Tuah Pahoe, Etos Kerja Tinggi Hingga Hari Terakhir - Kompas.com

Tuah Pahoe, Etos Kerja Tinggi Hingga Hari Terakhir

Kompas.com - 29/05/2008, 12:41 WIB


RAUT sendu membayang di wajah Ahim Rusam ketika menceritakan kesannya terhadap almarhum Tuah Pahoe, Walikota Palangkaraya, yang meninggal di Rumah Sakit Dr Doris Sylvanus Palangkaraya, Kamis (29/5) sekitar pukul 06.30. Ahim Rusam adalah kakak ipar almarhum Tuah Pahoe.

"Adik ipar saya itu adalah sosok orang beretos kerja tinggi, seringkali sejak jam setengah tujuh pagi pun sudah ada di kantor, " kata Ahim, ditemui di rumah duka.

Setelah pulang sebentar ke rumah pada pukul 15.00, Tuah pun seringkali langsung berangkat lagi ke suatu acara yang harus dihadirinya.

Setiba di rumah pada petang atau malam haripun sering sudah banyak tamu yang menunggu Tuah. Tuah pun menerima para tamunya hingga larut malam. Hari-hari kerja yang penuh kesibukan ini acap dijalani Tuah selama menjabat sebagai Walikota Palangkaraya selama empat tahun delapan bulan.

Bahkan, kata Ahim, pada hari-hari terakhirnya saat terbaring sakit pun Tuah selalu menanyakan perkembangan tugas kepada para staf yang datang membesuknya. "Komitmennya terhadap tugas terbukti dari keberhasilan selama memimpin Palangkaraya," kata Ahim.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kota Palangkaraya, Guntur Talajan, mengisahkan pengalamannya saat mendampingi Tuah Pahoe menerima Satya Lencana bidang Perkoperasian dari Presiden Indonesia, di Denpasar, Bali, akhir tahun 2007.

"Saat itu beliau minta saya mencarikan foto saat beliau bersalaman dengan Presiden. Akhirnya foto itu kami dapatkan dari Humas Kepresidenan," kata Guntur yang tengah duduk di bawah tenda yang dipasang di rumah duka, Jalan Imam Bonjol Palangkaraya.

Tuah Pahoe lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada 28 Mei 1954. Tuah Pahoe meninggal dunia setelah sempat sakit selama beberapa bulan. Dia meninggal satu hari setelah ulang tahunnya yang ke 54.

Dia meninggalkan satu isteri, yakni Theresia MG. "Beliau memiliki dua anak, yakni Rio dan Nia, yang berada di Australia . Rio diperkirakan sampai di Palangkaraya malam nanti, sedangkan Nia besok," kata Yustus Mantir Pahoe, adik kandung Tuah.

Yustus menuturkan, menurut dokter, Tuah ada komplikasi, dan selama sekitar dua bulan sakit parah.

Tuah sempat dirawat di RS Siloam, Karawaci, RS Pusat Pertamina, RS Dharmais, dan RS Doris Sylvanus di Palangkaraya.

Begitu kabar meninggalnya Tuah tersebar, ruas jalan di depan rumah duka langsung dipenuhi kendaraan, baik roda empat maupun dua. Para pejabat dan kerabat melayat ke rumah duka.

Sekitar pukul 08.40, jenazah Tuah Pahoe tiba di rumah duka. Kebaktian menyambut je nasah pun dilangsungkan. Wakil Walikota Palangkaraya, Saily Mochtar, mengimbau seluruh warga dan kantor pemerintah di lingkup Pemerintah Kota Palangkaraya mengibarkan bendera setengah t iang untuk menghormati almarhum, mulai hari Kamis ini hingga empat hari mendatang.

Tuah yang menggemari catur dan golf ini menempuh pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di Palangkaraya, yakni di SD Negeri Palangkaraya (1966), SMP (1969), SMA (1972). Tuah kuliah di IPB Bogor Jurusan Kehutanan.

Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, yang datang melayat bersama istri, Moenartining Teras Narang, mengungkapkan bahwa dengan meninggalnya Tuah Pahoe ini Kalteng kehilangan salah satu pu tra terbaiknya.

"Tapi saya yakin, akan muncul Tuah-Tuah baru yang akan membangun Palangkaraya dan Kalteng," kata Teras.        

 

 

 

 

 


Editor

Close Ads X