Salin Artikel

Dukung Ketahanan Air, Pemerintah Targetkan Penyelesaian 259 Bendungan pada 2026

KOMPAS.com – Pemerintah menargetkan swasembada pangan dan mendorong penerapan energi baru terbarukan (EBT) pada 2028. Salah satu infrastruktur sumber daya air yang dapat mendukung target tersebut adalah bendungan.

Wakil Menteri (Wamen) Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti menyampaikan bahwa pemerintah juga menargetkan Indeks Ketahanan Air Indonesia agar dapat mencapai 200 m³/kapita/tahun dengan sebaran yang merata.

Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan acara Indonesian National Committee on Large Dams (INACOLD) atau Komite Nasional Indonesia-Bendungan Besar (KNI-BB) bertajuk “Inovasi dan Tantangan dalam Pemilihan Tipe Bendungan untuk Masa Depan” di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (16/11/2024).

“Pembangunan bendungan merupakan salah satu upaya menuju swasembada pangan melalui layanan irigasi seluas 1.271.415 hektar, swasembada energi melalui penambahan energi listrik sebanyak 15.627,83 megawatt (MW), dan ketahanan air sebanyak 59,59 meter kubik per kapita per tahun,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (5/12/2024).

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah telah membangun 234 bendungan. Sebanyak 187 bendungan terbangun hingga 2014, dilanjutkan 47 bendungan pada periode 2015-2024, dan 14 bendungan ongoing yang ditargetkan selesai paling lambat pada 2026.

Selain itu, terdapat juga 11 bendungan baru yang dibangun sejak 2021. Sehingga, total bendungan yang dibangun pemerintah adalah 259 bendungan.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Beny Suharsono mengatakan bahwa bendungan tidak hanya memasok air untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi perlindungan dari banjir dan sumber energi yang terbarukan.

“Ia (bendungan) menahan dan mengatur aliran kehidupan, menghadirkan manfaat yang luar biasa bagi masyarakat di sekitar,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum INACOLD KNI-BB Adenan Rasyid berharap, acara INACOLD KNI-BB dapat menjadi perantara untuk berbagi ilmu pengetahuan terkait bendungan bagi generasi muda melalui Young Engineers Forum. 

“Kami akan memastikan pengetahuan tentang bendungan ini berlanjut ke masa depan,” ucapnya.

Perlu diketahui, INACOLD KNI-BB adalah organisasi nirlaba yang mewadahi profesional bendungan yang berinduk pada organisasi International Commission on Large Dams (ICOLD) dan sudah berafiliasi dengan 106 negara.

Sejak 1930, INACOLD telah tercatat sebagai anggota ICOLD dengan jumlah anggota lebih dari 3.000 orang profesional.

Acara tersebut berlangsung pada 15-17 November 2024. Rangkaian acara diawali dengan kunjungan lapangan ke Bendungan Sermo, Kabupaten Kulonprogo, DIY, Jumat (15/11/2024). 

Selanjutnya, workshop dengan narasumber dari Japan International Cooperation Agency (JICA), Korea Water Resources Corporation (K-Water), dan Tsinghua University, Sabtu (16/11/2024).

Adapun acara puncak INACOLD KNI-BB, di antaranya Rapat Anggota Biasa, Rapat Anggota Tahunan, serta Seminar Nasional Bendungan Besar

Acara tersebut diikuti sebanyak 800 peserta yang berasal dari perusahaan, konsultan, kontraktor, profesional, akademisi, komunitas pemerhati bidang sumber daya air, serta pemerintah, baik pusat maupun daerah.

https://nasional.kompas.com/read/2024/12/05/20502701/dukung-ketahanan-air-pemerintah-targetkan-penyelesaian-259-bendungan-pada

Terkini Lainnya

Patuhi PP Tunas, TikTok Nonaktifkan 780.000 Akun Pengguna di Bawah 16 Tahun
Patuhi PP Tunas, TikTok Nonaktifkan 780.000 Akun Pengguna di Bawah 16 Tahun
Nasional
Brigjen Anan Nyaris Gugur saat Operasi di Aceh | Brigade Podcast
Brigjen Anan Nyaris Gugur saat Operasi di Aceh | Brigade Podcast
Nasional
Kasus Kekerasan Seksual FH UI, Kemendiktisaintek Diminta Turun Tangan
Kasus Kekerasan Seksual FH UI, Kemendiktisaintek Diminta Turun Tangan
Nasional
Saksi Sebut Pengadaan Chromebook Capai 98 Persen di Akhir Jabatan Nadiem
Saksi Sebut Pengadaan Chromebook Capai 98 Persen di Akhir Jabatan Nadiem
Nasional
Komdigi Ungkap Tinggal Roblox dan Youtube yang Belum Patuhi PP Tunas soal Batas Usia
Komdigi Ungkap Tinggal Roblox dan Youtube yang Belum Patuhi PP Tunas soal Batas Usia
Nasional
Perkuat Peran dan Fungsi Kehumasan, Polri Gelar Rakernis Humas 2026
Perkuat Peran dan Fungsi Kehumasan, Polri Gelar Rakernis Humas 2026
Nasional
KPK Dalami Dugaan Polisi Terima Fee Rp 16 Miliar Terkait Kasus Suap Proyek Pemkab Bekasi
KPK Dalami Dugaan Polisi Terima Fee Rp 16 Miliar Terkait Kasus Suap Proyek Pemkab Bekasi
Nasional
Kasus 16 Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan, Waka Komisi X: Harus Ditindak Tegas
Kasus 16 Mahasiswa FH UI Pelaku Pelecehan, Waka Komisi X: Harus Ditindak Tegas
Nasional
Komdigi: TikTok Telah Patuhi Aturan PP Tunas soal Pembatasan Usia 16 Tahun
Komdigi: TikTok Telah Patuhi Aturan PP Tunas soal Pembatasan Usia 16 Tahun
Nasional
Faizal Assegaf Laporkan Jubir KPK Soal Pencemaran Nama Baik
Faizal Assegaf Laporkan Jubir KPK Soal Pencemaran Nama Baik
Nasional
Eks Pejabat Sebut Chromebook Era Nadiem Didesain Bisa Diakses Daerah Terpencil
Eks Pejabat Sebut Chromebook Era Nadiem Didesain Bisa Diakses Daerah Terpencil
Nasional
Fakta di Balik Rumor Akses Bebas Ruang Udara untuk AS
Fakta di Balik Rumor Akses Bebas Ruang Udara untuk AS
Nasional
Mengenal MDCP, Kesepakatan Baru Menhan RI dan AS di Bidang Pertahanan
Mengenal MDCP, Kesepakatan Baru Menhan RI dan AS di Bidang Pertahanan
Nasional
Sambil Menangis, Aboe Bakar PKS Minta Maaf Tuding Ulama Terlibat Narkoba di Madura
Sambil Menangis, Aboe Bakar PKS Minta Maaf Tuding Ulama Terlibat Narkoba di Madura
Nasional
Kata KPK soal Sekjen DPR Indra Iskandar Menang Praperadilan dan Status Tersangka Gugur
Kata KPK soal Sekjen DPR Indra Iskandar Menang Praperadilan dan Status Tersangka Gugur
Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com