Metamorfosis Lilik Sudarwati - Kompas.com

Metamorfosis Lilik Sudarwati

Kompas.com - 11/05/2008, 01:46 WIB

Budi Suwarna

Dunia Lilik Sudarwati (37) adalah bulu tangkis. Ketika dia meninggalkan bulu tangkis dan masuk ke kampus, Lilik merasa dirinya seperti ”alien”.

Siapakah Lilik? Dia adalah atlet bulu tangkis seangkatan Susy Susanti, Ardi B Wiranata, Alan Budikusuma, dan Ricky Subagja. Namanya memang tidak sekinclong Susy, tetapi prestasi Lilik tidak bisa dianggap remeh. Dia adalah Juara Dunia Ganda Putri (bersama Susy) dan Ganda Campuran (bersama Ricky) tahun 1987-1988. Selain itu, dia juga anggota Tim Uber 1988-1990.

”Itu masa-masa yang manis. Ketika itu, orang-orang membicarakan kami,” kenang Lilik di Kantor PBSI di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (6/5).

Kini Lilik telah bermetamorfosis dari atlet menjadi seorang akademisi. Kerjanya tidak lagi menepok shuttle cock, melainkan membaca dan menulis buku.

Saat ini dia tercatat sebagai mahasiswa Program Pascasarjana Psikologi Klinis Anak Universitas Tarumanegara, Jakarta. Tahun lalu, dia menyelesaikan studinya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Dia juga menandai jejaknya di dunia akademis dengan menulis buku berjudul Mental Juara Modal Atlet Berprestasi yang diluncurkan pekan lalu.

”Saya sekarang haus pengetahuan. Saya ingin terus belajar dan menjadi psikolog profesional,” ujar Lilik yang sosoknya mirip psikolog Tika Bisono.

Lilik mungkin atlet yang cukup langka. Dia adalah salah seorang dari sedikit atlet Indonesia yang memiliki pendidikan tinggi. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan bahkan telah muncul semasa dia sedang sibuk-sibuknya sebagai atlet.

Ketika atlet lain menggunakan uang hadiah yang mereka peroleh untuk membeli mobil, rumah, dan menabungnya untuk modal usaha, Lilik menyimpannya untuk biaya kuliah. Tahun 1993, Lilik memutuskan keluar dari pelatnas dan pergi kuliah ke AS. Dia mengambil kuliah singkat di Community College dan Colorado State University.

”Alien”

Kampus rupanya dunia yang benar-benar asing bagi Lilik. Maklum, dia cukup lama hidup di pelatnas hingga membuatnya kuper. ”Saya benar-benar merasa seperti alien. Setiap hari saya ’nangis bombay’ karena otak rasanya nggak bisa jalan,” ujarnya.

Suatu ketika, dosennya untuk mata kuliah statistik bertanya: apa kamu mengerti pelajaran ini? Saya jawab, I don’t understand at all, ha-ha-ha,” tutur Lilik.

Lilik menggambarkan, usahanya untuk mengerti pelajaran yang diberikan dosen jauh lebih menegangkan daripada pertarungannya di lapangan bulu tangkis. Namun, Lilik merasa usahanya berhasil.

Sayangnya, ketika Lilik mulai bisa mengikuti perkuliahan, petaka datang. Dia kehabisan dana untuk melanjutkan kuliah. Dia pun memilih pulang ke Indonesia tahun 1995. Namun, dia tidak terlalu sedih karena dia pulang sambil membawa calon suami, Wiku Adisasmita, yang dikenalnya selama di AS.

Tahun 2002, Lilik kuliah lagi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Seperti ketika kuliah di AS, kehidupan Kampus UI juga membuatnya merasa sebagai alien. ”Otak saya rasanya beku. Karena itu, di semester-semester awal nilai saya kebanyakan rantai C,” katanya.

Lewat pertarungan panjang—kalau dalam bulu tangkis mungkin menjalani rubber set—Lilik berhasil merampungkan kuliahnya di UI tahun 2007.

Manusia baru

Setelah meninggalkan bulu tangkis, Lilik merasa seperti kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong. Seekor kupu-kupu yang selalu haus untuk mengenal dunia. ”Saya merasa menjadi manusia baru. Saya sekarang memiliki banyak perspektif,” tambahnya.

Maklum jika Lilik merasa seperti itu. Sejak usia 11 tahun, hidupnya dihabiskan di lapangan bulu tangkis. Ketika usianya 16 tahun, perempuan asal Krikilan, Gresik, Jawa Timur, ini masuk pelatnas dan tinggal di asrama selama tujuh tahun. Bisa ditebak, kegiatan Lilik melulu latihan, bertanding, dan sekolah.

Bagaimana dengan pacaran? Lilik tersenyum ketika mendengar pertanyaan itu. ”Waktu latihan di Klub Surya Naga, Surabaya, pelatih melarang keras kami pacaran. Orangtua saya juga tidak melarang,” kata Lilik.

Kegiatan yang monoton sebagai atlet, lanjut Lilik, kadang membuatnya jenuh dan suntuk. ”Penghiburnya hanya teman-teman sesama pebulu tangkis,” kata Lilik.

Menyesalkah Lilik? ”Tidak, saya malah merasa berutang pada bulu tangkis. Saya mendapat banyak pelajaran disiplin, tanggung jawab, bahkan sopan santun. Saya ingin membalasnya dengan memajukan bulu tangkis,” ujarnya.

Penerbitan buku Mental Juara adalah bagian dari balas budi Lilik pada bulu tangkis. Selain itu, sejak tahun lalu, dia menjadi Sekjen Super Liga Badminton. ”Ini tantangan baru lagi buat saya,” katanya.

Ah Lilik, buatlah pemain bulu tangkis Indonesia lainnya bisa bermetamorfosis seperti kamu.


Editor

Close Ads X