Sajogyo, Pemikir Pembangunan

Kompas.com - 27/06/2008, 07:45 WIB
Editor

Dari Redaksi:

Menyambut Ulang Tahun ke-43 Harian Kompas, harian ini memberikan penghargaan kepada lima cendekiawan berdedikasi. Kelima cendekiawan itu adalah Guru Besar Emeritus Universitas Airlangga Soetandyo Wignyosoebroto, Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Satjipto Rahardjo, Guru Besar Institut Pertanian Bogor Sayogyo, Anggota Majelis Guru Besar Institut Teknologi Bandung MT Zen, dan Staf Ahli Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Thee Kian Wie. Kompas menulis pandangan kelima cendekiawan itu mengenai persoalan bangsa. Karena keterbatasan ruang di Harian Kompas cetak, kami sajikan wawancara lengkap kelima pakar itu di Kompas.com.

***

Oleh Wartawan Kompas, Atika Walujani

 
Tidak berlebihan kiranya Prof Bungaran Saragih, mantan Menteri Pertanian yang juga guru besar di Institut Pertanian Bogor, menyebut Prof Dr Ir Sajogyo sebagai pemikir pembangunan Indonesia. Ungkapan kekaguman itu merujuk pada peran Sajogyo dalam meletakkan dasar pemikiran pembangunan pertanian dan pedesaan serta membina kader-kader peneliti untuk memperkuat pembangunan di awal pemerintah Orde Baru serta sikap hidupnya.
 
Konsep penentuan batas garis kemiskinan dengan menghitung pendapatan setara beras, usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK), serta program Inpres Desa Tertinggal (IDT) merupakan beberapa kebijakan pemerintah yang mengadopsi gagasan Sajogyo terkait pembangunan masyarakat Indonesia.
 
Boleh dikatakan Sajogyo adalah pelopor pengembangan aktivitas penelitian sosial ekonomi pertanian dan pedesaan di Indonesia. Ia mendidik kader-kader peneliti di bidang sosial ekonomi, baik lewat kiprahnya sebagai pengajar di Institut Pertanian Bogor (IPB) maupun lewat pelbagai institusi antara lain Survei Agro Ekonomi, Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, juga Yayasan Agro Ekonomika. Ia juga merintis perkembangan ilmu sosiologi pedesaan dan melakukan inovasi dengan praktikum dua minggu di desa bagi mahasiswa. Dengan demikian para mahasiswa Fakultas Pertanian mengenal kehidupan bidang yang hendak digeluti.
 
Sajogyo lahir 21 Mei 1926 di Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sebagai anak pertama dari enam bersaudara pasangan Soewardjo Poerwoatmodjo dan Chamidah. Ayah ibunya berpendidikan guru. Ayahnya guru sekolah dasar berbahasa Belanda. Sajogyo menjalani pendidikan dari sarjana hingga doktor di Fakultas Pertanian Universitas Indonesia, cikal bakal IPB, tahun 1957.
 
Tahun 1963 Sajogyo diangkat menjadi guru besar bidang Sosiologi Pedesaan. Tahun 1965-1966 menjadi Rektor IPB. Setelah pensiun tahun 1991, Sajogyo masih mengajar dan membimbing mahasiswa sampai tahun 1998. Ia juga aktif melakukan penelitian dan kajian di Yayasan Agro Ekonomika.
 
Meski dalam catatan Kompas Sajogyo hanya menulis di harian ini dua kali, namun pemikiran yang dibagikan sangat bernas. Tulisan pertama Sajogyo adalah Garis Kemiskinan dan Kebutuhan Minimum Pangan dimuat di Kompas, 17 November 1977. Pemikiran itu diadopsi pemerintah untuk menetapkan garis kemiskinan.
 
Tulisan kedua adalah Program IDT dan Gerakan Masyarakat dimuat 12 Januari 1994. Dalam tulisan itu dikemukakan, IDT selain sebagai program pemerintah untuk mengatasi kemiskinan juga sebagai upaya mendorong gerakan masyarakat dari bawah agar melakukan kegiatan secara mandiri dan berkelanjutan.
 
Dalam percakapan dengan Kompas, Selasa (24/6), Sajogyo bicara tentang kemiskinan. Ia menyatakan, kemiskinan yang berlangsung sejak lama sampai kini belum kelihatan selesainya.
 
Sajogyo juga mengungkapkan perlunya menyederhanakan indikator kemiskinan. Jika sudah muncul angka bagaimana menafsirkan dalam bahasa yang dimengerti orang dinas di kabupaten, jangan hanya dimengerti oleh orang BPS saja. 
 
Ia juga menyayangkan keterlibatan BPS dalam pendataan orang miskin calon penerima bantuan langsung tunai (BLT) sampai di tingkat RT. "Tugas BPS adalah mengukur pelbagai hal yang sesuai keperluan pemerintah untuk definisi yang umum, untuk perencanaan makro. Menghitung orang miskin di tingkat RT bukan tugas BPS, tapi Departemen Sosial dan Dinas Sosial. Datanya pun harus up to date," katanya.
 
Sajogyo tidak setuju dengan pemberian BLT yang dinilai tidak memandirikan. Ia memberi contoh, orang-orang Minang merantau untuk memperbaiki hidupnya. Mereka berusaha secara mandiri dan saling tolong menolong, misalnya dengan mendirikan rumah makan Padang. Hasilnya untuk membangun kampung. "Kalau orang Minang di kampungnya diberi BLT itu malah merusak," katanya. 
 
Seharusnya pemerintah melakukan program seperti Inpres Desa Tertinggal (IDT), yaitu memberikan modal kerja agar penduduk miskin mampu meningkatkan pendapatan dari pencarian nafkah. Untuk meningkatkan kehidupan petani, mereka harus diajari untuk mampu mengerti masalahnya, membuat keputusan sendiri terkait nasibnya, bertanggung jawab serta bertindak bersama untuk memperbaiki.  
 

Inisiatif pembentukan organisasi di kalangan petani perlu tumbuh dari bawah, pengurus kelompok tani atau koperasi harus dipilih oleh dan dari petani, jangan ditunjuk dari atas. Pemerintah hanya memfasilitasi dengan bimbingan penyuluhan serta bantuan dana.

Hal yang tidak kalah penting adalah memberikan nilai tambah dari produk pertanian dengan mengolah sampai produk akhir yang bisa digunakan konsumen. Dengan demikian harganya lebih bagus. Misalnya, coklat tidak hanya dijual sebagai coklat mentah, melainkan diolah menjadi permen coklat serta bubuk coklat siap minum. Dalam hal ini perlu mempertemukan petani dan dunia usaha untuk menjadi maju bersama.
 
Sajogyo selalu berupaya membuat disiplin ilmunya relevan untuk menganalisis masalah sosial Indonesia. Ilmu harus diaplikasikan untuk kemajuan masyarakat. Ia mengembangkan metodologi di bidang sosiologi serta mensinergikan ilmu sosiologi dan ekonomi secara baik untuk menghasilkan analisis tajam.
 
Bungaran Saragih menuturkan, selain melakukan penelitian, Sajogyo juga terlibat langsung dalam aplikasinya di masyarakat. Tahun 1960-an Sajogyo menganjurkan adanya badan perencanaan pembangunan di tingkat kabupaten. Ia membuat proyek percontohan di Sukabumi. Hasilnya diadopsi oleh sejumlah kabupaten lain, kemudian dijadikan kebijakan nasional. Sajogyo juga melakukan penelitian terkait pangan dan gizi. Pada masa itu ia sudah menyatakan bahwa masalah pokok pembangunan adalah kemiskinan.
 
Perhatiannya membuahkan konsep garis kemiskinan. Juga upaya untuk mengatasi kemiskinan yang kemudian diadopsi pemerintah dengan program IDT.
 
Dalam menjalani hidup, demikian Bungaran Saragih, Sajogyo satu kata dan perbuatan. Ia berjuang memberantas kemiskinan dan tidak menggunakan kemiskinan untuk mencari kekayaan atau kedudukan. "Hidupnya sangat sederhana walau sebenarnya dengan pengetahuan, pengalaman, pengaruh dan wibawanya bisa dengan mudah mendapatkan banyak materi," kata Saragih menggambarkan gurunya itu.
 
Sajogyo memilih mengembangkan ilmu dan membangun masyarakat. Harta dan jabatan tidak penting, bahkan harta Sajogyo banyak digunakan untuk mengembangkan para muridnya. Misalnya, membantu murid yang mengalami kesulitan atau selalu memberikan bahan bacaan kepada para asistennya.
 
"Bimbingan dan contoh yang ditunjukkan Sajogyo membentuk karakter para muridnya menjadi orang yang berpribadi kuat, berempati tinggi serta terbuka terhadap pemikiran orang lain," kata Saragih.
 
Selain dikenal sebagai pribadi yang sederhana, Sajogyo juga berkomitmen tinggi pada tugas, jujur, kritis, dan sikap kekeluargaannya tinggi. Perilakunya amat santun, tutur katanya lembut dan suaranya lirih.
 
Hal itu dikemukakan para muridnya, antara lain Ir Gunardi MA, muridnya di Fakultas Pertanian tahun 1959 yang kemudian menjadi pengajar di Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian IPB. Kini Gunardi telah pensiun dan menjadi konsultan untuk proyek-proyek di bidang pertanian.
 
Menurut Gunardi, semasa menjadi asisten Sajogyo, ia pernah diantar ke terminal bus dengan mobil yang dikemudikan sendiri oleh Sajogyo. Dalam membimbing sikap Sajogyo sangat bersahabat, ia berkomunikasi dengan cara Jawa, dalam meminta atau menyuruh menggunakan isyarat, misalnya lewat bertanya mengenai hal yang harus dilakukan.
 
Kini Sajogyo tinggal di Jalan Malabar 22 Bogor yang sekaligus menjadi kantor Sajogyo Institute. Lembaga yang didirikan tahun 2004 untuk melakukan penelitian dan pendampingan penduduk miskin di Indonesia dalam peningkatan ketrampilan serta permodalan melalui kredit mikro.
 
Sebelumnya Sajogyo sempat tinggal di Jalan Bondongan, namun sejak keluar dari rumah sakit setelah dirawat akibat gangguan jantung April lalu, ia perlu terus ditemani "anak-anaknya", yaitu aktivis di Sajogyo Institute.
 
Kegiatan sehari-harinya kini membina para aktivis dalam perencanaan metodologi penelitian serta menulis dan membuat kata pengantar buku.
 
Sajogyo juga terus berupaya mewujudkan cita-citanya, membuat e-library dari hasil-hasil penelitian terutama yang dilaksanakan Yayasan Agro Ekonomika tahun 1994-1997 serta 6.000 buku milik Sajogyo dan istrinya, mendiang Pudjiwati Sajogyo, juga sekitar 1.000 buku sastra yang dihibahkan oleh L James, sahabat Sajogyo. Dalam e-library itu akan di-upload daftar dan ringkasan isi buku serta hasil penelitian. Mereka yang tertarik atau memerlukan bisa menghubungi Sajogyo Institute. Hal itu diharapkan bisa terwujud dalam waktu dekat karena Sajogyo Institute akan mendapat dana dari Ford Foundation.
 
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

RI Digugat Terkait Larangan Ekspor Nikel, Jokowi: Kita Punya Argumentasi

RI Digugat Terkait Larangan Ekspor Nikel, Jokowi: Kita Punya Argumentasi

Nasional
Tim Advance Umrah Positif Covid-19 Pulang dari Saudi, Dirawat di Tower 5 Wisma Atlet

Tim Advance Umrah Positif Covid-19 Pulang dari Saudi, Dirawat di Tower 5 Wisma Atlet

Nasional
Menag: Kepastian Ibadah Haji 2022 Belum Dapat Diperoleh

Menag: Kepastian Ibadah Haji 2022 Belum Dapat Diperoleh

Nasional
Kritik Pencabutan Larangan 14 Negara Masuk Indonesia, Cak Imin: Kontradiktif

Kritik Pencabutan Larangan 14 Negara Masuk Indonesia, Cak Imin: Kontradiktif

Nasional
KNKT Rilis Perkembangan Sementara Investigasi Kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 di Kepulauan Seribu

KNKT Rilis Perkembangan Sementara Investigasi Kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 di Kepulauan Seribu

Nasional
Pansus Buka Peluang Rampungkan Pembahasan RUU Ibu Kota Negara Hari Ini

Pansus Buka Peluang Rampungkan Pembahasan RUU Ibu Kota Negara Hari Ini

Nasional
Jokowi: Sudah 297,5 Juta Dosis Vaksin yang Disuntikkan, Indonesia Nomor 4 di Dunia

Jokowi: Sudah 297,5 Juta Dosis Vaksin yang Disuntikkan, Indonesia Nomor 4 di Dunia

Nasional
Kasus Wali Kota Bekasi, KPK Panggil Sekda hingga Ajudan Rahmat Effendi

Kasus Wali Kota Bekasi, KPK Panggil Sekda hingga Ajudan Rahmat Effendi

Nasional
GFP: Militer Indonesia Terkuat Ke-15 di Dunia, di Atas Australia hingga Israel

GFP: Militer Indonesia Terkuat Ke-15 di Dunia, di Atas Australia hingga Israel

Nasional
Waspada Lonjakan Omicron, Imbauan Kembali WFH hingga Tunda Perjalanan Luar Negeri

Waspada Lonjakan Omicron, Imbauan Kembali WFH hingga Tunda Perjalanan Luar Negeri

Nasional
Jumlah Kematian Akibat Covid-19 Meningkat 29,03 Persen dalam 2 Minggu Terakhir

Jumlah Kematian Akibat Covid-19 Meningkat 29,03 Persen dalam 2 Minggu Terakhir

Nasional
Kemendagri: Sebar Dokumen Kependudukan Tanpa Hak, Terancam 10 Tahun Penjara dan Denda Rp 1 Miliar

Kemendagri: Sebar Dokumen Kependudukan Tanpa Hak, Terancam 10 Tahun Penjara dan Denda Rp 1 Miliar

Nasional
Sejumlah Anggota 'Tim Advance' Umrah Positif Omicron Sepulang dari Saudi

Sejumlah Anggota "Tim Advance" Umrah Positif Omicron Sepulang dari Saudi

Nasional
Taspen Life Tegaskan Penyidikan Dugaan Korupsi di Kejagung Tak Terkait Perusahaan Induk

Taspen Life Tegaskan Penyidikan Dugaan Korupsi di Kejagung Tak Terkait Perusahaan Induk

Nasional
Pemerintah Hentikan Sementara Pemberangkatan Umrah

Pemerintah Hentikan Sementara Pemberangkatan Umrah

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.