Ulasan Sindhunata: Kenangan akan Cordoba

Kompas.com - 16/06/2008, 04:23 WIB
Editor

Tahun 1978 di Stadion Cordoba. Waktu itu Josef Hickersberger, Hans Krankl, dan timnya membela Austria menghadapi Jerman Barat pada babak kedua Piala Dunia di Argentina. Pertandingan ini memang tidak menentukan bagi Austria. Menang atau kalah, mereka tersingkir.

Toh Austria memberikan perlawanan mati-matian. Semula perlawanan ini kelihatan sia-sia. Gawang mereka jebol oleh Karl-Heinz Rummenige. Untung, Berti Vogts melakukan gol bunuh diri. Skor jadi 1-1. Krankl berhasil menambah kemenangan Austria, tetapi tak lama kemudian pemain Jerman, Bernd Hoelzenbein, berhasil menyamakan kedudukan, 2-2. Pertandingan tinggal dua menit, dan gawang Sepp Maier pun jebol oleh tembakan Krankl. Skor 3-2 untuk Austria.

Kegembiraan meledak sampai ke seluruh pelosok Austria. Sampai saat ini warga Austria masih mengingat suara penyiar radio Edi Finger yang melaporkan terjadinya gol itu dari pinggir lapangan: ”Krankl datang, ia menusuk ke daerah berbahaya… dan ia menembak… Goool, gool, gool, gool! Luar biasa, saya seakan gila rasanya. Krankl menembak, dan 3-2 untuk Austria, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, mari kita berpeluk-pelukan gembira….” Suara itu kemudian diputar berulang-ulang dan diperdengarkan di mana-mana.

Cordoba 1978 telah menjadi peristiwa bersejarah bagi rakyat Austria. Gol Helmut Krankl dikenang bukan hanya sebagai kemenangan sepak bola, tetapi juga peristiwa yang mengembalikan harkat diri Austria. Austria memang mengakui kehebatan negara Jerman. Namun, di balik kekaguman ini tersembunyi perasaan minder. Gol di Cordoba telah melepaskan mereka dari perasaan rendah diri itu.

Menjelang pertandingan melawan Jerman, Cordoba pun terdengar kembali di kota-kota Austria. Peristiwa 21 Juni 1978 di Cordoba mengisi hampir semua koran mereka. Di kafe-kafe, di stasiun kereta, di rumah-rumah makan, orang tak bisa diam tentang Cordoba. Cordoba menjadi slogan perjuangan.

Bagi warga Austria, Cordoba berarti ”Kami bisa menembak mati Jerman”. Sekarang pun di lorong-lorong kota Vienna orang meneriakkan slogan, ”Jerman, Jerman, bagimu semuanya telah berlalu, Vienna akan jadi Cordoba, schallalala.”

Tak hanya warga biasa, pemain-pemain Austria juga di- hantui peristiwa Cordoba. ”Cordoba adalah bagian dari sejarah kami. Sebagai pemain-pemain muda, kami juga ingin menciptakan sendiri sebuah Cordoba,” kata kapten kesebelasan Austria, Andreas Ivanschitz.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemain depan Roland Linz tak kalah bersemangat, ”Setelah Cordoba, sekarang kami akan membuat sensasi di Vienna.”

Dan rekannya, Emanuel Pogatez, menambahkan, ”Ini adalah kesempatan dalam hidup kami. Kami dapat menulis sejarah kami sendiri tentang Cordoba.”

Jika para pemain sedang dilanda histeria Cordoba, tidak demikian halnya dengan Hickersberger. Pelatih Austria ini justru khawatir, histeria itu bisa membuat pemain Austria lupa diri. ”Austria adalah negara merdeka. Kita tidak butuh pembebasan,” katanya. ”Cordoba tak punya peran apa-apa dalam pertandingan kita nanti.”

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.