat akan melakukan USG, namun bayi terburu lahir, Sardianto yang baru tahu kondisi anaknya tiga pascapersalinan.

Menurut Sardianto yang berprofesi sebagai pedagang asongan di Terminal Giwangan itu, pihak keluarga tidak memiliki biaya cukup. Mereka sudah mengurus asuransi kesehatan bagi warga miskin hingga ke tingkat kabupaten, namun terkendala ketiadaan data di kantor Askes setempat.

 

 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X