Jangan Mengandalkan Kesuksesan Lewat Jajak Pendapat

Kompas.com - 10/04/2008, 14:51 WIB
Editor

SURABAYA, KAMIS-Kandidat kepala daerah yang akan bertarung pada Pilkada, sebaiknya tidak mengandalkan kesuksesan, berdasarkan hasil riset atau jajak pendapat. Termasuk tidak menjadikan hasil riset sebagai indikator popularitas, karena justru akan menjadi bumerang.

Demikian diungkap Prof Hotman Siahaan dari Lembaga Studi Perubahan Sosial, pada publik bicara yang digelar Harian Kompas , Radio Sonora dan FISIP Universitas Airlangga di Surabaya, Kamis (10/4). Pembicara lain pada acara dengan tema "Efektivitas Lembaga Riset Pada Pemilihan Gubernur" yakni Kresnayana Yahya (Pakar Statistik ITS ), Aribowo (Pusat Studi Demokra si dan HAM) dan Edy Hery (Wong Independen).

Hotman mengungkapkan, hasil lembaga riset pada Pilkada positif untuk strategi, dan menjadi rasional sebagai upaya pemenangan. Jadi hasil riset bermanfaat bagi tim kampanye, bukan untuk mengukur calon pemilih saat Pilkada. ebab kata Hotman, popularitas calon belum menjamin bisa terpilih kelak.

Berdasarkan pengalaman, mekanisme jajak pendapat yang sekarang banyak dilakukan, perlu dipertanyakan, terutama yang melalui telepon. Kegiatan jajak pendapat lewat telepon rawan dimanipulasi karena tingkat kesalahan atau margin error relatif tinggi .

Sementara Kresnayana Yahya mengatakan, saat ini hampir semua pasangan calon gubernur Jawa Timur, secara rutin sudah bisa mengikuti hasil riset berbagai lembaga, terutama menyangkut popularitas. Padahal, bsecara akademisi, efektivitas penelitian cenderung kurang akurat.

Dia menambahkan, paling berpengaruh dalam Pilkada, bukan soal penelitian, tetapi politik uang. "alon yang memberikan sesuatu, akan paling diingat atau yang sering disebut-sebut namanya. Ironisnya jawaban hari ini bisa beda dengan besok," katanya.

Dengan situasi calon yang terus berubah dan berkembang, kata Kresnayana, hasil riset serta responden pun perlu berubah. "palagi kalau hasil riset dipakai untuk menyusun startegi pemenangan Pilkada. Hasil riset enam bulan lalu, pasti sudah sangat berubah dengan situasi sekarang, bahkan dalam waktu enam minggu saja bisa berubah total," jarnya.(ETA)   

 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.