Universalisme Sepak Bola

Kompas.com - 24/06/2008, 06:07 WIB
Editor

oleh Sindhunata

Akhirnya sportlah yang menang! Itulah kata-kata bijak yang pernah diucapkan Guus Hiddink. Kata-kata ini seakan sebuah ramalan. Rusia adalah underdog. Namun, jika mereka dapat bermain bola dengan cemerlang, akhirnya merekalah yang menang. Sebaliknya, betapapun Belanda bertabur bintang, jika bermain dengan jelek, mereka pun terusir pulang.

Bagi Hiddink, bola sebagai sport memang berdiri di atas segalanya. Di atas nasib, bahkan di atas nasionalisme. Siapa ingin menang karena percaya kepada nasib atau keberuntungan, ia akan ditekuk oleh mereka yang memainkan bola dengan gemilang.

Sport menuntut profesionalisme dan fairness total. Dan Hiddink rela disebut pengkhianat kepada negaranya, Belanda, jika itu dilakukannya demi nilai profesionalisme dan fairness yang dituntut oleh sport.

Belakangan Hiddink menarik kembali kata pengkhianat itu. ”Pengkhianat adalah kata yang jelek. Kata itu tidak ada dalam kamus saya. Pers yang melontarkan kata itu, dan saya terperangkap, lalu keluarlah kata pengkhianat itu dari mulut saya,” katanya.

Apa pun halnya, pendirian Hiddink kiranya sesuai dengan prinsip bahwa profesionalisme, fairness, dan sportivitas adalah nilai-nilai universal yang tidak boleh dikorbankan dalam situasi apa pun, termasuk ketika seorang dituntut untuk berempati kepada nasib bangsanya.

Nilai-nilai universal itu tak pernah menghancurkan nasionalisme. Nilai-nilai itu malah mengembangkan dan membuat nasionalisme lebih terbuka dan dewasa. Dari kasus ”pengkhianatan Hiddink”, kiranya kita boleh menarik paralel untuk memahami nasionalisme politik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Nasionalisme yang dewasa adalah nasionalisme yang terbuka, khususnya terhadap tuntutan hak-hak asasi yang universal. Kita akan membuat nasionalisme kita kerdil dan kekanak-kanakan jika demi nasionalisme kita ”mengkhianati” tuntutan hak asasi yang universal.

Ke Rusia sendiri, Hiddink membawa nilai-nilai sepak bola yang sebelumnya tidak ada di sana. Anehnya, nilai-nilai dari luar itu tidak meniadakan sepak bola Rusia, tetapi malah memberi wajah nasional bagi persepakbolaan di sana.

Asisten Hiddink, Igor Kornejev, bilang, ”Guus telah mengubah pikiran dunia sepak bola Rusia.” Sebelumnya, para pemain Rusia tidak mempunyai respek terhadap kesebelasan nasional. Mereka lebih mencintai klub-klub mereka sendiri. ”Organisasi sepak bola nasional kacau-balau. Sekarang iklimnya berubah. Para pemain suka bermain untuk kesebelasan nasional,” kata Kornejev.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.