Kuali Peleburan di Tlatah Jawa Timur

Kompas.com - 21/07/2008, 00:59 WIB
Editor

Komunitas budaya lainnya adalah Tengger dan Samin. Orang Tengger tinggal di dataran tinggi Tengger dekat dengan Gunung Bromo. Mereka tetap mempertahankan adat istiadat Hindunya, sedangkan orang Samin tinggal di daerah Bojonegoro yang berbatasan dengan Jawa Tengah.

Itulah Jatim. ”Kue lapis budaya” campuran lokal dan asing telah menjadikannya beragam.

Menurut Denys Lombard (1996), pengaruh budaya luar yang ikut memengaruhi Jawa adalah India, Islam, China, lalu disusul Eropa yang merupakan unsur budaya modern.

Tradisi politik

Ciri sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap tradisi politiknya. Pengaplingan politik berlaku pula di sini. Masyarakat di tlatah Mataraman dari sejak 1955 hingga 2004 selalu ”loyal” kepada partai-partai nasionalis.

”Mereka (orang Mataraman) tidak suka yang mencolok-colok, misalnya Islam yang terlalu Islam itu tidak suka karena dianggap tidak nasionalis. Jadi, partai-partai yang berlabel nasionalis akan laku di sini,” ujar Ayu Sutarto.

Sebaliknya, mayoritas masyarakat di tlatah Madura dan Pandalungan lebih loyal kepada pada partai yang berbasis massa Islam Nahdlatul Ulama, seperti Partai Kebangkitan Bangsa. Ulama dan kiai masih menjadi tokoh panutan di sana. Pengaruhnya pun ikut merambah ke ranah pilihan politik warganya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lalu bagaimana dengan wilayah Arek? Daerah ini sering disebut daerah ”abu-abu” karena keberimbangan antara pendukung partai-partai nasionalis dan partai-partai ”warga NU”.

Pemilu 1999 dimenangi oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang ”merah”. Lima tahun kemudian berubah, PKB yang ”hijau” berhasil unggul.

Dengan demikian, ”kuali peleburan” telah membentuk Jatim menjadi unik. Menjadikannya berbeda dengan saudara Jawa lainnya, Jawa Tengah maupun Jawa Barat. Baik sisi budaya maupun politiknya.

Itulah, jika ingin menarik simpati warga Jatim, para kontestan setidaknya harus ”bersusah-susah” untuk membuat tiga bentuk slogan berbahasa lokal. Bagaimana ini, Bung? Yok opo iki, Rek? Piye iki, Cah? Dha' ramma areya, Cong? (Litbang Kompas)

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.