Bintang Kejora Berkibar, Wartawan Dipanggil Polisi

Kompas.com - 04/05/2008, 08:32 WIB
Editor

JAYAPURA, MINGGU - Polresta Jayapura memberikan surat panggilan kepada wartawan TransTV di Jayapura, Chanry Andrew Suripati terkait pengibaran bendera bintang kejora di tiang bendera kantor Kelurahan Yabansay Distrik Harem. Mereka ingin meminta informasi pelaku pengibaran bendera yang dinilai lambang separatis itu berkibar pagi hari, tepat saat momen peringatan 1 Mei sebagai hari kembalinya Irian Barat ke Indonesia.

"Nanti ada wartawan dipanggil untuk ungkap pelaku (pengibaran bintang kejora). Kemarin sudah ada pemeriksaan lima saksi. Senin baru ada penambahan saksi. Kalau wartawan tahu, lalu tidak laporkan ke pihak berwajib itu kesalahan," ujar Ajun Komisaris Besar Robert Djoenso, Kepala Polresta Jayapura, Sabtu (3/5),usai peringatan 1 Mei di Lapangan Mandala Jayapura Provinsi Papua.

Ketika ditanya apakah pemeriksaan terhadap wartawan ini tidak berseberangan dengan UU Pers, ia menjawab kejelasan hal itu akan dilihat Senin besok. Ia pun menegaskan kembali pemeriksaan wartawan TransTV untuk mengetahui identitas pelaku. Ia mengaku hingga kemarin belum menemukan tersangka.

Polisi pun belum menerima kabar pihak yang mengaku bertanggung-jawab terhadap perisiwa itu. Sementara itu, Chanry Suripati menjelaskan Rabu malam sebelum kejadian dirinya bersama wartawan lain siaga meliput untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi peristiwa.

"Kita semua tahu pada tanggal 1 Desember dan 1 Mei biasanya terjadi peristiwa pngibaran bendera. Saya sebagai wartawan harus memantau kondisi, siapa tahu terjadi peristiwa itu," ujar pria bertubuh gempal ini.

Kamis pagi buta, pukul 01.35, ia menerima pesan singkat  (SMS) melalui ponselnya, berisi "Sdh final. Kejora brkibar di tiang bndra rektorat uncen waena dan kantor distrik heram waena.Tq".

Kemudian, ia beserta empat wartawan serta kamerawanTOPTV Jayapura dan Metro Papua TV mengecek kebenarannya. Mula-mula, ia menuju Kantor Distrik Heram depan Korem 172 dan tidak menjumpai ada bendera berkibar. Kemudian, ia melanjukan pengecekan ke Rektorat Universitas Cenderawasih. S

ekitar 500 meter sebelum sampai di gerbang masuk Uncen, ia melihat bintang kejora sudah berkibar di tiang bendera Kantor Kelurahan Yabansay. Selain empat wartawan dan kameramen TopTV dan Metro Papua TV, ia tidak melihat siapapun di situ. Lalu, kelima orang itu menuju kampus Uncen.

"Di pintu gerbang masuk Uncen, saya bertemu seseorang yang tidak saya kenal. Ia bilang sekuriti dan polisi sedang naik ke rektorat untukturunkan barang (bendera bintang kejora) itu," ujar Chanry. Ia memutuskan tidak melanjutkan perjalanan ke kantor rektorat dan kembali ke rumah.

Beberapa waktu kemudian, sekitar pukul 06.20, ia kembali ke kantor lurah dan menjumpai polisi sedang menurunkan bendera kejora di tempat itu. Ihwal tudingan pejabat TNI Jayapura (seperi dilansir koran setempat) bahwa ada wartawan yang menjual gambar ke media lain, Chanry mengaku tidak melakukannya.

"Saya tidak pernah menjual karya jurnalistik saya. Gambar hanya saya kirim ke TransTV," ujar dia. Surat panggilan telah diterima semalam. TransTV pun menerima surat polresta untuk membantu menghadirkan Chanry ke kantor polisi. Ia mengatakan permasalahan ini telah diberitahukan dan menyerahkan penanganannya ke TransTV Jakarta. (ich)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 25 Januari: Tambah 10.678 Orang, Jumlah Pasien Covid-19 Sembuh Tembus Rekor

UPDATE 25 Januari: Tambah 10.678 Orang, Jumlah Pasien Covid-19 Sembuh Tembus Rekor

Nasional
Mengenal Pam Swakarsa yang Ingin Dihidupkan Kembali oleh Listyo Sigit

Mengenal Pam Swakarsa yang Ingin Dihidupkan Kembali oleh Listyo Sigit

Nasional
426 Juta Dosis Vaksin Sudah Dipesan, Jokowi Perintahkan Vaksinasi Covid-19 Selesai Sebelum 2021

426 Juta Dosis Vaksin Sudah Dipesan, Jokowi Perintahkan Vaksinasi Covid-19 Selesai Sebelum 2021

Nasional
UPDATE:  Kasus Covid-19 Indonesia Capai 999.256, Ada Penambahan 9.994

UPDATE: Kasus Covid-19 Indonesia Capai 999.256, Ada Penambahan 9.994

Nasional
Hunian RS Darurat Wisma Atlet Terisi 77,63 persen

Hunian RS Darurat Wisma Atlet Terisi 77,63 persen

Nasional
Prediksi BKKBN, 7 Juta Bayi Berpotensi Stunting pada 2024

Prediksi BKKBN, 7 Juta Bayi Berpotensi Stunting pada 2024

Nasional
Jaksa Minta Majelis Hakim Tolak Pleidoi Pinangki dan Kuasa Hukumnya

Jaksa Minta Majelis Hakim Tolak Pleidoi Pinangki dan Kuasa Hukumnya

Nasional
Menko PMK: 54 Persen Angkatan Kerja di Indonesia Penyintas Stunting

Menko PMK: 54 Persen Angkatan Kerja di Indonesia Penyintas Stunting

Nasional
Jokowi Ajak Umat Kristen Edukasi Masyarakat soal Vaksinasi Covid-19

Jokowi Ajak Umat Kristen Edukasi Masyarakat soal Vaksinasi Covid-19

Nasional
Soal Opsi Vaksinasi Covid-19 Mandiri, Anggota DPR: Harus Diatur Ketat agar Tak Timbulkan Ketidakadilan Sosial

Soal Opsi Vaksinasi Covid-19 Mandiri, Anggota DPR: Harus Diatur Ketat agar Tak Timbulkan Ketidakadilan Sosial

Nasional
Mantan Direktur Garuda Indonesia Didakwa Tindak Pidana Pencucian Uang

Mantan Direktur Garuda Indonesia Didakwa Tindak Pidana Pencucian Uang

Nasional
Zulkifli Hasan: Revisi UU Pemilu Belum Saatnya Dilakukan

Zulkifli Hasan: Revisi UU Pemilu Belum Saatnya Dilakukan

Nasional
Jokowi Minta Angka Stunting Diturunkan Jadi 14 Persen pada 2024

Jokowi Minta Angka Stunting Diturunkan Jadi 14 Persen pada 2024

Nasional
Angka Stunting Tinggi, Jokowi Minta Semua Daerah Beri Perhatian

Angka Stunting Tinggi, Jokowi Minta Semua Daerah Beri Perhatian

Nasional
LaporCovid-19 Terima 34 Laporan Kasus Pasien Ditolak Rumah Sakit karena Penuh

LaporCovid-19 Terima 34 Laporan Kasus Pasien Ditolak Rumah Sakit karena Penuh

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X