Septi, Prestasi Bermula dari Sepuluh Jari

Kompas.com - 18/04/2008, 01:04 WIB
Editor

INDIRA PERMANASARI

Dengan jemarinya, Septi Peni Wulandani menghalau ketakutan anak-anak mempelajari Matematika. Lebih dari itu, dia menyentuh kehidupan banyak perempuan dan mengubah jalan mereka. Semua berawal dari sepuluh jari.

Kisah Septi bermula dari kecintaannya terhadap anak-anak dan keinginan untuk mendidik mereka. Septi pun melepaskan kesempatan menjadi pegawai negeri sipil Departemen Kesehatan tahun 1995, dengan penempatan di Semarang, demi menjadi ibu rumah tangga.

Ketiga anaknya, Nurul Syahid Kusuma (11), Kusuma Dyah Sekararum (10), dan Elan Jihad Mohammad (5), mendapat didikan langsung dari Septi di rumah alias ber-homeschooling. Salah satu tantangan Septi adalah mengajari anak berhitung alias Matematika, materi yang selama ini dianggap ”menakutkan”.

Enes (panggilan untuk Nurul) pernah mengikuti kursus sempoa atau swipoa, metode berhitung menggunakan alat tradisional Tionghoa. ”Tetapi Enes tidak menikmati kursusnya,” kata Septi.

Enes memang lebih cepat menguasai materi. Pada umur dua tahun ia sudah pandai membaca dengan metode Abacabaca atau belajar membaca dengan merangkai suku kata (bukan huruf seperti umumnya) yang dibuat Septi.

Swipoa juga kerap rusak lantaran dijadikan mainan. Waktu itu Enes berusia tiga tahun. ”Saya lantas berpikir untuk ikut kursus, kemudian mengajari Enes,” ujar Septi yang lalu mengikuti kursus swipoa.

Berbekal pengetahuan dari kursus itu, Septi berupaya menciptakan metode yang disukai anaknya. Ia melihat Enes suka memainkan jemari. Dia lalu berpikir mengapa tidak jari-jari tangan diaktifkan kembali dan dimaksimalkan untuk menguasai pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Dengan imajinasinya, Septi memindahkan bidak swipoa ke jari-jari tangan.

Tangan kanan diibaratkan tangan satuan dan tangan kiri sebagai tangan puluhan. Metode itu terus dikembangkan hingga mencapai angka ratusan dan ribuan, dengan menggunakan biku-biku jari. Selama 2000-2003 metode ciptaan Septi itu dipraktikkan kepada Enes, yang ternyata sangat menyukainya. Metode itu kemudian dinamai Jarimatika singkatan dari jari dan matematika.

”Aplikasinya mudah sehingga dapat menjadi jembatan pertama anak memasuki dunia matematika yang dianggap sukar dan sering membuat minder. Kalau anak sudah percaya diri, mata pelajaran lain akan berkembang baik,” kata istri Dodik Mariyanto itu. Metode pembelajarannya dikemas menyerupai permainan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X