Tergulingnya Raksasa Tradisional

Kompas.com - 01/07/2008, 04:18 WIB
Editor

Sindhunata

Kembang api bersemburat indah di langit Stadion Vienna. Michael Ballack terduduk lesu tak berdaya. Wajahnya murung menyelimuti duka. Bekas darah masih tersisa di pelipisnya. Darah yang seakan sia-sia tertumpah karena akhirnya dalam pertandingan final itu dia kalah. Matanya menerawang jauh, memandang aneka bunga-bunga api, yang bertaburan di angkasa untuk menghormati sang juara. Ia melihat kapten lawan, Iker Casillas, mengangkat tinggi-tinggi piala juara. Alangkah bahagianya andaikan ia yang juga kapten boleh mengangkat piala itu.

”Kami sudah sampai di final, tapi kami kalah. Tentu kami kecewa luar biasa,” kata Ballack. Ballack adalah seorang lelaki yang kuat. Tapi ia pernah berkata, ”Dalam hal bola, seorang lelaki juga bisa menangis.” Malam itu tidak hanya dia yang menangis. Orang-orang Jerman juga menangis bersamanya.

Ballack adalah tumpuan utama kesebelasan Jerman. Menurut Franz Beckenbauer, Ballack-lah yang membedakan Jerman dari Spanyol. Spanyol memang tim hebat. ”Tapi mereka tidak mempunyai chef di lapangan. Ya, Spanyol tidak memiliki kapten yang tangguh,” kata Beckenbauer.

Waktu Jerman melawan Portugal, Ballack menunjukkan, dia adalah chef yang sesungguhnya. ”Ballack seakan hendak mengatakan, siapa hendak mengalahkan Jerman, dia harus terlebih dahulu mengalahkan saya,” kata Beckenbauer lagi.

Beckenbauer berharap agar Ballack bisa memahkotai prestasinya dengan menjadi juara di Vienna. Ternyata Ballack tampil bukan sebagai calon juara. Sama sekali tak tampak ia adalah chef lapangan tengah. Malah sering kali ia hanya marah-marah.

Di malam final itu, Jerman di bawah Ballack memang tak pantas menjadi juara. Komentator sepak bola Jerman sendiri pun mengakui, Jerman belum masak menjadi juara. Komentator-komentator luar mengkritik, Jerman selayaknya kalah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Jerman telah melempar handuk. Jerman jauh di bawah Spanyol. Jerman seperti kesebelasan anak-anak sekolah yang harus bermain melawan kesebelasan bernama Spanyol,” kata Giovanne Elber, mantan pemain Stuttgart yang sekarang menjadi komentator televisi di Brasil.

Jerman adalah langganan juara. Itu karena mereka mempunyai keutamaan-keutamaan dasar sepak bola yang tradisional, seperti mentalitas yang kuat, disiplin yang tinggi, pantang menyerah. Belum lagi mereka terkenal mempunyai fisik yang kuat. Semuanya itu ternyata tidak cukup, ketika mereka harus menghadapi Spanyol yang bermain dengan begitu modern dan dengan intelegensi dan teknik yang tinggi. Belum lagi, Spanyol menunjukkan sepak bola bukan lagi permainan individu, tapi permainan tim. Memang Spanyol telah meninggalkan gaya permainan matadornya yang individual dan beralih ke permainan yang mengandalkan kekompakan tim.

Perubahan ini terkait dengan sejarah sport di Spanyol sendiri. Di bawah diktator Franco, individualitas amatlah dipentingkan. Tak mengherankan bila dalam kurun selanjutnya, Spanyol berjaya dalam olahraga individual, seperti tenis, formula 1, dan balap sepeda. Baru akhir- akhir ini Spanyol juga berjaya di bidang olahraga beregu, seperti bola tangan, basket, dan hoki.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.