Ulasan Sindhunata: Virus Oranje

Kompas.com - 13/06/2008, 05:24 WIB
Editor

Semula kesebelasan Belanda bukanlah favorit. Predikat ini sungguh pahit. Sebab selama 20 tahun terakhir percaturan bola internasional, baru kali ini kesebelasan ”Oranje” tak menduduki tempat unggulan.

Prediksi ini sekarang berbalik 180 derajat. Setelah menggulingkan juara dunia Italia, 3-0, Belanda mendadak difavoritkan ke final. Tidak hanya itu, anak-anak asuhan Marco van Basten juga dipuji sebagai kesebelasan yang telah mempertontonkan apa sesungguhnya sepak bola modern.

Ada cukup alasan mengapa semula Belanda tidak difavoritkan. Dalam kancah sepak bola Eropa, pemain-pemain Belanda tak banyak memberi harapan. Kalaupun ada, pemain yang dipandang hebat paling-paling hanya Ruud van Nistelrooy dan Edwin van der Sar. Atau di bawah mereka adalah Robin van Persie dan Wesley Sneijder.

Bahkan dua pemain tangguh, Clarence Seedorf dari AC Milan dan Mark van Bommel dari Bayern Muenchen, menolak bergabung. Pers menganggap absennya kedua pemain itu sebagai kegagalan diplomasi Van Basten menggaet pemain-pemain potensial Belanda.

Ini masih ditambah cedera yang menghantui kesebelasan Oranje. Karena cedera, Ryan Babel dari Liverpool terpaksa harus absen total dari turnamen. Arjen Robben tiba-tiba juga cedera. Sementara Robin van Persie belum total sembuh.

Melawan Italia, Belanda mesti siap menelan pil pahit. Begitu suara pesimistis dari sementara pengamat bola di Belanda. Ramalan ini 100 persen meleset. Justru Belanda yang hampir tidak memberi kesempatan bernapas bagi Italia. Permainan Belanda seakan memojokkan Italia menjadi seperti mesin tua yang tak berfungsi lagi.

La nottata più nera, malam tergelap bagi ”Squadra Azzurra”, begitu tulis koran La Gazzetta dello Sport. Belanda telah mencemplungkan Italia dalam malam tanpa harapan. Sebaliknya, malam tanpa harapan bagi Italia itu adalah malam terang dan membebaskan bagi Belanda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sudah lama Belanda belum pernah menang melawan Italia. Terakhir mereka menang lawan Italia, 2-1, saat bermain di Piala Dunia 1978 di Argentina. Bayangkan, 30 tahun lamanya mereka harus menanti. Baru sekarang, dalam Piala Eropa 2008 ini, Belanda dapat merasakan buah penantian mereka.

Maka pantas, begitu gol Van Nistelrooy mengoyak gawang Gianluigi Buffon, permainan Belanda tiba-tiba menjadi serba tak terduga. Seakan sebuah tanggul telah jebol, dan permainan mereka pun mengalir seperti air bah. Ya, seakan roh kemenangan 30 tahun lalu di Argentina mendadak menaungi mereka, dan gawang Italia pun ambrol lagi dengan gol-gol indah dari Wesley Sneijder dan Giovanni van Bronckhorst.

Pemain-pemain Belanda juga tak membayangkan bahwa mereka bisa bermain begitu dahsyat. ”Sungguh suatu mimpi. Rasanya tak bisa kami bermain bola lebih baik daripada permainan kami melawan Italia itu,” kata Rafael van der Vaart.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.